<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Hipotesa penyebab Jembatan Mahakam ambruk</title><description>Pakar konstruksi dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS)  mempunyai hipotesa jika runtuhnya Jembatan Mahakam I di Kutai  Kertanegara akibat putusnya klem kabel dari jembatan itu. </description><link>https://news.okezone.com/read/2011/11/30/447/536387/hipotesa-penyebab-jembatan-mahakam-ambruk</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/11/30/447/536387/hipotesa-penyebab-jembatan-mahakam-ambruk"/><item><title>Hipotesa penyebab Jembatan Mahakam ambruk</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/11/30/447/536387/hipotesa-penyebab-jembatan-mahakam-ambruk</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/11/30/447/536387/hipotesa-penyebab-jembatan-mahakam-ambruk</guid><pubDate>Rabu 30 November 2011 22:36 WIB</pubDate><dc:creator>Amir Tejo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/11/30/447/536387/Ymi1XeedO4.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/11/30/447/536387/Ymi1XeedO4.jpg</image><title></title></images><description>Sindonews.com - Pakar konstruksi dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) mempunyai hipotesa jika runtuhnya Jembatan Mahakam I di Kutai Kertanegara akibat putusnya klem kabel dari jembatan itu. Atau yang lebih spesifik lagi, pin yang mengunci klem tersebut patah. Hipotesa ini diambil setelah tiga orang pakar konstruksi ITS terjun langsung ke lapangan. Mereka adalah Hidayat Sugiharjo, pakar konstruksi baja, Suwarno pakar mekanika tanah dan Priyo Suprobo, pakar konstruksi.Selama tiga hari mulai Minggu 27 Oktober hingga kemarin, mereka turun lapangan. Selama tiga hari di lokasi itu pula, tim ini mengumpulkan fakta-fakta di lapangan dan melakukan wawancara dengan para saksi yang masih hidup. &quot;Berdasarkan hipotesa, klem ini yang patah. Saat patah itu, menimbulkan daya kejut sehingga membuat klem-klem yang lain juga ikut patah,&quot; kata Ir Priyo Suprobo MS PhD, Rabu (30/11/2011).Hipotesa ini berdasarkan fakta di lapangan jika ternyata kabel-kabel penahan beban tidak putus. Selain itu, beberapa klem juga ditemukan terlempar sejauh 50 meter. Klem itu bisa terlempar sejauh 50 meter menurut Suprobo mengindikasikan jika ada daya kejut. Selain itu, berdasarkan keterangan para saksi menyatakan awal bunyi ledakan juga berasal dari atas. &quot;Namun saya belum yakin, klem di titik mana yang patah. Bisa jadi klem di antara titik 10 sampai dengan 14,&quot; ujar Suprobo yang juga mantan rektor ITS ini.Menurut dia, putusnya klem ini akibat aktivitas pemeliharaan jembatan yang saat itu sedang dilakukan. Dalam aktivitas pemeliharaan jembatan saat itu, sedang dilakukan pendongkrakan dek jembatan.&amp;nbsp; Kata Suprobo, sebelum diperbaiki jembatan ini di bagian dek jembatan atau bagian yang digunakan sebagai jalan raya sudah melendut sekitar 72 cm. Nah, untuk mengatasi pelendutan ini, operator pemeliharaan melakukan pendongkrakan jembatan. Namun sayangnya, pendongkrakan jembatan ini tidak dilakukan secara bertahap. harusnya di semua sisi jembatan juga dipasang dongkrak agar beban bisa terbagi rata. Proses peninggian jembatan pun harusnya dilakukan secara pelan dan bertahap. Nah saat kejadian itu, proses peninggian jembatan sudah berhasil dinaikkan setinggi 15 cm, sedangkan sisi hulu sudah dinaikkan 10 cm. Metode menaikkan jembatan yang tidak dilakukan secara gradual ini yang diduga mengakibatkan tekanan pada kabel tidak kuat menahan beban yang tidak terbagi secara merata. Akibatnya pin pada kabel pun kemudian putus.&quot;Apalagi pada saat pemeliharaan jalan tidak ditutup semuanya. Hanya ditutup satu lajur saja. Ini juga berpotensi menambah beban,&quot; ujar Suprobo.Dia juga membantah jika pada saat kejadian, tidak ada aktivitas pemeliharaan. Pasalnya, berdasarkan keterangan saksi yang berhasil ditemui, mereka menyatakan ada aktivitas pemeliharaan jembatan.Selain itu, timnya menemukan ada kabel yang putus. &quot;Kami menemukan ada kabel jembatan yang putus, sehingga timbul efek domino yang akhirnya menyebabkan jembatan runtuh,&quot; ungkapnya.&amp;nbsp;Namun penyebab putusnya kabel Jembatan Kutai Kartanegara itu, hingga kini belum diketahui. Ada beberapa kesulitan yang dihadapi oleh tim. Di antaranya, hingga kini tim belum mendapatkan bangkai dari jembatan yang putus tersebut. Yang kedua, untuk mengambil bangkai jembatan itu pun ada kesulitan tersendiri.&amp;nbsp;&quot;Kesulitannya karena di bangkai jembatan itu dikhawatirkan masih ada korban. Kami masih harus mempertimbangkan kemungkinan adanya korban tersebut,&quot; ujar Suprobo yang juga mantan rektor ITS Surabaya. Kalau pun bangkai jembatan sudah bisa diambil, itu pun masih memerlukan waktu sekitar sebulan untuk menganilisa penyebab ambruknya jembatan itu.&amp;nbsp;Kata Suprobo yang juga alumni Purdue University AS, peran kabel untuk tipe jembatan gantung (suspension bridge) seperti di Jembatan Kutai Kartanegara ini sangat vital. Karena kabel yang merentangi jembatan ini ditambatkan dengan kuat di kedua belah ujung jembatan. Oleh karena itu sebagian besar beban di atas jembatan akan dipikul oleh tegangan di dalam kabel utama ini.&amp;nbsp;Hal ini berbeda dengan Jembatan Suramadu yang menggunakan teknologi lebih bagus lagi yaitu dengan kabel penahan (cable-stayed bridge).Jembatan model ini ini menggunakan beberapa kabel yang tidak berhubungan yang kemudian menghubungkan jalan dengan menara. Kabel-kabel ini ini diikat dengan tegang dan lurus.&amp;nbsp;Kelebihan jembatan model ini dibanding jembatan gantung adalah tambatan yang kukuh di ujung jembatan untuk menahan tarikan kabel tidak diperlukan.Sementara itu, hasil scanning side scan sonar&amp;nbsp; dari tim BPPT&amp;nbsp; mengindikasikan ada tujuh mobil yang sudah berada di luar kerangka jembatan di dasar sungai dan ada satu mobil terlihat ada di dalam kerangka jembatan. &quot;Pemindaian dengan multibeam echosounder masih disiapkan setup-nya dan besok pagi dioperasikan untuk memperoleh gambaran yang lebih detail,&quot; ucap Kepala Pusat Data BNPB Sutopo Purwo Nugroho.Tim penyelam, lanjut Sutopo, fokus untuk mengeluarkan korban yang ada pada mobil tersebut. &quot;Hari ini sampai pukul 17.00 wita, tim penyelam hanya berhasil mengangkat satu jenazah dari dasar sungai,&quot; ungkapnya.Total korban hingga saat ini 19 orang meninggal dan pencarian dihentikan karena cuaca yang tidak bersahabat. Hujan di hulu sungai mengakibatkan kecepatan arus bawah sungai sangat deras (mencapai 2,9 knot), sehingga masih menyulitkan tim penyelam untuk mengevakuasi korban yang masih di dalam mobil.Sehubungan dengan hal tersebut Kepala Basarnas, kata Sutopo, memutuskan untuk menghentikan operasi penyelaman dilanjutkan besok pagi pukul 06.00 wita dengan harapan arus belum deras.Sutopo Menambahkan, sedangkan floating bags (balon) sebanyak 60 unit sudah siap di atas ponton di lokasi TKP. Kelengkapan lain juga sejak kemaren sudah siap yaitu 10 unit tugboats dan 3 unit ponton besar beserta crane. Semua perlengkapan ini sudah siaga apabila opsi-opsi akan dilakukan. &quot;Direncanakan besok pagi akan dicoba mengangkat 7 unit mobil yang berada diluar kerangka jembatan dengan crane yang sudah siaga di atas ponton, lalu korban di dalam mobil dikeluarkan,&quot; jelasnya.&amp;nbsp; Apabila korban sudah berhasil dikeluarkan, maka baru floating bags digunakan untuk menarik kerangka jembatan ke pinggir sungai, selanjutnya sisa korban dievakuasi.</description><content:encoded>Sindonews.com - Pakar konstruksi dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) mempunyai hipotesa jika runtuhnya Jembatan Mahakam I di Kutai Kertanegara akibat putusnya klem kabel dari jembatan itu. Atau yang lebih spesifik lagi, pin yang mengunci klem tersebut patah. Hipotesa ini diambil setelah tiga orang pakar konstruksi ITS terjun langsung ke lapangan. Mereka adalah Hidayat Sugiharjo, pakar konstruksi baja, Suwarno pakar mekanika tanah dan Priyo Suprobo, pakar konstruksi.Selama tiga hari mulai Minggu 27 Oktober hingga kemarin, mereka turun lapangan. Selama tiga hari di lokasi itu pula, tim ini mengumpulkan fakta-fakta di lapangan dan melakukan wawancara dengan para saksi yang masih hidup. &quot;Berdasarkan hipotesa, klem ini yang patah. Saat patah itu, menimbulkan daya kejut sehingga membuat klem-klem yang lain juga ikut patah,&quot; kata Ir Priyo Suprobo MS PhD, Rabu (30/11/2011).Hipotesa ini berdasarkan fakta di lapangan jika ternyata kabel-kabel penahan beban tidak putus. Selain itu, beberapa klem juga ditemukan terlempar sejauh 50 meter. Klem itu bisa terlempar sejauh 50 meter menurut Suprobo mengindikasikan jika ada daya kejut. Selain itu, berdasarkan keterangan para saksi menyatakan awal bunyi ledakan juga berasal dari atas. &quot;Namun saya belum yakin, klem di titik mana yang patah. Bisa jadi klem di antara titik 10 sampai dengan 14,&quot; ujar Suprobo yang juga mantan rektor ITS ini.Menurut dia, putusnya klem ini akibat aktivitas pemeliharaan jembatan yang saat itu sedang dilakukan. Dalam aktivitas pemeliharaan jembatan saat itu, sedang dilakukan pendongkrakan dek jembatan.&amp;nbsp; Kata Suprobo, sebelum diperbaiki jembatan ini di bagian dek jembatan atau bagian yang digunakan sebagai jalan raya sudah melendut sekitar 72 cm. Nah, untuk mengatasi pelendutan ini, operator pemeliharaan melakukan pendongkrakan jembatan. Namun sayangnya, pendongkrakan jembatan ini tidak dilakukan secara bertahap. harusnya di semua sisi jembatan juga dipasang dongkrak agar beban bisa terbagi rata. Proses peninggian jembatan pun harusnya dilakukan secara pelan dan bertahap. Nah saat kejadian itu, proses peninggian jembatan sudah berhasil dinaikkan setinggi 15 cm, sedangkan sisi hulu sudah dinaikkan 10 cm. Metode menaikkan jembatan yang tidak dilakukan secara gradual ini yang diduga mengakibatkan tekanan pada kabel tidak kuat menahan beban yang tidak terbagi secara merata. Akibatnya pin pada kabel pun kemudian putus.&quot;Apalagi pada saat pemeliharaan jalan tidak ditutup semuanya. Hanya ditutup satu lajur saja. Ini juga berpotensi menambah beban,&quot; ujar Suprobo.Dia juga membantah jika pada saat kejadian, tidak ada aktivitas pemeliharaan. Pasalnya, berdasarkan keterangan saksi yang berhasil ditemui, mereka menyatakan ada aktivitas pemeliharaan jembatan.Selain itu, timnya menemukan ada kabel yang putus. &quot;Kami menemukan ada kabel jembatan yang putus, sehingga timbul efek domino yang akhirnya menyebabkan jembatan runtuh,&quot; ungkapnya.&amp;nbsp;Namun penyebab putusnya kabel Jembatan Kutai Kartanegara itu, hingga kini belum diketahui. Ada beberapa kesulitan yang dihadapi oleh tim. Di antaranya, hingga kini tim belum mendapatkan bangkai dari jembatan yang putus tersebut. Yang kedua, untuk mengambil bangkai jembatan itu pun ada kesulitan tersendiri.&amp;nbsp;&quot;Kesulitannya karena di bangkai jembatan itu dikhawatirkan masih ada korban. Kami masih harus mempertimbangkan kemungkinan adanya korban tersebut,&quot; ujar Suprobo yang juga mantan rektor ITS Surabaya. Kalau pun bangkai jembatan sudah bisa diambil, itu pun masih memerlukan waktu sekitar sebulan untuk menganilisa penyebab ambruknya jembatan itu.&amp;nbsp;Kata Suprobo yang juga alumni Purdue University AS, peran kabel untuk tipe jembatan gantung (suspension bridge) seperti di Jembatan Kutai Kartanegara ini sangat vital. Karena kabel yang merentangi jembatan ini ditambatkan dengan kuat di kedua belah ujung jembatan. Oleh karena itu sebagian besar beban di atas jembatan akan dipikul oleh tegangan di dalam kabel utama ini.&amp;nbsp;Hal ini berbeda dengan Jembatan Suramadu yang menggunakan teknologi lebih bagus lagi yaitu dengan kabel penahan (cable-stayed bridge).Jembatan model ini ini menggunakan beberapa kabel yang tidak berhubungan yang kemudian menghubungkan jalan dengan menara. Kabel-kabel ini ini diikat dengan tegang dan lurus.&amp;nbsp;Kelebihan jembatan model ini dibanding jembatan gantung adalah tambatan yang kukuh di ujung jembatan untuk menahan tarikan kabel tidak diperlukan.Sementara itu, hasil scanning side scan sonar&amp;nbsp; dari tim BPPT&amp;nbsp; mengindikasikan ada tujuh mobil yang sudah berada di luar kerangka jembatan di dasar sungai dan ada satu mobil terlihat ada di dalam kerangka jembatan. &quot;Pemindaian dengan multibeam echosounder masih disiapkan setup-nya dan besok pagi dioperasikan untuk memperoleh gambaran yang lebih detail,&quot; ucap Kepala Pusat Data BNPB Sutopo Purwo Nugroho.Tim penyelam, lanjut Sutopo, fokus untuk mengeluarkan korban yang ada pada mobil tersebut. &quot;Hari ini sampai pukul 17.00 wita, tim penyelam hanya berhasil mengangkat satu jenazah dari dasar sungai,&quot; ungkapnya.Total korban hingga saat ini 19 orang meninggal dan pencarian dihentikan karena cuaca yang tidak bersahabat. Hujan di hulu sungai mengakibatkan kecepatan arus bawah sungai sangat deras (mencapai 2,9 knot), sehingga masih menyulitkan tim penyelam untuk mengevakuasi korban yang masih di dalam mobil.Sehubungan dengan hal tersebut Kepala Basarnas, kata Sutopo, memutuskan untuk menghentikan operasi penyelaman dilanjutkan besok pagi pukul 06.00 wita dengan harapan arus belum deras.Sutopo Menambahkan, sedangkan floating bags (balon) sebanyak 60 unit sudah siap di atas ponton di lokasi TKP. Kelengkapan lain juga sejak kemaren sudah siap yaitu 10 unit tugboats dan 3 unit ponton besar beserta crane. Semua perlengkapan ini sudah siaga apabila opsi-opsi akan dilakukan. &quot;Direncanakan besok pagi akan dicoba mengangkat 7 unit mobil yang berada diluar kerangka jembatan dengan crane yang sudah siaga di atas ponton, lalu korban di dalam mobil dikeluarkan,&quot; jelasnya.&amp;nbsp; Apabila korban sudah berhasil dikeluarkan, maka baru floating bags digunakan untuk menarik kerangka jembatan ke pinggir sungai, selanjutnya sisa korban dievakuasi.</content:encoded></item></channel></rss>
