<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pantang Mengemis, Penyandang Cacat Ini Jual Bumbu Dapur</title><description>Kondisi cacat bukan berarti harus berhenti melakukan aktivitas. Seperti  dilakukan pasangan penyandang cacat yakni Wawan dan Heni, mereka pantang  mengemis dan tetap berjualan rempah bumbu dapur.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/12/03/340/537544/pantang-mengemis-penyandang-cacat-ini-jual-bumbu-dapur</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/12/03/340/537544/pantang-mengemis-penyandang-cacat-ini-jual-bumbu-dapur"/><item><title>Pantang Mengemis, Penyandang Cacat Ini Jual Bumbu Dapur</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/12/03/340/537544/pantang-mengemis-penyandang-cacat-ini-jual-bumbu-dapur</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/12/03/340/537544/pantang-mengemis-penyandang-cacat-ini-jual-bumbu-dapur</guid><pubDate>Sabtu 03 Desember 2011 20:18 WIB</pubDate><dc:creator>Pramono Putra</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/12/03/340/537544/y8h8C801dq.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Lambang penyandang cacat (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/12/03/340/537544/y8h8C801dq.jpg</image><title>Lambang penyandang cacat (Foto: Ist)</title></images><description>SIDOARDJO- Kondisi cacat bukan berarti harus berhenti melakukan aktivitas. Seperti dilakukan pasangan penyandang cacat yakni Wawan dan Heni, mereka pantang mengemis dan tetap berjualan rempah bumbu dapur.Hampir setiap pagi, Wawan Paripurnomo (36), Warga Desa Bungurasih Timur Waru-Sidoarjo keliling dengan kursi rodanya untuk menjual bahan dapur seperti bawang putih, bawang merah, kemiri, ketumbar, hingga ikan asin.Meski dengan kondisi kaki cacat yang dialaminya sejak berusia 2 tahun akibat penyakit polio, Wawan tetap semangat melakukan aktivitasnya sebagai penjual bahan pracangan dapur keliling.Keramaian jalan dan terik sinar matahari, tidak menghalangi niatnya untuk berjuang hidup mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Meski hasil yang didapat masih jauh dari harapan, Wawan tidak pernah patah arang dan tetap bekerja.Sang istri, Heni, yang juga mengalami cacat pada bagian tangannya tidak lepas peran sertanya untuk membantu suami tercinta. Di kamar kost berukuran 3x3 meter, Heni membantu suami untuk membungkus sejumlah bahan pracangan dapur yang dijual suaminya keliling kampung.Wawan dan Heni hanya ingin menunjukkan kepada warga lainnya, jika kaum penyandang cacat masih mampu berjuang untuk hidup meski harus dilalui dengan banyak pengorbanan.Di hari penyandang cacat se-dunia yang jatuh pada 3 Desember ini, Wawan dan Heni berharap agar mendapat perhatian dari pemerintah meski tidak harus berbentuk uang.Meski hasil minim, namun Wawan dan Heni mampu mengirim uang untuk anaknya di desanya di Kawasan Jatirejo-Mojokerto.</description><content:encoded>SIDOARDJO- Kondisi cacat bukan berarti harus berhenti melakukan aktivitas. Seperti dilakukan pasangan penyandang cacat yakni Wawan dan Heni, mereka pantang mengemis dan tetap berjualan rempah bumbu dapur.Hampir setiap pagi, Wawan Paripurnomo (36), Warga Desa Bungurasih Timur Waru-Sidoarjo keliling dengan kursi rodanya untuk menjual bahan dapur seperti bawang putih, bawang merah, kemiri, ketumbar, hingga ikan asin.Meski dengan kondisi kaki cacat yang dialaminya sejak berusia 2 tahun akibat penyakit polio, Wawan tetap semangat melakukan aktivitasnya sebagai penjual bahan pracangan dapur keliling.Keramaian jalan dan terik sinar matahari, tidak menghalangi niatnya untuk berjuang hidup mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Meski hasil yang didapat masih jauh dari harapan, Wawan tidak pernah patah arang dan tetap bekerja.Sang istri, Heni, yang juga mengalami cacat pada bagian tangannya tidak lepas peran sertanya untuk membantu suami tercinta. Di kamar kost berukuran 3x3 meter, Heni membantu suami untuk membungkus sejumlah bahan pracangan dapur yang dijual suaminya keliling kampung.Wawan dan Heni hanya ingin menunjukkan kepada warga lainnya, jika kaum penyandang cacat masih mampu berjuang untuk hidup meski harus dilalui dengan banyak pengorbanan.Di hari penyandang cacat se-dunia yang jatuh pada 3 Desember ini, Wawan dan Heni berharap agar mendapat perhatian dari pemerintah meski tidak harus berbentuk uang.Meski hasil minim, namun Wawan dan Heni mampu mengirim uang untuk anaknya di desanya di Kawasan Jatirejo-Mojokerto.</content:encoded></item></channel></rss>
