<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pemerintah Setengah Hati Tangani Persoalan HAM</title><description>Persatuan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) menilai, sikap pemerintah  yang setengah hati menjadi salah satu faktor penyebab alotnya  penyelesaian hak asasi manusia (HAM) di Indonesia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/12/10/337/540581/pemerintah-setengah-hati-tangani-persoalan-ham</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/12/10/337/540581/pemerintah-setengah-hati-tangani-persoalan-ham"/><item><title>Pemerintah Setengah Hati Tangani Persoalan HAM</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/12/10/337/540581/pemerintah-setengah-hati-tangani-persoalan-ham</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/12/10/337/540581/pemerintah-setengah-hati-tangani-persoalan-ham</guid><pubDate>Sabtu 10 Desember 2011 13:42 WIB</pubDate><dc:creator>Susi Fatimah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/12/10/337/540581/eNVLzsR3h2.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dokumentasi Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/12/10/337/540581/eNVLzsR3h2.jpg</image><title>Dokumentasi Okezone</title></images><description>JAKARTA - Persatuan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) menilai, sikap pemerintah yang setengah hati menjadi salah satu faktor penyebab alotnya penyelesaian hak asasi manusia (HAM) di Indonesia.
&amp;nbsp;
&quot;Jadi wajar kalau penanganan HAM di Indonesia selalu mengalami keruwetan dan keabsurdan yang luar biasa karena memang pemerintah setengah hati alias tidak serius dalam menanganinya,&quot; ujar salah satu pengurus Persatuan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI), Dedi Ahmad, di Galeri Caffe Cikini, Jakarta, Sabtu (10/12/2011).
&amp;nbsp;
Penanganan pemerintah yang setengah hati itu, lanjutnya, ditandai dengan langkah pemerintah yang tidak bertumpu pada semangat dan komitmen yang sungguh dalam membela dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.
&amp;nbsp;
Selain itu, kata Dedi, pemerintah lebih menggunakan pendekatan politis dari pada hukum dalam proses penyelesaianya. Oleh karenanya tidak heran ketika menggunakan penyelesaian dengan menggunakan pendekatan politik maka orientasinya kepada kekuasaan.
&amp;nbsp;
&quot;Kalau orientasinya kekuasaan, maka yang dicari bukan lagi benar salah melainkan kalah menang,&quot; katanya.
&amp;nbsp;
Dedi juga menyesalkan sikap pemerintah yang bersikap naif. Seharusnya kekuasaan difungsikan untuk melindungi hak-hak masyarakat dari segala macam tindak kekerasan justru digunakan para pemegang kekuasaan itu sendiri sebagai media untuk melanggengkan kekuasaan.
&amp;nbsp;
&quot;Demi kekuasaan, kehidupan yang merupakan masalah HAM yang paling substansial dan esensialpun diinjak-injak dan dinafikan. Kekuasaan diposisikan sebagai sesuatu yang lebih penting daripada penegakan HAM,&quot; paparnya.
&amp;nbsp;
Lebih jauh, Dedi mengatakan proses penegakan HAM yang cenderung politis itu pada akhirnya menjadi ancaman tersendiri terhadap aktivis HAM. Para aktivis HAM selalu dalam bayang-bayang teror penguasa.
&amp;nbsp;
&quot;Maka sesungguhnya bahaya kalau prinsip pemerintah yang setengah hati terus berlanjut. HAM hanya menjadi kebijakan yang penuh kamuflase belaka. Ia hanya akan menjadi alat politik kekuasaan,&quot; tutupnya.
&amp;nbsp;</description><content:encoded>JAKARTA - Persatuan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) menilai, sikap pemerintah yang setengah hati menjadi salah satu faktor penyebab alotnya penyelesaian hak asasi manusia (HAM) di Indonesia.
&amp;nbsp;
&quot;Jadi wajar kalau penanganan HAM di Indonesia selalu mengalami keruwetan dan keabsurdan yang luar biasa karena memang pemerintah setengah hati alias tidak serius dalam menanganinya,&quot; ujar salah satu pengurus Persatuan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI), Dedi Ahmad, di Galeri Caffe Cikini, Jakarta, Sabtu (10/12/2011).
&amp;nbsp;
Penanganan pemerintah yang setengah hati itu, lanjutnya, ditandai dengan langkah pemerintah yang tidak bertumpu pada semangat dan komitmen yang sungguh dalam membela dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.
&amp;nbsp;
Selain itu, kata Dedi, pemerintah lebih menggunakan pendekatan politis dari pada hukum dalam proses penyelesaianya. Oleh karenanya tidak heran ketika menggunakan penyelesaian dengan menggunakan pendekatan politik maka orientasinya kepada kekuasaan.
&amp;nbsp;
&quot;Kalau orientasinya kekuasaan, maka yang dicari bukan lagi benar salah melainkan kalah menang,&quot; katanya.
&amp;nbsp;
Dedi juga menyesalkan sikap pemerintah yang bersikap naif. Seharusnya kekuasaan difungsikan untuk melindungi hak-hak masyarakat dari segala macam tindak kekerasan justru digunakan para pemegang kekuasaan itu sendiri sebagai media untuk melanggengkan kekuasaan.
&amp;nbsp;
&quot;Demi kekuasaan, kehidupan yang merupakan masalah HAM yang paling substansial dan esensialpun diinjak-injak dan dinafikan. Kekuasaan diposisikan sebagai sesuatu yang lebih penting daripada penegakan HAM,&quot; paparnya.
&amp;nbsp;
Lebih jauh, Dedi mengatakan proses penegakan HAM yang cenderung politis itu pada akhirnya menjadi ancaman tersendiri terhadap aktivis HAM. Para aktivis HAM selalu dalam bayang-bayang teror penguasa.
&amp;nbsp;
&quot;Maka sesungguhnya bahaya kalau prinsip pemerintah yang setengah hati terus berlanjut. HAM hanya menjadi kebijakan yang penuh kamuflase belaka. Ia hanya akan menjadi alat politik kekuasaan,&quot; tutupnya.
&amp;nbsp;</content:encoded></item></channel></rss>
