<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rieke Diah Pitaloka: 22 Desember Bukan Hari Ibu</title><description>Ditilik dari sejarah, Kongres Perempuan Indonesia menetapkan tanggal 22  Desember sebagai Hari Kebangkitan Perempuan Indonesia dalam Politik.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/12/22/337/545865/rieke-diah-pitaloka-22-desember-bukan-hari-ibu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/12/22/337/545865/rieke-diah-pitaloka-22-desember-bukan-hari-ibu"/><item><title>Rieke Diah Pitaloka: 22 Desember Bukan Hari Ibu</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/12/22/337/545865/rieke-diah-pitaloka-22-desember-bukan-hari-ibu</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/12/22/337/545865/rieke-diah-pitaloka-22-desember-bukan-hari-ibu</guid><pubDate>Kamis 22 Desember 2011 13:32 WIB</pubDate><dc:creator>Hendry Sihalogo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/12/22/337/545865/PjADp2UO2u.jpg" expression="full" type="image/jpeg">(Foto: Runi/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/12/22/337/545865/PjADp2UO2u.jpg</image><title>(Foto: Runi/Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Anggota Komisi IX DPR Rieke Diah Pitaloka menyatakan 22 Desember bukan Hari Ibu melainkan Hari Kebangkitan Politik Perempuan Indonesia. Ditilik dari sejarah, Kongres Perempuan Indonesia menetapkan tanggal 22 Desember sebagai Hari Kebangkitan Perempuan Indonesia dalam Politik.
&amp;nbsp;
&quot;Bukan Hari Ibu, tapi Hari Kebangkitan Politik Perempuan Indonesia,&quot; kata Rieke melalui keterangannya, Kamis (22/12/2011). Dia menjelaskan, dua bulan setelah Sumpah Pemuda 1928, digelar perhelatan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama di Yogyakarta pada 22-25 Desember 1928.
&amp;nbsp;
Kongres menghasilkan keputusan-keputusan yang dianggap sebagai tonggak terlibatnya perempuan dalam kancah politik Indonesia. BK menetapkan 22 Desember sebagai hari Kebangkitan Perempuan Indonesia dalam Politik.
&amp;nbsp;
Politikus PDIP itu berterus terang tidak bermaksud mengecilkan arti peran seorang ibu dalam wilayah domestik. Namun, keterlibatan perempuan dalam politik, menurutnya, dapat menentukan naiknya derajat kehidupan perempuan dalam ruang domestik. Lagi pula, tak elok rasanya kalau penetapan peringatan sebuah tanggal dilepaskan dari peristiwa sejarah yang melatarbelakanginya.
&amp;nbsp;
Sebab, di dalamnya ada sebuah gerakan bersama, kolektivitas untuk kepentingan bersama. &quot;Itulah esensi politik yang sesungguhnya, termasuk memberi ruang bagi mereka yang termarginalkan untuk tak sekedar jadi obyek, namun justru sebagai subyek dalam putusan-putusan politis,&quot; ujar Rieke.
&amp;nbsp;
Kendati demikian, dia mengaku selalu mengenang almarhum ibunya setiap tanggal 22 Desember. Penulis novel dan puisi itu mengajak masyarakat untuk mengenang ibu pada 22 Desember sebagai manusia yang punya kedudukan yang sama di hadapan hukum, yang punya hak dan kewajiban yang sama dalam bela negara.
&amp;nbsp;
&quot;Apa yang dilakukan ibu juga akan saya lakukan pada anak-anak saya kelak untuk tahu bahwa dirinya adalah zoon politicon, mahluk politis yang tak mungkin memisahkan diri dari sebuah struktur politik. Wherever you go you will be a polis,&quot; tandas wanita yang menyukai sastra itu.</description><content:encoded>JAKARTA - Anggota Komisi IX DPR Rieke Diah Pitaloka menyatakan 22 Desember bukan Hari Ibu melainkan Hari Kebangkitan Politik Perempuan Indonesia. Ditilik dari sejarah, Kongres Perempuan Indonesia menetapkan tanggal 22 Desember sebagai Hari Kebangkitan Perempuan Indonesia dalam Politik.
&amp;nbsp;
&quot;Bukan Hari Ibu, tapi Hari Kebangkitan Politik Perempuan Indonesia,&quot; kata Rieke melalui keterangannya, Kamis (22/12/2011). Dia menjelaskan, dua bulan setelah Sumpah Pemuda 1928, digelar perhelatan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama di Yogyakarta pada 22-25 Desember 1928.
&amp;nbsp;
Kongres menghasilkan keputusan-keputusan yang dianggap sebagai tonggak terlibatnya perempuan dalam kancah politik Indonesia. BK menetapkan 22 Desember sebagai hari Kebangkitan Perempuan Indonesia dalam Politik.
&amp;nbsp;
Politikus PDIP itu berterus terang tidak bermaksud mengecilkan arti peran seorang ibu dalam wilayah domestik. Namun, keterlibatan perempuan dalam politik, menurutnya, dapat menentukan naiknya derajat kehidupan perempuan dalam ruang domestik. Lagi pula, tak elok rasanya kalau penetapan peringatan sebuah tanggal dilepaskan dari peristiwa sejarah yang melatarbelakanginya.
&amp;nbsp;
Sebab, di dalamnya ada sebuah gerakan bersama, kolektivitas untuk kepentingan bersama. &quot;Itulah esensi politik yang sesungguhnya, termasuk memberi ruang bagi mereka yang termarginalkan untuk tak sekedar jadi obyek, namun justru sebagai subyek dalam putusan-putusan politis,&quot; ujar Rieke.
&amp;nbsp;
Kendati demikian, dia mengaku selalu mengenang almarhum ibunya setiap tanggal 22 Desember. Penulis novel dan puisi itu mengajak masyarakat untuk mengenang ibu pada 22 Desember sebagai manusia yang punya kedudukan yang sama di hadapan hukum, yang punya hak dan kewajiban yang sama dalam bela negara.
&amp;nbsp;
&quot;Apa yang dilakukan ibu juga akan saya lakukan pada anak-anak saya kelak untuk tahu bahwa dirinya adalah zoon politicon, mahluk politis yang tak mungkin memisahkan diri dari sebuah struktur politik. Wherever you go you will be a polis,&quot; tandas wanita yang menyukai sastra itu.</content:encoded></item></channel></rss>
