<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Polisi Lamban Atasi Pembakaran Ponpes Syiah Madura</title><description>Kepolisian dinilai lamban mengamankan area pondok pesantren (Ponpes) Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur. Akibat lambannya pengamanan polisi, akhirnya massa berbuat anarkis dengan membakar ponpes tersebut.</description><link>https://news.okezone.com/read/2011/12/30/340/549143/polisi-lamban-atasi-pembakaran-ponpes-syiah-madura</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2011/12/30/340/549143/polisi-lamban-atasi-pembakaran-ponpes-syiah-madura"/><item><title>Polisi Lamban Atasi Pembakaran Ponpes Syiah Madura</title><link>https://news.okezone.com/read/2011/12/30/340/549143/polisi-lamban-atasi-pembakaran-ponpes-syiah-madura</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2011/12/30/340/549143/polisi-lamban-atasi-pembakaran-ponpes-syiah-madura</guid><pubDate>Jum'at 30 Desember 2011 09:00 WIB</pubDate><dc:creator>Fiddy Anggriawan </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2011/12/30/340/549143/bzM6SNqRXE.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2011/12/30/340/549143/bzM6SNqRXE.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>JAKARTA - Kepolisian dinilai lamban mengamankan area pondok pesantren (Ponpes) Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur. Akibat lambannya pengamanan polisi, akhirnya massa berbuat anarkis dengan membakar ponpes tersebut.  M Subhi dari The Wahid Institute mengatakan, pembakaran itu merupakan tindakan yang salah dan tidak perlu dilakukan. &amp;ldquo;Kita jelas saya sangat menyesalkan kejadian tersebut dan mengecam para pelaku pembakaran,&amp;rdquo; jelas Subhi ketika dihubungi okezone, Kamis (29/12/2011).
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Timbul pertanyaan kenapa peristiwa pembakaran ini bisa terjadi karena sebenarnya konflik dengan Syiah sudah terjadi sejak lama di Madura. Polisi tampak tidak melakukan pencegahan pada massa dalam membakar ponpes tersebut,&quot; imbuhnya.  Subhi juga memberikan catatan khusus intelijen polisi Madura yang dinilai lemah dalam mengantisipasi kejadian tersebut. &amp;ldquo;Bentrok antara massa dengan pengikut Syiah di Madura bukan yang pertama kali terjadi. Seharusnya ada intelijen polisi yang berjaga di area-area seperti ini. Diharapkan adanya mekanisme pengamanan dari aparat kepolisian dalam menjaga kebebasan beragama,&amp;rdquo; tuturnya.  Perbedaan agama, ujarnya, tidak bisa diselesaikan dengan cara kekerasan, karena perbedaan keyakinan tidak akan pernah habis. Sebuah langkah bijaksana ialah harus menerima adanya perbedaan sebagai sesuatu yang alami.  &amp;rdquo;Polisi harus bisa mengusut tuntas pelaku pembakaran dan memprosesnya secara hukum, serta jangan sampai dibiarkan begitu saja. Selanjutnya, perlu ada penanganan khusus dari kepolisian dalam mengamankan titik-titik yang rawan bentrokan, seperti daerah Ahmadiyah dan Syiah,&amp;rdquo; katanya.</description><content:encoded>JAKARTA - Kepolisian dinilai lamban mengamankan area pondok pesantren (Ponpes) Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur. Akibat lambannya pengamanan polisi, akhirnya massa berbuat anarkis dengan membakar ponpes tersebut.  M Subhi dari The Wahid Institute mengatakan, pembakaran itu merupakan tindakan yang salah dan tidak perlu dilakukan. &amp;ldquo;Kita jelas saya sangat menyesalkan kejadian tersebut dan mengecam para pelaku pembakaran,&amp;rdquo; jelas Subhi ketika dihubungi okezone, Kamis (29/12/2011).
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Timbul pertanyaan kenapa peristiwa pembakaran ini bisa terjadi karena sebenarnya konflik dengan Syiah sudah terjadi sejak lama di Madura. Polisi tampak tidak melakukan pencegahan pada massa dalam membakar ponpes tersebut,&quot; imbuhnya.  Subhi juga memberikan catatan khusus intelijen polisi Madura yang dinilai lemah dalam mengantisipasi kejadian tersebut. &amp;ldquo;Bentrok antara massa dengan pengikut Syiah di Madura bukan yang pertama kali terjadi. Seharusnya ada intelijen polisi yang berjaga di area-area seperti ini. Diharapkan adanya mekanisme pengamanan dari aparat kepolisian dalam menjaga kebebasan beragama,&amp;rdquo; tuturnya.  Perbedaan agama, ujarnya, tidak bisa diselesaikan dengan cara kekerasan, karena perbedaan keyakinan tidak akan pernah habis. Sebuah langkah bijaksana ialah harus menerima adanya perbedaan sebagai sesuatu yang alami.  &amp;rdquo;Polisi harus bisa mengusut tuntas pelaku pembakaran dan memprosesnya secara hukum, serta jangan sampai dibiarkan begitu saja. Selanjutnya, perlu ada penanganan khusus dari kepolisian dalam mengamankan titik-titik yang rawan bentrokan, seperti daerah Ahmadiyah dan Syiah,&amp;rdquo; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
