<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Timur Pradopo Layak jadi Presiden?</title><description>Timur Pradopo, Layak Jadi Presiden? Pertanyaan itu muncul dalam sebuah  sub judul buku &amp;ldquo;Timur Pradopo: Memberi Keteladanan, Menuai Kearifan&amp;rdquo;.</description><link>https://news.okezone.com/read/2012/01/10/337/554998/timur-pradopo-layak-jadi-presiden</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/01/10/337/554998/timur-pradopo-layak-jadi-presiden"/><item><title>Timur Pradopo Layak jadi Presiden?</title><link>https://news.okezone.com/read/2012/01/10/337/554998/timur-pradopo-layak-jadi-presiden</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/01/10/337/554998/timur-pradopo-layak-jadi-presiden</guid><pubDate>Selasa 10 Januari 2012 21:19 WIB</pubDate><dc:creator>Misbahol Munir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/01/10/337/554998/XqgFpwKiBb.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kapolri Jenderal Timur Pradopo (okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/01/10/337/554998/XqgFpwKiBb.jpg</image><title>Kapolri Jenderal Timur Pradopo (okezone)</title></images><description>JAKARTA - Timur Pradopo, Layak Jadi Presiden? Pertanyaan itu muncul dalam sebuah sub judul buku, &amp;ldquo;Timur Pradopo: Memberi Keteladanan, Menuai Kearifan&amp;rdquo;.Hari ini, buku itu dibedah bersama anggota Komisi III DPR dari Fraksi PAN, Tjatur Sapto Edi, Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Mabes Polri, Muhammad Taufik dan Koordinator LSM Kontras, Haris Azhar serta penulis bukunya, Ahmad Bahar di Grand Indonesia, Jakarta, Selasa (10/1/2012). Kebetulan, buku ini diluncurkan bertepatan dengan ulang tahun Polri.Ahmad Bahar, penulis dari buku ini memunculkan pertanyaan menggelitik soal polisi berkaitan dengan wacana pemilihan presiden di tanah air. Mengapa hingga hari ini belum pernah ada calon presiden dari kalangan polisi? &amp;ldquo;Padahal kita semua tahu bahwa polisi adalah juga warga negara yang berhak mendapat kehormatan untuk menjadi presiden,&amp;rdquo; ungkap Bahar dalam bukunya. Sejarah yang melatarbelakangi reformasi pemerintahan di Indonesia pasca jatuhnya rezim Orde Baru ternyata berhasil mengantarkan polri ke luar dari institusi ABRI/ TNI, sehingga dapat menjalankan tugas secara independen dan profesional. Momentum ini mestinya bisa dimaknai untuk membangun citra diri Polri secara lebih baik. Termasuk melahirkan kader-kader terbaiknya untuk mengabdi kepada negara dan bangsa ini. Menurut Bahar, harus diakui bahwa Polri era pasca reformasi masih terlihat gagap menghadapi perubahan yang cepat dan mendadak. Pada era reformasi terjadinya perubahan kultur Polri sangat diharapkan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat demokratis. Apabila Polri selama 32 tahun berada di bawah pemerintahan otoriter dan bersifat militer maka sejak dicanangkan era reformasi oleh pemerintahan reformasi yang bercirikan masyarakat sipil, doktrin polri juga wajib diubah dari polisi militer menjadi polisi sipil. Kata Bahar, barangkali hal inilah yang menyebabkan tidak tumbuhnya kader-kader dari kalangan kepolisian. Polisi sepertinya berada dalam bayang-bayang militer. &amp;ldquo;Mereka tidak berani menonjolkan diri. Jangankan untuk mencalonkan presiden? Untuk menjadi lurah saja, kader dari kalangan kepolisian harus berfikir ulang,&amp;rdquo; pungkasnya.  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4     

 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;;
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:&quot;&quot;;
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}

</description><content:encoded>JAKARTA - Timur Pradopo, Layak Jadi Presiden? Pertanyaan itu muncul dalam sebuah sub judul buku, &amp;ldquo;Timur Pradopo: Memberi Keteladanan, Menuai Kearifan&amp;rdquo;.Hari ini, buku itu dibedah bersama anggota Komisi III DPR dari Fraksi PAN, Tjatur Sapto Edi, Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Mabes Polri, Muhammad Taufik dan Koordinator LSM Kontras, Haris Azhar serta penulis bukunya, Ahmad Bahar di Grand Indonesia, Jakarta, Selasa (10/1/2012). Kebetulan, buku ini diluncurkan bertepatan dengan ulang tahun Polri.Ahmad Bahar, penulis dari buku ini memunculkan pertanyaan menggelitik soal polisi berkaitan dengan wacana pemilihan presiden di tanah air. Mengapa hingga hari ini belum pernah ada calon presiden dari kalangan polisi? &amp;ldquo;Padahal kita semua tahu bahwa polisi adalah juga warga negara yang berhak mendapat kehormatan untuk menjadi presiden,&amp;rdquo; ungkap Bahar dalam bukunya. Sejarah yang melatarbelakangi reformasi pemerintahan di Indonesia pasca jatuhnya rezim Orde Baru ternyata berhasil mengantarkan polri ke luar dari institusi ABRI/ TNI, sehingga dapat menjalankan tugas secara independen dan profesional. Momentum ini mestinya bisa dimaknai untuk membangun citra diri Polri secara lebih baik. Termasuk melahirkan kader-kader terbaiknya untuk mengabdi kepada negara dan bangsa ini. Menurut Bahar, harus diakui bahwa Polri era pasca reformasi masih terlihat gagap menghadapi perubahan yang cepat dan mendadak. Pada era reformasi terjadinya perubahan kultur Polri sangat diharapkan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat demokratis. Apabila Polri selama 32 tahun berada di bawah pemerintahan otoriter dan bersifat militer maka sejak dicanangkan era reformasi oleh pemerintahan reformasi yang bercirikan masyarakat sipil, doktrin polri juga wajib diubah dari polisi militer menjadi polisi sipil. Kata Bahar, barangkali hal inilah yang menyebabkan tidak tumbuhnya kader-kader dari kalangan kepolisian. Polisi sepertinya berada dalam bayang-bayang militer. &amp;ldquo;Mereka tidak berani menonjolkan diri. Jangankan untuk mencalonkan presiden? Untuk menjadi lurah saja, kader dari kalangan kepolisian harus berfikir ulang,&amp;rdquo; pungkasnya.  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4     

 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;;
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:&quot;&quot;;
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}

</content:encoded></item></channel></rss>
