<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Polisi Harus Tindak Tegas Ormas Boneka</title><description>Bentrok antarormas yang terjadi belakangan ini dinilai sebagai lemahnya  kinerja polisi. </description><link>https://news.okezone.com/read/2012/01/21/338/561032/polisi-harus-tindak-tegas-ormas-boneka</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/01/21/338/561032/polisi-harus-tindak-tegas-ormas-boneka"/><item><title>Polisi Harus Tindak Tegas Ormas Boneka</title><link>https://news.okezone.com/read/2012/01/21/338/561032/polisi-harus-tindak-tegas-ormas-boneka</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/01/21/338/561032/polisi-harus-tindak-tegas-ormas-boneka</guid><pubDate>Sabtu 21 Januari 2012 07:10 WIB</pubDate><dc:creator>Marieska Harya Virdhani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/01/21/338/561032/2plJg9ZKau.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Rumah Bang Cane (Foto: Fahmi Firdaus/okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/01/21/338/561032/2plJg9ZKau.jpg</image><title>Rumah Bang Cane (Foto: Fahmi Firdaus/okezone)</title></images><description>DEPOK &amp;ndash; Bentrok antarormas yang terjadi belakangan ini dinilai sebagai lemahnya kinerja polisi. Peneliti Kajian Budaya Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati mengkritik kinerja aparat kepolisian yang lemah dalam menangani kasus kekerasan ormas. Bentrok ormas, kata Devie, selama ini seolah hanya menjadi drama yang hanya menambah tumpukan persoalan bagi polisi.&amp;ldquo;Bagi polisi ini tumpukan persoalan, lagi &amp;ndash; lagi problem aparat elit kita dituntut menjalankan hukum yang bukan hanya menuhi syarat hukumnya, tapi harus berkeadilan, rasa keadilan masyarakat dimana, harus berusaha tegakkan hukum, bentrok ormas seolah masyarakat jadi polisi baru, hukum melemah karena itu, kebenaran tak bisa divoting,&amp;rdquo; paparnya kepada Okezone, Jumat malam (20/01/12).Belum lagi, kata Devie, ormas selama ini semakin eksis digunakan oleh kalangan kapital sosial untuk kepentingan elit. Devie bahkan menyebut saat ini banyak ormas boneka ataupun ormas oplosan, sehingga menjadi salah satu latar belakang munculnya anarkisme ormas.&amp;ldquo;Ormas kapital sosial bagi elit, manipulasi kepentingan mereka, seolah biduk catur bagi elit, lagi &amp;ndash; lagi politik belum dewasa, banyak politisi muda dan karbitan, banyak ormas oplosan, ormas boneka,&amp;rdquo; tegasnya.Sejarah munculnya berbagai ormas, kata Devie, bermula pada kesamaan cita &amp;ndash; cita bagi kelompok masyarakat tertentu. &amp;ldquo;Awalnya ormas adalah rumah bagi kelompok masyarakat dengan mengusung sebuah isu yang sama, ada advokasi dan mereka memperoleh legitimasi, intinya saat ini semua hal sudah transparan bukan lagi saluran konvensional, jadi publik yang mengontrol,&amp;rdquo; imbuhnya.Sebelumnya, puluhan massa anggota Organisasi Masyarakat (Ormas) Pemuda Pancasila (PP) menyerang komandan FBR Jakarta yang juga sesepuh FBR, Bang Cane, di rumahnya di Jalan Kawi-kawi RT 7 RW 8 Johar Baru Jakarta Pusat. Rumah bercat putih tersebut dirusak massa dengan menggunakan parang golok kayu bambu dan batu dan mengakibatkan kerusakan di dalam maupun di luar rumah.</description><content:encoded>DEPOK &amp;ndash; Bentrok antarormas yang terjadi belakangan ini dinilai sebagai lemahnya kinerja polisi. Peneliti Kajian Budaya Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati mengkritik kinerja aparat kepolisian yang lemah dalam menangani kasus kekerasan ormas. Bentrok ormas, kata Devie, selama ini seolah hanya menjadi drama yang hanya menambah tumpukan persoalan bagi polisi.&amp;ldquo;Bagi polisi ini tumpukan persoalan, lagi &amp;ndash; lagi problem aparat elit kita dituntut menjalankan hukum yang bukan hanya menuhi syarat hukumnya, tapi harus berkeadilan, rasa keadilan masyarakat dimana, harus berusaha tegakkan hukum, bentrok ormas seolah masyarakat jadi polisi baru, hukum melemah karena itu, kebenaran tak bisa divoting,&amp;rdquo; paparnya kepada Okezone, Jumat malam (20/01/12).Belum lagi, kata Devie, ormas selama ini semakin eksis digunakan oleh kalangan kapital sosial untuk kepentingan elit. Devie bahkan menyebut saat ini banyak ormas boneka ataupun ormas oplosan, sehingga menjadi salah satu latar belakang munculnya anarkisme ormas.&amp;ldquo;Ormas kapital sosial bagi elit, manipulasi kepentingan mereka, seolah biduk catur bagi elit, lagi &amp;ndash; lagi politik belum dewasa, banyak politisi muda dan karbitan, banyak ormas oplosan, ormas boneka,&amp;rdquo; tegasnya.Sejarah munculnya berbagai ormas, kata Devie, bermula pada kesamaan cita &amp;ndash; cita bagi kelompok masyarakat tertentu. &amp;ldquo;Awalnya ormas adalah rumah bagi kelompok masyarakat dengan mengusung sebuah isu yang sama, ada advokasi dan mereka memperoleh legitimasi, intinya saat ini semua hal sudah transparan bukan lagi saluran konvensional, jadi publik yang mengontrol,&amp;rdquo; imbuhnya.Sebelumnya, puluhan massa anggota Organisasi Masyarakat (Ormas) Pemuda Pancasila (PP) menyerang komandan FBR Jakarta yang juga sesepuh FBR, Bang Cane, di rumahnya di Jalan Kawi-kawi RT 7 RW 8 Johar Baru Jakarta Pusat. Rumah bercat putih tersebut dirusak massa dengan menggunakan parang golok kayu bambu dan batu dan mengakibatkan kerusakan di dalam maupun di luar rumah.</content:encoded></item></channel></rss>
