<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kejanggalan di Balik Bentrok di Lampung</title><description>Warga di kedua kampung merasa ada orang-orang tidak dikenal terlibat dalam bentrokan tersebut.</description><link>https://news.okezone.com/read/2012/01/28/340/565093/kejanggalan-di-balik-bentrok-di-lampung</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/01/28/340/565093/kejanggalan-di-balik-bentrok-di-lampung"/><item><title>Kejanggalan di Balik Bentrok di Lampung</title><link>https://news.okezone.com/read/2012/01/28/340/565093/kejanggalan-di-balik-bentrok-di-lampung</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/01/28/340/565093/kejanggalan-di-balik-bentrok-di-lampung</guid><pubDate>Sabtu 28 Januari 2012 10:24 WIB</pubDate><dc:creator>Anton Suhartono</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/01/28/340/565093/A9lqUSYIVJ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bentrok antarwarga Napal dan Kotadalam (Foto: okezone/Ziva Aditya)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/01/28/340/565093/A9lqUSYIVJ.jpg</image><title>Bentrok antarwarga Napal dan Kotadalam (Foto: okezone/Ziva Aditya)</title></images><description>JAKARTA - Berdasarkan hasil pertemuan antara unsur pemerintahan, tokoh masyarakat, dan tokoh agama di Lampung, didapati kesimpulan bahwa bentrokan yang terjadi antara warga Kampung Napal dan Kotadalam di Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidomulyo, beberapa hari lalu, ditunggangi pihak tertentu.&amp;nbsp;&amp;ldquo;Pada saat dialog bersama Gubernur Lampung, Kapolda, Pangdam II Sriwijaya, Kajati, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan lainnya, didapati kesimpulan ada yang memprovokasi massa sehingga bentrokan terjadi,&amp;rdquo; ungkap Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Mayjen (Purn) SN Suwisma saat berbincang dengan okezone melalui sambungan telepon, Sabtu (28/1/2012).Suwisma, yang menghadiri pertemuan itu, mengungkapkan ada kejanggalan-kejanggalan yang didapati berdasarkan laporan dari para tokoh masyarakat baik dari Kampung Napal dan Kotadalam.&amp;ldquo;Dari hasil wawancara saya dengan tokoh dari kedua kampung, mereka bilang para buruh yang bekerja di Kotadalam sebenarnya dari Napal juga. Selain itu ada keanehan, mereka seharusnya saling kenal antarsatu kampung. Tapi saat bentrok kok warga tidak kenal dengan orang-orang yang ada di samping mereka. Seharusnya sesama tetangga kan saling kenal. Ada orang-orang dari luar yang sengaja dimasukkan. Ini bukan ditunggangi lagi, tapi sudah bentuk provokasi,&amp;rdquo; jelas Suwisma.Untuk itu dalam pertemuan tersebut juga disepakati bahwa Kepolisian akan mengusut siapa pemicu bentrok yang mengakibatkan setidaknya 60 rumah hangus dibakar itu.Suwisma juga meminta Polisi mengusut tuntas pelaku pembakaran tempat ibadah. Menurutnya, pembakaran rumah ibadah adalah salah satu upaya untuk mengalihkan isu utama bentrokan ini ke arah SARA.&amp;ldquo;Kan penyebab awalnya tidak ada kaitan dengan SARA, cuma bentrok antarkampung, tapi kok rumah ibadah menjadi korban. Ada provokasi yang ingin mengarahkan bentrokan ini ke SARA,&amp;rdquo; sambungnya.Suwisma juga membantah ada dugaan bentrokan dipicu ketidaksukaan warga lokal dengan pendatang. Warga Napal dan Kotadalam sebelum bentrokan ini terjadi sangat rukun dan saling membutuhkan.&amp;ldquo;Sekarang di Lampung tidak ada lagi istilah pendatang dan lokal. Semuanya sudah berbaur dan saling membutuhkan. Tidak ada lagi istilah itu,&amp;rdquo; ungkapnya.Hasil lain dari pertemuan tersebut, lanjut dia, dibentuk forum yang terdiri dari tokoh masyarakat yang akan mengawasi jika di kemudian hari ada pihak yang melanggar kesepakatan yang sudah dibuat.&amp;ldquo;Ini untuk mengantisipasi agar bentrokan tidak lagi terulang,&amp;rdquo; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Berdasarkan hasil pertemuan antara unsur pemerintahan, tokoh masyarakat, dan tokoh agama di Lampung, didapati kesimpulan bahwa bentrokan yang terjadi antara warga Kampung Napal dan Kotadalam di Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidomulyo, beberapa hari lalu, ditunggangi pihak tertentu.&amp;nbsp;&amp;ldquo;Pada saat dialog bersama Gubernur Lampung, Kapolda, Pangdam II Sriwijaya, Kajati, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan lainnya, didapati kesimpulan ada yang memprovokasi massa sehingga bentrokan terjadi,&amp;rdquo; ungkap Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Mayjen (Purn) SN Suwisma saat berbincang dengan okezone melalui sambungan telepon, Sabtu (28/1/2012).Suwisma, yang menghadiri pertemuan itu, mengungkapkan ada kejanggalan-kejanggalan yang didapati berdasarkan laporan dari para tokoh masyarakat baik dari Kampung Napal dan Kotadalam.&amp;ldquo;Dari hasil wawancara saya dengan tokoh dari kedua kampung, mereka bilang para buruh yang bekerja di Kotadalam sebenarnya dari Napal juga. Selain itu ada keanehan, mereka seharusnya saling kenal antarsatu kampung. Tapi saat bentrok kok warga tidak kenal dengan orang-orang yang ada di samping mereka. Seharusnya sesama tetangga kan saling kenal. Ada orang-orang dari luar yang sengaja dimasukkan. Ini bukan ditunggangi lagi, tapi sudah bentuk provokasi,&amp;rdquo; jelas Suwisma.Untuk itu dalam pertemuan tersebut juga disepakati bahwa Kepolisian akan mengusut siapa pemicu bentrok yang mengakibatkan setidaknya 60 rumah hangus dibakar itu.Suwisma juga meminta Polisi mengusut tuntas pelaku pembakaran tempat ibadah. Menurutnya, pembakaran rumah ibadah adalah salah satu upaya untuk mengalihkan isu utama bentrokan ini ke arah SARA.&amp;ldquo;Kan penyebab awalnya tidak ada kaitan dengan SARA, cuma bentrok antarkampung, tapi kok rumah ibadah menjadi korban. Ada provokasi yang ingin mengarahkan bentrokan ini ke SARA,&amp;rdquo; sambungnya.Suwisma juga membantah ada dugaan bentrokan dipicu ketidaksukaan warga lokal dengan pendatang. Warga Napal dan Kotadalam sebelum bentrokan ini terjadi sangat rukun dan saling membutuhkan.&amp;ldquo;Sekarang di Lampung tidak ada lagi istilah pendatang dan lokal. Semuanya sudah berbaur dan saling membutuhkan. Tidak ada lagi istilah itu,&amp;rdquo; ungkapnya.Hasil lain dari pertemuan tersebut, lanjut dia, dibentuk forum yang terdiri dari tokoh masyarakat yang akan mengawasi jika di kemudian hari ada pihak yang melanggar kesepakatan yang sudah dibuat.&amp;ldquo;Ini untuk mengantisipasi agar bentrokan tidak lagi terulang,&amp;rdquo; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
