<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Digusur, Puluhan Warga Tinggal di Bawah Fly Over</title><description>Pagi itu, puluhan warga melakukan aktifitas sehari-hari seperti mencuci, tidur, dan bermain dilakukan dibawah fly over Pamuda, Jalan Ahmad Yani, Rawamangun, Pulogadung, Jakarta Timur.</description><link>https://news.okezone.com/read/2012/02/07/338/571034/digusur-puluhan-warga-tinggal-di-bawah-fly-over</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/02/07/338/571034/digusur-puluhan-warga-tinggal-di-bawah-fly-over"/><item><title>Digusur, Puluhan Warga Tinggal di Bawah Fly Over</title><link>https://news.okezone.com/read/2012/02/07/338/571034/digusur-puluhan-warga-tinggal-di-bawah-fly-over</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/02/07/338/571034/digusur-puluhan-warga-tinggal-di-bawah-fly-over</guid><pubDate>Selasa 07 Februari 2012 13:36 WIB</pubDate><dc:creator>Catur Nugroho Saputra</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/02/07/338/571034/8bZv85cNru.jpg" expression="full" type="image/jpeg">(Catur Nugroho Saputra/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/02/07/338/571034/8bZv85cNru.jpg</image><title>(Catur Nugroho Saputra/Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Pagi itu, puluhan warga melakukan aktifitas sehari-hari seperti mencuci, tidur, dan bermain dilakukan dibawah fly over Pamuda, Jalan Ahmad Yani, Rawamangun, Pulogadung, Jakarta Timur.
&amp;nbsp;
Mereka merupakan korban penggusuran lahan milik Dinas Pemadam Kebakaran (DPK) DKI Jakarta, yang tidak memiliki tempat berteduh lagi sehingga terpaksa tinggal di bawah kolong fly over pemuda.
&amp;nbsp;
Salah seorang warga korban penggusuran, Sumarno, (61), menuturkan dirinya bersama istri dan enam orang anaknya sejak semalam, tinggal dibawah fly over Pemuda. &quot;Saya belum mendapatkan kontrakan yang murah untuk ditempati,&quot; ujar Sumarno, kepada Okezone, Selasa, (7/1/2012).
&amp;nbsp;
Menurut pria yang berasal dari Desa Geneng, Ngawi, Madiun ini, di tempat tersebut terdapat sekira 400 Kepala Keluarga (KK). Mereka tak mampu membeli rumah karena kebanyakan hanya bekerja sebagai pemulung.
&amp;nbsp;
Sumarno mengatakan, sebelum digusur, dia sebenarnya sudah mengetahui bahwa kontrakan berukuran 2 x 2 meter yang ditempatinya adalah tanah sengketa milik Dinas Pemadam Kebakaran.
&amp;nbsp;
&quot;Ya, mau gimana, abisnya kontrakan di sini cuma 200 ribu, dan penghasilan saya per hari hanya 30 ribu,&amp;rdquo; jelasnya.
&amp;nbsp;
Hal yang sama diungkapkan, Budi, (40). Dia hanya bisa berharap pemerintah membantu mencarikan tempat tinggal yang layak. &amp;ldquo;Kami sekarang bingung mau tinggal dimana,&amp;rdquo; ungkapnya.
&amp;nbsp;
Seperti diketahui, kemarin petugas menertibkan bangunan liar di atas tanah milik Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta. Rencananya ditertibkan lahan tersebut akan dibangun Kantor Suku Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Timur.</description><content:encoded>JAKARTA - Pagi itu, puluhan warga melakukan aktifitas sehari-hari seperti mencuci, tidur, dan bermain dilakukan dibawah fly over Pamuda, Jalan Ahmad Yani, Rawamangun, Pulogadung, Jakarta Timur.
&amp;nbsp;
Mereka merupakan korban penggusuran lahan milik Dinas Pemadam Kebakaran (DPK) DKI Jakarta, yang tidak memiliki tempat berteduh lagi sehingga terpaksa tinggal di bawah kolong fly over pemuda.
&amp;nbsp;
Salah seorang warga korban penggusuran, Sumarno, (61), menuturkan dirinya bersama istri dan enam orang anaknya sejak semalam, tinggal dibawah fly over Pemuda. &quot;Saya belum mendapatkan kontrakan yang murah untuk ditempati,&quot; ujar Sumarno, kepada Okezone, Selasa, (7/1/2012).
&amp;nbsp;
Menurut pria yang berasal dari Desa Geneng, Ngawi, Madiun ini, di tempat tersebut terdapat sekira 400 Kepala Keluarga (KK). Mereka tak mampu membeli rumah karena kebanyakan hanya bekerja sebagai pemulung.
&amp;nbsp;
Sumarno mengatakan, sebelum digusur, dia sebenarnya sudah mengetahui bahwa kontrakan berukuran 2 x 2 meter yang ditempatinya adalah tanah sengketa milik Dinas Pemadam Kebakaran.
&amp;nbsp;
&quot;Ya, mau gimana, abisnya kontrakan di sini cuma 200 ribu, dan penghasilan saya per hari hanya 30 ribu,&amp;rdquo; jelasnya.
&amp;nbsp;
Hal yang sama diungkapkan, Budi, (40). Dia hanya bisa berharap pemerintah membantu mencarikan tempat tinggal yang layak. &amp;ldquo;Kami sekarang bingung mau tinggal dimana,&amp;rdquo; ungkapnya.
&amp;nbsp;
Seperti diketahui, kemarin petugas menertibkan bangunan liar di atas tanah milik Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta. Rencananya ditertibkan lahan tersebut akan dibangun Kantor Suku Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Timur.</content:encoded></item></channel></rss>
