<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Memprihatinkan, Sejak Lahir Kulit Frederika Bersisik</title><description>Kulit Frederika tampak seperti orang terbakar. Dia kerap menangis seperti kepanasan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2012/02/08/340/572023/memprihatinkan-sejak-lahir-kulit-frederika-bersisik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/02/08/340/572023/memprihatinkan-sejak-lahir-kulit-frederika-bersisik"/><item><title>Memprihatinkan, Sejak Lahir Kulit Frederika Bersisik</title><link>https://news.okezone.com/read/2012/02/08/340/572023/memprihatinkan-sejak-lahir-kulit-frederika-bersisik</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/02/08/340/572023/memprihatinkan-sejak-lahir-kulit-frederika-bersisik</guid><pubDate>Rabu 08 Februari 2012 23:05 WIB</pubDate><dc:creator>Dion Umbu Ana Lodu</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/02/08/340/572023/i1JJLRaBdD.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Frederika digendong ayahnya (Dok: Sindo TV/Dion Umbu Ana Lodu)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/02/08/340/572023/i1JJLRaBdD.jpg</image><title>Frederika digendong ayahnya (Dok: Sindo TV/Dion Umbu Ana Lodu)</title></images><description>WAINGAPU - Bayi yang tinggal di daerah terpencil di Desa Mbatakapidu, Kecamatan Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami kelainan.&amp;nbsp;Tubuh anak pasangan Pura Ndjurumana (41) dan Herlina Mora Lambu (34) itu dipenuhi sisik beberapa jam setelah dilahirkan.Frederika Luya Kupang, bayi berusia 11 bulan, terus menangis di pangkuan bapaknya saat ditemui di kediamannya.Dituturkan Herlina, kulit sekujur tubuh anak perempuannya tampak seperti baru terbakar. Kulit Frederika sudah bersisik tiga jam setelah lahir.&amp;ldquo;Waktu lahir dia normal, tapi kurang lebih tiga jam kemudian kulitnya mengering. Kemudian dibawa ke rumah sakit dan sempat dirawat 14 hari, tetapi tetap saja tidak ada perubahan,&amp;rdquo; urai Herlina.Jika cuaca panas anaknya selalu menangis seperti orang terbakar. &amp;ldquo;Kalau sudah panas, dia sulit tidur, mungkin kulitnya seperti terbakar. Kami hanya bantu kipas. Kalau dia menyusui baru sedikit tenang,&amp;rdquo; tuturnya.Orangtua bayi yang berpenghasilan seadanya, dari hasil tani dan penganyam tikar pandan tradisional, tak mampu membiayai pengobatan. Penghasilan yang didapat hanya cukup untuk makan keluarga. Pasangan Pura dan Herlina memiliki enam anak.&amp;ldquo;Sekali berobat salepnya saja hampir Rp100 ribu, belum lagi kalau ke kota harus naik ojek pulang pergi bisa Rp60 ribu,&amp;rdquo; timpal Pura.Keluarga berharap ada perhatian dari pemerintah setempat. &amp;ldquo;Belum sekalipun kami dapat bantuan dari kunjungan dari pemerintah. Apalagi jalan ke sini susah. Dulu ada orang dari dinas sosial yang datang foto anak kami. Katanya untuk diproses pemberian bantuan, namun sampai sekarang tidak ada bantuan yang datang. Kami sangat mengharapkan bantuan untuk kesembuhan anak kami,&amp;rdquo; harap Pura.</description><content:encoded>WAINGAPU - Bayi yang tinggal di daerah terpencil di Desa Mbatakapidu, Kecamatan Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami kelainan.&amp;nbsp;Tubuh anak pasangan Pura Ndjurumana (41) dan Herlina Mora Lambu (34) itu dipenuhi sisik beberapa jam setelah dilahirkan.Frederika Luya Kupang, bayi berusia 11 bulan, terus menangis di pangkuan bapaknya saat ditemui di kediamannya.Dituturkan Herlina, kulit sekujur tubuh anak perempuannya tampak seperti baru terbakar. Kulit Frederika sudah bersisik tiga jam setelah lahir.&amp;ldquo;Waktu lahir dia normal, tapi kurang lebih tiga jam kemudian kulitnya mengering. Kemudian dibawa ke rumah sakit dan sempat dirawat 14 hari, tetapi tetap saja tidak ada perubahan,&amp;rdquo; urai Herlina.Jika cuaca panas anaknya selalu menangis seperti orang terbakar. &amp;ldquo;Kalau sudah panas, dia sulit tidur, mungkin kulitnya seperti terbakar. Kami hanya bantu kipas. Kalau dia menyusui baru sedikit tenang,&amp;rdquo; tuturnya.Orangtua bayi yang berpenghasilan seadanya, dari hasil tani dan penganyam tikar pandan tradisional, tak mampu membiayai pengobatan. Penghasilan yang didapat hanya cukup untuk makan keluarga. Pasangan Pura dan Herlina memiliki enam anak.&amp;ldquo;Sekali berobat salepnya saja hampir Rp100 ribu, belum lagi kalau ke kota harus naik ojek pulang pergi bisa Rp60 ribu,&amp;rdquo; timpal Pura.Keluarga berharap ada perhatian dari pemerintah setempat. &amp;ldquo;Belum sekalipun kami dapat bantuan dari kunjungan dari pemerintah. Apalagi jalan ke sini susah. Dulu ada orang dari dinas sosial yang datang foto anak kami. Katanya untuk diproses pemberian bantuan, namun sampai sekarang tidak ada bantuan yang datang. Kami sangat mengharapkan bantuan untuk kesembuhan anak kami,&amp;rdquo; harap Pura.</content:encoded></item></channel></rss>
