<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Beli Pesawat Presiden Hasil Hutang, Tanda Pemerintah Tak Peka</title><description>Pengamat Politik Ray Rangkuti menilai bahwa pembelian pesawat khusus  kepresidenan dari hasil utang jelas menunjukkan betapa pemerintah tidak  peka.
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2012/02/11/337/573766/beli-pesawat-presiden-hasil-hutang-tanda-pemerintah-tak-peka</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/02/11/337/573766/beli-pesawat-presiden-hasil-hutang-tanda-pemerintah-tak-peka"/><item><title>Beli Pesawat Presiden Hasil Hutang, Tanda Pemerintah Tak Peka</title><link>https://news.okezone.com/read/2012/02/11/337/573766/beli-pesawat-presiden-hasil-hutang-tanda-pemerintah-tak-peka</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/02/11/337/573766/beli-pesawat-presiden-hasil-hutang-tanda-pemerintah-tak-peka</guid><pubDate>Sabtu 11 Februari 2012 08:42 WIB</pubDate><dc:creator>K. Yudha Wirakusuma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/02/11/337/573766/DIpPDM0lxO.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pesawat Kepresidenan (Foto: Repro Susi/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/02/11/337/573766/DIpPDM0lxO.jpg</image><title>Pesawat Kepresidenan (Foto: Repro Susi/Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Pengamat Politik Ray Rangkuti menilai bahwa pembelian pesawat khusus kepresidenan dari hasil utang jelas menunjukkan betapa pemerintah tidak peka.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Bukan tidak boleh, tapi liat situasinya, bukan melarang, kebijakan situasi menghabiskan dana, tidak berhambur-hamburkan uang hampir Rp1 Triliun,&amp;rdquo; kata Ray saat berbincang dengan okezone, Sabtu (11/2/2012).
&amp;nbsp;
Dia menambahkan saat ini kondisi masyarakat Indonesia tengah sulit, dimana kebutuhan pokok yang terus merangkat naik, belum lagi ancaman kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Ini jelas menyakiti hati rakyat dan seolah pemerintah tidak peka terhadap apa yang dialami oleh rakyat,&amp;rdquo; terangnya.
&amp;nbsp;
Presiden susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidatonya berulang kali menekankan soal penghematan, namun kenyataannya Kepala Negara tidak melakukan penghematan.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Hingga saat ini kita belum mengetahui jenis pesawat yang di beli, dan saya melihat prosesnya memang tidak terlalu transparan,&amp;rdquo; tukasnya.
&amp;nbsp;
Sebelumnya, Koordinator Advokasi dan Investigasi Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Uchok Sky Khadafi mengatakan bahwa pembelian pesawat khusus presiden hasil dari hutang.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Kalau pembelian pesawat bukan dari utang, memang pihak luar negeri mau bayar dengan rupiah? Pasti enggak mau dong, maka bayar dari utang,&amp;rdquo; ujar Uchok dalam pesan singkatnya kepada okezone, 10 Februari kemarin.  Menurut Uchok, pembayaran pengadaan pengadaan pesawat tertanggal 21 Januari 2012 kepada pihak Boeing Company jelas-jelas memperlihatkan pemerintah tengah &amp;ldquo;kucing-kucingan&amp;rdquo; dengan publik demi meng-goalkan pembelian pesawat kepresidenan tersebut.  &amp;ldquo;Dan Istana tidak tahu malu, karena pembelian pesawat ini sangat mengusik rasa keadilan rakyat, dan publik pasti menolak pembelian ini karena hanya mengahambur-hamburkan duit utang saja, dan yang bayar tetap disuruh rakyat melalui pajak,&amp;rdquo; tegasnya.(kyw)</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Pengamat Politik Ray Rangkuti menilai bahwa pembelian pesawat khusus kepresidenan dari hasil utang jelas menunjukkan betapa pemerintah tidak peka.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Bukan tidak boleh, tapi liat situasinya, bukan melarang, kebijakan situasi menghabiskan dana, tidak berhambur-hamburkan uang hampir Rp1 Triliun,&amp;rdquo; kata Ray saat berbincang dengan okezone, Sabtu (11/2/2012).
&amp;nbsp;
Dia menambahkan saat ini kondisi masyarakat Indonesia tengah sulit, dimana kebutuhan pokok yang terus merangkat naik, belum lagi ancaman kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Ini jelas menyakiti hati rakyat dan seolah pemerintah tidak peka terhadap apa yang dialami oleh rakyat,&amp;rdquo; terangnya.
&amp;nbsp;
Presiden susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidatonya berulang kali menekankan soal penghematan, namun kenyataannya Kepala Negara tidak melakukan penghematan.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Hingga saat ini kita belum mengetahui jenis pesawat yang di beli, dan saya melihat prosesnya memang tidak terlalu transparan,&amp;rdquo; tukasnya.
&amp;nbsp;
Sebelumnya, Koordinator Advokasi dan Investigasi Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Uchok Sky Khadafi mengatakan bahwa pembelian pesawat khusus presiden hasil dari hutang.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Kalau pembelian pesawat bukan dari utang, memang pihak luar negeri mau bayar dengan rupiah? Pasti enggak mau dong, maka bayar dari utang,&amp;rdquo; ujar Uchok dalam pesan singkatnya kepada okezone, 10 Februari kemarin.  Menurut Uchok, pembayaran pengadaan pengadaan pesawat tertanggal 21 Januari 2012 kepada pihak Boeing Company jelas-jelas memperlihatkan pemerintah tengah &amp;ldquo;kucing-kucingan&amp;rdquo; dengan publik demi meng-goalkan pembelian pesawat kepresidenan tersebut.  &amp;ldquo;Dan Istana tidak tahu malu, karena pembelian pesawat ini sangat mengusik rasa keadilan rakyat, dan publik pasti menolak pembelian ini karena hanya mengahambur-hamburkan duit utang saja, dan yang bayar tetap disuruh rakyat melalui pajak,&amp;rdquo; tegasnya.(kyw)</content:encoded></item></channel></rss>
