<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cuma Dialog Solusi Persoalan Konflik Agama</title><description>Taufiq Kiemas yakin dialog adalah kunci penyelesaian konflik bernuansa SARA di Indonesia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2012/02/12/340/574189/cuma-dialog-solusi-persoalan-konflik-agama</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/02/12/340/574189/cuma-dialog-solusi-persoalan-konflik-agama"/><item><title>Cuma Dialog Solusi Persoalan Konflik Agama</title><link>https://news.okezone.com/read/2012/02/12/340/574189/cuma-dialog-solusi-persoalan-konflik-agama</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/02/12/340/574189/cuma-dialog-solusi-persoalan-konflik-agama</guid><pubDate>Minggu 12 Februari 2012 15:18 WIB</pubDate><dc:creator>Rizka Diputra</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/02/12/340/574189/dmDoy9XNNv.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Taufiq Kiemas (Foto: Koran SI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/02/12/340/574189/dmDoy9XNNv.jpg</image><title>Taufiq Kiemas (Foto: Koran SI)</title></images><description>JAKARTA - Maraknya konflik di masyarakat khususnya dilatarbelakangi oleh isu agama menjadi pekerjaan rumah serius bagi masyarakat dan pemerintah.&amp;nbsp;Bangsa majemuk seperti Indonesia terbilang rawan konflik bernuansa SARA, jika semangat toleransi dan saling menghargai tidak dipupuk.&amp;ldquo;Semua harmoninya harus ada, kalau harmoni tidak ada, kata Pak Din (Din Syamsudin) simfoninya tidak ada,&amp;rdquo; ujar Ketua MPR Taufiq Kiemas didampingi Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsudin di sela acara puncak perayaan Pekan Kerukunan Antar-Umat Beragama, World Interfaith Harmony Week 2012, di Auditorium Gedung Nusantara IV kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta, Minggu (12/2/2012).Solusi dari konflik agama yang terpenting, menurut suami Megawati Soekarnoputri, itu adalah senantiasa melakukan dialog.&amp;ldquo;Ada dialog cuma dialog saja yang bisa menyelesaikan semua keadaan ini,&quot; pungkasnya.Seperti diketahui, konflik bernuansa agama belakangan marak mendera bangsa ini. Mulai kerusuhan di Ambon, Maluku, perebutan lahan jemaat GKI Yasmin di Bogor, hingga penghadangan delegasi FPI oleh warga Dayak Palangkaraya, Kalimantan Tengah, kemarin.Kondisi ini terbilang ironis, mengingat Indonesia dikenal dengan bangsa dengan keramah-tamahan serta semangat toleransi dan kekeluargaan yang tinggi sebagai amanat Pancasila dan UUD 1945.</description><content:encoded>JAKARTA - Maraknya konflik di masyarakat khususnya dilatarbelakangi oleh isu agama menjadi pekerjaan rumah serius bagi masyarakat dan pemerintah.&amp;nbsp;Bangsa majemuk seperti Indonesia terbilang rawan konflik bernuansa SARA, jika semangat toleransi dan saling menghargai tidak dipupuk.&amp;ldquo;Semua harmoninya harus ada, kalau harmoni tidak ada, kata Pak Din (Din Syamsudin) simfoninya tidak ada,&amp;rdquo; ujar Ketua MPR Taufiq Kiemas didampingi Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsudin di sela acara puncak perayaan Pekan Kerukunan Antar-Umat Beragama, World Interfaith Harmony Week 2012, di Auditorium Gedung Nusantara IV kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta, Minggu (12/2/2012).Solusi dari konflik agama yang terpenting, menurut suami Megawati Soekarnoputri, itu adalah senantiasa melakukan dialog.&amp;ldquo;Ada dialog cuma dialog saja yang bisa menyelesaikan semua keadaan ini,&quot; pungkasnya.Seperti diketahui, konflik bernuansa agama belakangan marak mendera bangsa ini. Mulai kerusuhan di Ambon, Maluku, perebutan lahan jemaat GKI Yasmin di Bogor, hingga penghadangan delegasi FPI oleh warga Dayak Palangkaraya, Kalimantan Tengah, kemarin.Kondisi ini terbilang ironis, mengingat Indonesia dikenal dengan bangsa dengan keramah-tamahan serta semangat toleransi dan kekeluargaan yang tinggi sebagai amanat Pancasila dan UUD 1945.</content:encoded></item></channel></rss>
