<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Orangtua SM Hanya Tukang Pijit Tuna Netra</title><description>Pasangan suami istri Sukino (48) dan Nurmuidah (42) terlihat sabar menghadapi cobaan yang menimpa anak keempatnya, SM (12), bocah kelas 6 SD di kawasan Depok.</description><link>https://news.okezone.com/read/2012/02/18/338/578265/orangtua-sm-hanya-tukang-pijit-tuna-netra</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/02/18/338/578265/orangtua-sm-hanya-tukang-pijit-tuna-netra"/><item><title>Orangtua SM Hanya Tukang Pijit Tuna Netra</title><link>https://news.okezone.com/read/2012/02/18/338/578265/orangtua-sm-hanya-tukang-pijit-tuna-netra</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/02/18/338/578265/orangtua-sm-hanya-tukang-pijit-tuna-netra</guid><pubDate>Sabtu 18 Februari 2012 18:41 WIB</pubDate><dc:creator>Marieska Harya Virdhani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/02/18/338/578265/Cp85szFlOE.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/02/18/338/578265/Cp85szFlOE.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>DEPOK - Pasangan suami istri Sukino (48) dan Nurmuidah (42) terlihat sabar menghadapi cobaan yang menimpa anak keempatnya, SM (12), bocah kelas 6 SD di kawasan Depok. Mereka dengan tabah menunggu SM yang sedang dirawat di ruang ICU RS Fatmawati setelah ditusuk sebanyak delapan tusukan oleh teman sekelasnya sendiri, AMN (13).Sukino dan Nurmuidah harus mengeluarkan kocek lebih saat ini untuk biaya perawatan dan ongkos bolak-balik ke rumah sakit. Meskipun, rencananya Kementrian Sosial akan membantu keluarga itu dengan menanggung seluruh biayanya dengan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), tetapi tetap saja musibah ini cukup sulit dihadapi oleh pasangan ini.Bayangkan saja, Sukino dan Nurmuidah adalah pasangan dengan keterbatasan fisik, yakni tuna netra. Sukirno hanya seorang tukang pijat tuna netra yang bekerja di daerah Jakarta Selatan. Sementara Nurmuidah juga tukang pijat tuna netra di rumahnya.&amp;ldquo;Kalau Sukino kerja sama orang di Jakarta, tukang pijat, jadi dapat komisi 30 persen per pasien yang diurut, paling hanya Rp35 ribu per pasien, 30 persennya hanya Rp15 ribu, sehari paling banyak ada tiga hingga empat pasien, kalau istrinya pijat di rumah Rp25 ribu per pasien, bisa juga dipanggil dibayar Rp50 ribu, jadi mikirin uang untuk biaya rumah sakit, ongkos, sudah pusing untuk biaya makan,&amp;rdquo; ujar Paman SM, Nurhasan di rumah SM&amp;nbsp; Jalan H Jaeran RT 004/01 No 17 Cinere, Depok, Sabtu (18/02/12).Rumah yang mereka tinggali, kata Nurhasan, adalah rumah pemberian dari pasien Sukino, ayah SM. &amp;ldquo;Jadi banyak yang melihat mungkin kita punya rumah, bukan begitu, ini rumah pemberian karena jasa memijat, sudah akrab jadi dikasih,&amp;rdquo; tegasnya.Nurhasan mengaku pihak keluarga menerima dengan ikhlas kejadian yang menimpa Syaiful. Dia pun tidak menaruh dendam pada AMN, bocah 13 tahun yang menusuk keponakannya.&quot;Sama sekali saya dan kami tak ada dendam, saya berusaha memosisiskan gimana kalau saya atau SM yang diposisi AMN, kalau bicara hukum itukan sudah diurus polisi, kami serahkan semuanya pada hukum, tapi tak ada tuntutan ingin dihukum berapa tahun, yang penting keponakan saya segera pulih, itu saja,&amp;rdquo; tuturnya.</description><content:encoded>DEPOK - Pasangan suami istri Sukino (48) dan Nurmuidah (42) terlihat sabar menghadapi cobaan yang menimpa anak keempatnya, SM (12), bocah kelas 6 SD di kawasan Depok. Mereka dengan tabah menunggu SM yang sedang dirawat di ruang ICU RS Fatmawati setelah ditusuk sebanyak delapan tusukan oleh teman sekelasnya sendiri, AMN (13).Sukino dan Nurmuidah harus mengeluarkan kocek lebih saat ini untuk biaya perawatan dan ongkos bolak-balik ke rumah sakit. Meskipun, rencananya Kementrian Sosial akan membantu keluarga itu dengan menanggung seluruh biayanya dengan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), tetapi tetap saja musibah ini cukup sulit dihadapi oleh pasangan ini.Bayangkan saja, Sukino dan Nurmuidah adalah pasangan dengan keterbatasan fisik, yakni tuna netra. Sukirno hanya seorang tukang pijat tuna netra yang bekerja di daerah Jakarta Selatan. Sementara Nurmuidah juga tukang pijat tuna netra di rumahnya.&amp;ldquo;Kalau Sukino kerja sama orang di Jakarta, tukang pijat, jadi dapat komisi 30 persen per pasien yang diurut, paling hanya Rp35 ribu per pasien, 30 persennya hanya Rp15 ribu, sehari paling banyak ada tiga hingga empat pasien, kalau istrinya pijat di rumah Rp25 ribu per pasien, bisa juga dipanggil dibayar Rp50 ribu, jadi mikirin uang untuk biaya rumah sakit, ongkos, sudah pusing untuk biaya makan,&amp;rdquo; ujar Paman SM, Nurhasan di rumah SM&amp;nbsp; Jalan H Jaeran RT 004/01 No 17 Cinere, Depok, Sabtu (18/02/12).Rumah yang mereka tinggali, kata Nurhasan, adalah rumah pemberian dari pasien Sukino, ayah SM. &amp;ldquo;Jadi banyak yang melihat mungkin kita punya rumah, bukan begitu, ini rumah pemberian karena jasa memijat, sudah akrab jadi dikasih,&amp;rdquo; tegasnya.Nurhasan mengaku pihak keluarga menerima dengan ikhlas kejadian yang menimpa Syaiful. Dia pun tidak menaruh dendam pada AMN, bocah 13 tahun yang menusuk keponakannya.&quot;Sama sekali saya dan kami tak ada dendam, saya berusaha memosisiskan gimana kalau saya atau SM yang diposisi AMN, kalau bicara hukum itukan sudah diurus polisi, kami serahkan semuanya pada hukum, tapi tak ada tuntutan ingin dihukum berapa tahun, yang penting keponakan saya segera pulih, itu saja,&amp;rdquo; tuturnya.</content:encoded></item></channel></rss>
