<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menlu Rusia: Kami Tak Lindungi Rezim Suriah</title><description>Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menegaskan, Rusia tidak  melindungi rezim mana pun termasuk rezim Presiden Suriah Bashar  al-Assad. Pernyataan itu muncul ditengah kecaman internasional terhadap Rusia dan China yang dinilai mendukung rezim Presiden Suriah.</description><link>https://news.okezone.com/read/2012/03/11/412/590781/menlu-rusia-kami-tak-lindungi-rezim-suriah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/03/11/412/590781/menlu-rusia-kami-tak-lindungi-rezim-suriah"/><item><title>Menlu Rusia: Kami Tak Lindungi Rezim Suriah</title><link>https://news.okezone.com/read/2012/03/11/412/590781/menlu-rusia-kami-tak-lindungi-rezim-suriah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/03/11/412/590781/menlu-rusia-kami-tak-lindungi-rezim-suriah</guid><pubDate>Minggu 11 Maret 2012 09:05 WIB</pubDate><dc:creator>Khairisa Ferida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/03/10/412/590781/TXtLSAOFxv.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov (Foto: Press TV)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/03/10/412/590781/TXtLSAOFxv.jpg</image><title>Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov (Foto: Press TV)</title></images><description>KAIRO - Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menegaskan, Rusia tidak melindungi rezim mana pun termasuk rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad.&quot;Kami tidak melindungi rezim mana pun, yang Kami lindungi adalah hukum internasional. Kami tidak memiliki kepentingan khusus atau mencari kepentingan atas kondisi geopolitik dalam masalah ini,&quot; ujar Sergey Lavrov yang berbicara di hadapan Menteri Luar Negeri Negara-negara Arab di Kairo seperti dikutip Associated Press Minggu, (11/3/2012).Ditambahkan Menlu Lavrov, kebijakan Rusia itu adalah upaya untuk mempromosikan resolusi damai bagi krisis Suriah yang memungkinkan terbukanya akses bagi relawan untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan.&quot;Jika Kami setuju dengan resolusi itu, maka nantinya Kita akan terjebak dalam argumen siapa yang harus disalahkan atas pertumpahan darah yang terjadi di Suriah,&quot; ujar Menlu Lavrov.Pernyataan Menlu Rusia itu muncul di tengah kecaman internasional atas sikap Rusia dan China yang telah memveto resolusi Dewan Keamanan PBB terhadap Suriah.Kedua negara itu dinilai telah membuka jalan bagi rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad untuk mengintensifkan tindakan kekerasan yang telah berlangsung dan menewaskan lebih dari 7.500 orang hampir selama satu tahun belakangan ini.</description><content:encoded>KAIRO - Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menegaskan, Rusia tidak melindungi rezim mana pun termasuk rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad.&quot;Kami tidak melindungi rezim mana pun, yang Kami lindungi adalah hukum internasional. Kami tidak memiliki kepentingan khusus atau mencari kepentingan atas kondisi geopolitik dalam masalah ini,&quot; ujar Sergey Lavrov yang berbicara di hadapan Menteri Luar Negeri Negara-negara Arab di Kairo seperti dikutip Associated Press Minggu, (11/3/2012).Ditambahkan Menlu Lavrov, kebijakan Rusia itu adalah upaya untuk mempromosikan resolusi damai bagi krisis Suriah yang memungkinkan terbukanya akses bagi relawan untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan.&quot;Jika Kami setuju dengan resolusi itu, maka nantinya Kita akan terjebak dalam argumen siapa yang harus disalahkan atas pertumpahan darah yang terjadi di Suriah,&quot; ujar Menlu Lavrov.Pernyataan Menlu Rusia itu muncul di tengah kecaman internasional atas sikap Rusia dan China yang telah memveto resolusi Dewan Keamanan PBB terhadap Suriah.Kedua negara itu dinilai telah membuka jalan bagi rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad untuk mengintensifkan tindakan kekerasan yang telah berlangsung dan menewaskan lebih dari 7.500 orang hampir selama satu tahun belakangan ini.</content:encoded></item></channel></rss>
