<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>53 Ekor Gajah Sudah Punah, Tak Ada Satupun Tersangka</title><description>Salah satu penyebab terbesar kematia mamalia raksasa ini adalah akibat dibantai manusia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2012/03/18/340/595468/53-ekor-gajah-sudah-punah-tak-ada-satupun-tersangka</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/03/18/340/595468/53-ekor-gajah-sudah-punah-tak-ada-satupun-tersangka"/><item><title>53 Ekor Gajah Sudah Punah, Tak Ada Satupun Tersangka</title><link>https://news.okezone.com/read/2012/03/18/340/595468/53-ekor-gajah-sudah-punah-tak-ada-satupun-tersangka</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/03/18/340/595468/53-ekor-gajah-sudah-punah-tak-ada-satupun-tersangka</guid><pubDate>Minggu 18 Maret 2012 23:03 WIB</pubDate><dc:creator>Banda Haruddin Tanjung</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/03/18/340/595468/H35Bt1r36N.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/03/18/340/595468/H35Bt1r36N.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)</title></images><description>PEKANBARU - Dalam kurun waktu kurang dari 6 tahun, sedikitnya 53 ekor gajah Sumatera mati di Riau. Salah satu penyebab terbesar kematia mamalia raksasa ini adalah akibat dibantai manusia.Kendati demikian sejauh ini, tidak satupun pelaku berhasil ditangkap, apalagi diseret ke meja hijau. Hal inilah yang membuat habitat gajah mendekati kepunahan.&quot;Memang sampai saat ini tidak satupun ditangkap oleh petugas. Ini sangat ironis. Padahal saat habitat gajah statusnya tidak hanya kritis, tetapi sudah sangat kritis,&quot; kata Humas World Wildlife Fund (WWF) Riau Syamsidar kepada okezone, Minggu (18/3/2012).Menurut dia, dengan tidak satupun pelaku ditangkap, tentunya akan sangat mengancam kelangsungan hudup satwa langka ini. &amp;ldquo;Orang tentu semakin tidak takut untuk membunuh gajah. Padahal gajah merupakan satwa yang dilindungi Pemerintah. Ini akibat tidak ada yang tertangkap pelakunya. Otomatis tidak efek jera bagi pelaku, apalagi pemburu liar,&quot; pungkasnya.Dari catatan WWF, pada 2006 misalnya, gajah Sumatera yang mati mencapai 24 ekor. Di antaranya ditemukan di Kabupaten Pelalawan sembilan ekor, Rokan Hulu delapan ekor, Kuansing lima ekor, serta Siak dan Bengkalis masing-masing dua dan satu ekor.Untuk tahun&amp;nbsp; 2007, jumlah gajah mati sedikit menurun, yaitu lima ekor. Gajah tersebut ditemukan di tiga kabupaten yakni, Kuansing, Kampar, dan Bengkalis. Tahun berikutnya angka kematian gajah kembali naik. Tercatat tujuh gajah menjadi bangkai akibat ulah manusia. Hewan bongsor ini ditemukan mati di Inhu dan Bengkalis masing-masing tiga ekor. Sementara seekor mati di Kabupaten Kampar.Pada 2009, kematian gajah semakin bertambah. Sembilan gajah ditemukan mati di Kabupaten Bengkalis tiga ekor dan Pelalawan enam ekor. Bahkan tidak hanya dialam liar, gajah juga ditemukan mati di Taman Nasional Teso Nilo(TNTN) beberapa ekor juga mati. Tahun 2010 Ditemukan tujuh kasus kematian gajah.&quot; Ini gajah baru yang terdeteksi saja. Mungkin banyak juga gajah yang mati tidak diketahui rimbanya. Untuk tahun 2011 memang tidak ada. Namun tahun 2012 ini sudah ada empat ekor gajah ditemukan mati. Kita kwatir, jika ini dibiarkan, kepunahan gajah semakin tidak terhindarkan&quot; tukasnya.Konflik gajah di Riau sering terjadi akibat rusaknya hutan. Baik dilakukan oleh perusahaan maupun masyakarat dengan melakukan alih fungsi hutan menjadi perkebunan, HTI maupun pemukiman.</description><content:encoded>PEKANBARU - Dalam kurun waktu kurang dari 6 tahun, sedikitnya 53 ekor gajah Sumatera mati di Riau. Salah satu penyebab terbesar kematia mamalia raksasa ini adalah akibat dibantai manusia.Kendati demikian sejauh ini, tidak satupun pelaku berhasil ditangkap, apalagi diseret ke meja hijau. Hal inilah yang membuat habitat gajah mendekati kepunahan.&quot;Memang sampai saat ini tidak satupun ditangkap oleh petugas. Ini sangat ironis. Padahal saat habitat gajah statusnya tidak hanya kritis, tetapi sudah sangat kritis,&quot; kata Humas World Wildlife Fund (WWF) Riau Syamsidar kepada okezone, Minggu (18/3/2012).Menurut dia, dengan tidak satupun pelaku ditangkap, tentunya akan sangat mengancam kelangsungan hudup satwa langka ini. &amp;ldquo;Orang tentu semakin tidak takut untuk membunuh gajah. Padahal gajah merupakan satwa yang dilindungi Pemerintah. Ini akibat tidak ada yang tertangkap pelakunya. Otomatis tidak efek jera bagi pelaku, apalagi pemburu liar,&quot; pungkasnya.Dari catatan WWF, pada 2006 misalnya, gajah Sumatera yang mati mencapai 24 ekor. Di antaranya ditemukan di Kabupaten Pelalawan sembilan ekor, Rokan Hulu delapan ekor, Kuansing lima ekor, serta Siak dan Bengkalis masing-masing dua dan satu ekor.Untuk tahun&amp;nbsp; 2007, jumlah gajah mati sedikit menurun, yaitu lima ekor. Gajah tersebut ditemukan di tiga kabupaten yakni, Kuansing, Kampar, dan Bengkalis. Tahun berikutnya angka kematian gajah kembali naik. Tercatat tujuh gajah menjadi bangkai akibat ulah manusia. Hewan bongsor ini ditemukan mati di Inhu dan Bengkalis masing-masing tiga ekor. Sementara seekor mati di Kabupaten Kampar.Pada 2009, kematian gajah semakin bertambah. Sembilan gajah ditemukan mati di Kabupaten Bengkalis tiga ekor dan Pelalawan enam ekor. Bahkan tidak hanya dialam liar, gajah juga ditemukan mati di Taman Nasional Teso Nilo(TNTN) beberapa ekor juga mati. Tahun 2010 Ditemukan tujuh kasus kematian gajah.&quot; Ini gajah baru yang terdeteksi saja. Mungkin banyak juga gajah yang mati tidak diketahui rimbanya. Untuk tahun 2011 memang tidak ada. Namun tahun 2012 ini sudah ada empat ekor gajah ditemukan mati. Kita kwatir, jika ini dibiarkan, kepunahan gajah semakin tidak terhindarkan&quot; tukasnya.Konflik gajah di Riau sering terjadi akibat rusaknya hutan. Baik dilakukan oleh perusahaan maupun masyakarat dengan melakukan alih fungsi hutan menjadi perkebunan, HTI maupun pemukiman.</content:encoded></item></channel></rss>
