<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sistem Terbuka Ibarat Tim Sepak Bola </title><description>Menurut Politikus PKS, dengan UU Pemilu yang baru maka akan menciptakan sebuah kompetisi baru, termasuk kompetisi di dalam internal partai sendiri.</description><link>https://news.okezone.com/read/2012/04/14/339/611467/sistem-terbuka-ibarat-tim-sepak-bola</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/04/14/339/611467/sistem-terbuka-ibarat-tim-sepak-bola"/><item><title>Sistem Terbuka Ibarat Tim Sepak Bola </title><link>https://news.okezone.com/read/2012/04/14/339/611467/sistem-terbuka-ibarat-tim-sepak-bola</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/04/14/339/611467/sistem-terbuka-ibarat-tim-sepak-bola</guid><pubDate>Sabtu 14 April 2012 11:09 WIB</pubDate><dc:creator>Tegar Arief Fadly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/04/14/339/611467/iJ9K0lyAuO.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ketua RUU Pemilu menyerahkan hasil rapat ke Pimpinan DPR (foto:okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/04/14/339/611467/iJ9K0lyAuO.jpg</image><title>Ketua RUU Pemilu menyerahkan hasil rapat ke Pimpinan DPR (foto:okezone)</title></images><description>JAKARTA - Ketua Panitia Khusus (Pansus) Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemilu Arif Wibowo beranggapan, pemilu sistem terbuka menjadikan partai tidak maksimal. Kaderisasi juga tidak akan berjalan.Dia memastikan, dengan sistem tersebut kaderisasi tidak akan berguna, karena terlalu banyak kursi. &amp;ldquo;Jadi partai semacam ini mirip club sepak bola, terlalu gambling,&amp;rdquo; ujarnya dalam diskusi Polemik Sindo Radio, bertema UU Pemilu Bikin Pilu, di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (14/04/2012).Anggota Komisi II ini menambahkan, dengan UU Pemilu yang baru maka akan menciptakan sebuah kompetisi baru, termasuk kompetisi di dalam internal partai sendiri.&quot;Dengan hasil UU itu, kita memperebutkan kekuasaan, kompetisi yang jor-joran. Kalau terbuka justru memilih kucing garong,&quot; imbuh Arif.Karena menurutnya dalam sistem proporsional terbuka, maka kader yang memiliki kemampuan bagus bukan jaminan untuk dia dapat menang dalam pemilu. &quot;Bayangkan, seorang yang dianggap partainya baik, tapi dia harus dikalahkan oleh kader lain, yang kemampuan di bawah, tapi populer dan punya uang,&quot; jelasnya.Lebih lanjut, kata Arif, mengapa fraksi PKS ngotot memilih sistem tertutup agar dapat meminimalisir biaya pemilu yang dikeluarkan, baik oleh pemerintah, ataupun oleh partai politik.&quot;Bagaimana pemilu yang sederhana dan murah. Itu makanya minta proporsional tertutup. Juga mengenai biaya yang dikeluarkan, yakni oleh negara yang berasal dari uang rakyat dan anggaran yang dikeluarkan oleh partai,&quot; pungkasnya.(amr)</description><content:encoded>JAKARTA - Ketua Panitia Khusus (Pansus) Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemilu Arif Wibowo beranggapan, pemilu sistem terbuka menjadikan partai tidak maksimal. Kaderisasi juga tidak akan berjalan.Dia memastikan, dengan sistem tersebut kaderisasi tidak akan berguna, karena terlalu banyak kursi. &amp;ldquo;Jadi partai semacam ini mirip club sepak bola, terlalu gambling,&amp;rdquo; ujarnya dalam diskusi Polemik Sindo Radio, bertema UU Pemilu Bikin Pilu, di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (14/04/2012).Anggota Komisi II ini menambahkan, dengan UU Pemilu yang baru maka akan menciptakan sebuah kompetisi baru, termasuk kompetisi di dalam internal partai sendiri.&quot;Dengan hasil UU itu, kita memperebutkan kekuasaan, kompetisi yang jor-joran. Kalau terbuka justru memilih kucing garong,&quot; imbuh Arif.Karena menurutnya dalam sistem proporsional terbuka, maka kader yang memiliki kemampuan bagus bukan jaminan untuk dia dapat menang dalam pemilu. &quot;Bayangkan, seorang yang dianggap partainya baik, tapi dia harus dikalahkan oleh kader lain, yang kemampuan di bawah, tapi populer dan punya uang,&quot; jelasnya.Lebih lanjut, kata Arif, mengapa fraksi PKS ngotot memilih sistem tertutup agar dapat meminimalisir biaya pemilu yang dikeluarkan, baik oleh pemerintah, ataupun oleh partai politik.&quot;Bagaimana pemilu yang sederhana dan murah. Itu makanya minta proporsional tertutup. Juga mengenai biaya yang dikeluarkan, yakni oleh negara yang berasal dari uang rakyat dan anggaran yang dikeluarkan oleh partai,&quot; pungkasnya.(amr)</content:encoded></item></channel></rss>
