<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Peserta UN Naik Rakit ke Sekolah</title><description>Siswa SMA di Ciamis, terpaksa berebut dan berlarian saat hendak  menaiki rakit karena takut terlambat mengikuti UN.</description><link>https://news.okezone.com/read/2012/04/17/373/612968/peserta-un-naik-rakit-ke-sekolah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/04/17/373/612968/peserta-un-naik-rakit-ke-sekolah"/><item><title>Peserta UN Naik Rakit ke Sekolah</title><link>https://news.okezone.com/read/2012/04/17/373/612968/peserta-un-naik-rakit-ke-sekolah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/04/17/373/612968/peserta-un-naik-rakit-ke-sekolah</guid><pubDate>Selasa 17 April 2012 11:17 WIB</pubDate><dc:creator>Indra Prasasti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/04/17/373/612968/atEPuXeAWM.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Image: corbis.com</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/04/17/373/612968/atEPuXeAWM.jpg</image><title>Image: corbis.com</title></images><description>CIAMIS - Belasan siswa SMA di Ciamis, Jawa Barat (Jabar), terpaksa menggunakan rakit untuk menuju sekolah tempat mereka mengikuti ujian nasional (UN). Bahkan, tak jarang, para siswa ini berebut dan berlarian saat hendak menaiki rakit karena takut terlambat mengikuti UN. &amp;nbsp;Setiap pagi, siswa SMA asal Desa Maruyungsari, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat ini harus berlarian menuju bibir sungai Citanduy untuk menunggu rakit yang akan membawa mereka menyebrang sungai menuju tempat ujian. Aksi rebutan juga kerap terjadi mengingat rakit ini adalah satu-satunya sarana transportasi untuk menyebrangai sungai tersebut. Terlebih, saat ini para siswa harus lebih awal datang ke sekolah karena akan mengikuti UN. Tidak hanya itu, mereka pun harus rela berdesakan dengan warga yang juga hendak menyebrangi sungai. Di atas rakit, para penumpang harus ekstra hati-hati karena selain tidak ada pegangan lantai, rakit pun sangat licin. &amp;nbsp;Para siswa ini memang setiap harinya selalu menggunakan rakit untuk menyebrang menuju sekolah mereka. Pasalnya, jika memilih jalan darat, mereka membutuhkan waktu lebih dari dua jam untuk mencapai sekolah. Hingga kini pemerintah setempat tidak pernah berniat untuk membangun jembatan sebagai penghubung kedua wilayah. Padahal, selain anak sekolah, warga yang hendak berakttivitas juga menggunakan rakit untuk menyebrangi sungai sungai setiap harinya.</description><content:encoded>CIAMIS - Belasan siswa SMA di Ciamis, Jawa Barat (Jabar), terpaksa menggunakan rakit untuk menuju sekolah tempat mereka mengikuti ujian nasional (UN). Bahkan, tak jarang, para siswa ini berebut dan berlarian saat hendak menaiki rakit karena takut terlambat mengikuti UN. &amp;nbsp;Setiap pagi, siswa SMA asal Desa Maruyungsari, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat ini harus berlarian menuju bibir sungai Citanduy untuk menunggu rakit yang akan membawa mereka menyebrang sungai menuju tempat ujian. Aksi rebutan juga kerap terjadi mengingat rakit ini adalah satu-satunya sarana transportasi untuk menyebrangai sungai tersebut. Terlebih, saat ini para siswa harus lebih awal datang ke sekolah karena akan mengikuti UN. Tidak hanya itu, mereka pun harus rela berdesakan dengan warga yang juga hendak menyebrangi sungai. Di atas rakit, para penumpang harus ekstra hati-hati karena selain tidak ada pegangan lantai, rakit pun sangat licin. &amp;nbsp;Para siswa ini memang setiap harinya selalu menggunakan rakit untuk menyebrang menuju sekolah mereka. Pasalnya, jika memilih jalan darat, mereka membutuhkan waktu lebih dari dua jam untuk mencapai sekolah. Hingga kini pemerintah setempat tidak pernah berniat untuk membangun jembatan sebagai penghubung kedua wilayah. Padahal, selain anak sekolah, warga yang hendak berakttivitas juga menggunakan rakit untuk menyebrangi sungai sungai setiap harinya.</content:encoded></item></channel></rss>
