<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Guru Perlu Kreatif Manfaatkan ICT di Sekolah</title><description>Perkembangan teknologi yang membuat dunia makin datar ikut terasa dalam  dunia pendidikan. Artinya, pengelola pendidikan ini juga harus bergerak  cepat dalam beradaptasi. </description><link>https://news.okezone.com/read/2012/05/08/373/625727/guru-perlu-kreatif-manfaatkan-ict-di-sekolah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/05/08/373/625727/guru-perlu-kreatif-manfaatkan-ict-di-sekolah"/><item><title>Guru Perlu Kreatif Manfaatkan ICT di Sekolah</title><link>https://news.okezone.com/read/2012/05/08/373/625727/guru-perlu-kreatif-manfaatkan-ict-di-sekolah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/05/08/373/625727/guru-perlu-kreatif-manfaatkan-ict-di-sekolah</guid><pubDate>Selasa 08 Mei 2012 13:18 WIB</pubDate><dc:creator>Rifa Nadia Nurfuadah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/05/08/373/625727/qwiXUszt09.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto : Rifa Nadia Nurfuadah/okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/05/08/373/625727/qwiXUszt09.jpg</image><title>Foto : Rifa Nadia Nurfuadah/okezone</title></images><description>SINGAPURA - Perkembangan teknologi yang membuat dunia makin datar ikut terasa dalam dunia pendidikan. Artinya, pengelola pendidikan ini juga harus bergerak cepat dalam beradaptasi. Rektor Binus University Harjanto Prabowo menyampaikan, pada dasarnya, tenkologi informasi (TI) membuat kita berada pada level yang sama. Dengan kata lain, kita bisa mengakses informasi yang sama dengan miliaran orang dari berbagai penjuru dunia. &quot;Tetapi, untuk bisa unggul, kita harus memiliki kreativitas. Termasuk para pendidik dan pengelola pendidikan,&quot; kata Harjanto saat mengisi seminar bertajuk Indonesia's Current Education Environtment and Future Challenges to be Faced di Hotel Furuma Riverfront, Singapura, Selasa (8/5/2012). Perkembangan teknologi informasi komunikasi (TIK) yang meliputi banyak platform tersebut telah dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pendidikan. Siswa dan guru, misalnya, mulai terbiasa menggunakan internet untuk mencari berbagai referensi tambahan tentang suatu materi pelajaran. Pada sesi berikutnya, Direktur Binus Center Education Gintoro dan Partner Manager Binus Center Education Erwin Sugiarto mengulik lebih jauh pemanfaatan TIK dalam dunia pendidikan. Di hadapan puluhan kepala sekolah dan pengelola yayasan dari berbagai lembaga pendidikan di Tanah Air tersebut, Gintoro memaparkan, para siswa kini belajar dari mana saja, terutama dengan memanfaatkan internet. Siswa juga menghabiskan waktu dengan teknologi, misalnya untuk bermain game berbasis komputer, membuka Facebook, browsing, dan lainnya. &quot;Siswa generasi digital ini juga dapat belajar lebih mandiri dengan memanfaatkan teknologi. Contonhya, dengan melihat video dari youtube, seseorang dapat merakit komputer, menari, melukis, tanpa perlu mengikuti pendidikan formal,&quot; ujar Gintoro. Pria berkacamata tersebut menyarankan, menanggapi fenomena tersebut, maka para guru pun harus menguasai teknologi agar dapat memfasilitasi kegiatan belajar mengajar. Guru misalnya, dapat memanfaatkan teknologi&amp;nbsp; untuk mengelola materi pelajaran yang sedang disampaikan, merevisi materi pelajaran sebelumnya, atau memutarkan film pendek untuk didiskusikan. Sebagai pendidik, Gintoro berujar, guru juga berperan sebagai fasilitator yang tidak hanya menyampaikan materi ke murid dalam satu arah. Gintoro menekankan, guru bisa menjadi rekan diskusi siswa tentang suatu kasus yang mereka teliti melalui berbagai materi dari internet atau sumber lainnya. Sementara, sekolah dapat memanfaatkan teknologi untuk mencetak para lulusan yang dapat berkompetisi secara global serta untuk mengidentifikasi diri dan berkomunikasi di dunia maya, misalnya melalui website sekolah. &quot;Teknologi membuat kita tidak capek. Seharusnya ia juga bisa membuat pendidikan menjadi lebih baik,&quot; kata Gintoro. Sesi ini juga diisi dengan simulasi penggunaan TIK dalam kegiatan pendidikan. Erwin menjelaskan, pemanfaatan TIK di antaranya bisa diterapkan dalam pengelolaan soal-soal ujian atau kuis. Misalnya, TIK akan mempermudah proses pembuatan soal dan pemeriksaan hasil ujian yang biasanya dilakukan secara manual. Erwin mengimbuhkan, salah satu software yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar adalah Moodle. Software ini dapat mempermudah kerja guru dalam membagikan berbagai materi pelajaran, atau memberikan kuis pada siswa. &quot;Karena mengisikan lembar jawaban langsung di komputer, maka bapak ibu guru tidak akan kerepotan lagi setiap malam memeriksa hasil ujian yang dikerjakan para siswa,&quot; imbuhnya. Meski hadir sejak era 1990-an, banyak guru belum mengetahui keberadaan software yang dapat membantu pekerjaan mereka. &quot;Wah, Pak, saya malah belum mengetahui software itu,&quot; kata salah seorang guru yang diamini beberapa rekan sejawat lainnya.&amp;nbsp; &amp;nbsp;Menurut Erwin, selain Moodle, banyak software untuk pendidikan lainnya yang dapat dimanfaatkan para guru. Kebanyakan perangkat lunak ini gratis dan mudah diaplikasikan. &quot;Tinggal motivasi para guru saja untuk mempelajariny. Ditambah dengan pelatihan yang cukup, kemudian didukung dengan kreativitas, maka guru pun akan mahir memanfaatkan ICT untuk kegiatan belajar mengajar di kelas,&quot; ujar Erwin. Seminar sehari ini merupakan bagian dari kegiatan School Executive Excursion Program 2012 besutan Binus University dan Acer serta melibatkan puluhan kepala sekolah dan pengurus yayasan dari berbagai daerah di Tanah Air. Dalam kegiatan yang digelar 7-9 Mei di Singapura ini, para peserta akan mendapat banyak wawasan baru dalam bidang pendidikan dan perkembangan global. Peserta kegiatan mengikuti studi banding, kunjungan industri, serta seminar-seminar seputar teknologi dan perkembangan pendidikan global.(mrg)</description><content:encoded>SINGAPURA - Perkembangan teknologi yang membuat dunia makin datar ikut terasa dalam dunia pendidikan. Artinya, pengelola pendidikan ini juga harus bergerak cepat dalam beradaptasi. Rektor Binus University Harjanto Prabowo menyampaikan, pada dasarnya, tenkologi informasi (TI) membuat kita berada pada level yang sama. Dengan kata lain, kita bisa mengakses informasi yang sama dengan miliaran orang dari berbagai penjuru dunia. &quot;Tetapi, untuk bisa unggul, kita harus memiliki kreativitas. Termasuk para pendidik dan pengelola pendidikan,&quot; kata Harjanto saat mengisi seminar bertajuk Indonesia's Current Education Environtment and Future Challenges to be Faced di Hotel Furuma Riverfront, Singapura, Selasa (8/5/2012). Perkembangan teknologi informasi komunikasi (TIK) yang meliputi banyak platform tersebut telah dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pendidikan. Siswa dan guru, misalnya, mulai terbiasa menggunakan internet untuk mencari berbagai referensi tambahan tentang suatu materi pelajaran. Pada sesi berikutnya, Direktur Binus Center Education Gintoro dan Partner Manager Binus Center Education Erwin Sugiarto mengulik lebih jauh pemanfaatan TIK dalam dunia pendidikan. Di hadapan puluhan kepala sekolah dan pengelola yayasan dari berbagai lembaga pendidikan di Tanah Air tersebut, Gintoro memaparkan, para siswa kini belajar dari mana saja, terutama dengan memanfaatkan internet. Siswa juga menghabiskan waktu dengan teknologi, misalnya untuk bermain game berbasis komputer, membuka Facebook, browsing, dan lainnya. &quot;Siswa generasi digital ini juga dapat belajar lebih mandiri dengan memanfaatkan teknologi. Contonhya, dengan melihat video dari youtube, seseorang dapat merakit komputer, menari, melukis, tanpa perlu mengikuti pendidikan formal,&quot; ujar Gintoro. Pria berkacamata tersebut menyarankan, menanggapi fenomena tersebut, maka para guru pun harus menguasai teknologi agar dapat memfasilitasi kegiatan belajar mengajar. Guru misalnya, dapat memanfaatkan teknologi&amp;nbsp; untuk mengelola materi pelajaran yang sedang disampaikan, merevisi materi pelajaran sebelumnya, atau memutarkan film pendek untuk didiskusikan. Sebagai pendidik, Gintoro berujar, guru juga berperan sebagai fasilitator yang tidak hanya menyampaikan materi ke murid dalam satu arah. Gintoro menekankan, guru bisa menjadi rekan diskusi siswa tentang suatu kasus yang mereka teliti melalui berbagai materi dari internet atau sumber lainnya. Sementara, sekolah dapat memanfaatkan teknologi untuk mencetak para lulusan yang dapat berkompetisi secara global serta untuk mengidentifikasi diri dan berkomunikasi di dunia maya, misalnya melalui website sekolah. &quot;Teknologi membuat kita tidak capek. Seharusnya ia juga bisa membuat pendidikan menjadi lebih baik,&quot; kata Gintoro. Sesi ini juga diisi dengan simulasi penggunaan TIK dalam kegiatan pendidikan. Erwin menjelaskan, pemanfaatan TIK di antaranya bisa diterapkan dalam pengelolaan soal-soal ujian atau kuis. Misalnya, TIK akan mempermudah proses pembuatan soal dan pemeriksaan hasil ujian yang biasanya dilakukan secara manual. Erwin mengimbuhkan, salah satu software yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar adalah Moodle. Software ini dapat mempermudah kerja guru dalam membagikan berbagai materi pelajaran, atau memberikan kuis pada siswa. &quot;Karena mengisikan lembar jawaban langsung di komputer, maka bapak ibu guru tidak akan kerepotan lagi setiap malam memeriksa hasil ujian yang dikerjakan para siswa,&quot; imbuhnya. Meski hadir sejak era 1990-an, banyak guru belum mengetahui keberadaan software yang dapat membantu pekerjaan mereka. &quot;Wah, Pak, saya malah belum mengetahui software itu,&quot; kata salah seorang guru yang diamini beberapa rekan sejawat lainnya.&amp;nbsp; &amp;nbsp;Menurut Erwin, selain Moodle, banyak software untuk pendidikan lainnya yang dapat dimanfaatkan para guru. Kebanyakan perangkat lunak ini gratis dan mudah diaplikasikan. &quot;Tinggal motivasi para guru saja untuk mempelajariny. Ditambah dengan pelatihan yang cukup, kemudian didukung dengan kreativitas, maka guru pun akan mahir memanfaatkan ICT untuk kegiatan belajar mengajar di kelas,&quot; ujar Erwin. Seminar sehari ini merupakan bagian dari kegiatan School Executive Excursion Program 2012 besutan Binus University dan Acer serta melibatkan puluhan kepala sekolah dan pengurus yayasan dari berbagai daerah di Tanah Air. Dalam kegiatan yang digelar 7-9 Mei di Singapura ini, para peserta akan mendapat banyak wawasan baru dalam bidang pendidikan dan perkembangan global. Peserta kegiatan mengikuti studi banding, kunjungan industri, serta seminar-seminar seputar teknologi dan perkembangan pendidikan global.(mrg)</content:encoded></item></channel></rss>
