<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tragedi Tersungkurnya Burung Baja Rusia</title><description>SIAPA yang menyangka, joy flight Sukhoi Superjet 100 yang sedianya merupakan penerbangan suka cita, justru berujung duka cita?</description><link>https://news.okezone.com/read/2012/05/11/59/627976/tragedi-tersungkurnya-burung-baja-rusia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/05/11/59/627976/tragedi-tersungkurnya-burung-baja-rusia"/><item><title>Tragedi Tersungkurnya Burung Baja Rusia</title><link>https://news.okezone.com/read/2012/05/11/59/627976/tragedi-tersungkurnya-burung-baja-rusia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/05/11/59/627976/tragedi-tersungkurnya-burung-baja-rusia</guid><pubDate>Jum'at 11 Mei 2012 14:41 WIB</pubDate><dc:creator>Rani Hardjanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/05/11/59/627976/CpqadLATby.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/05/11/59/627976/CpqadLATby.jpg</image><title></title></images><description>SIAPA yang menyangka, joy flight Sukhoi Superjet 100 (SSJ-100) yang sedianya merupakan penerbangan suka cita, justru berujung duka cita?Produsen SSJ-100, Sukhoi Civil Aircraft, awalnya berniat mempromosikan pesawat terbarunya, dengan harapan mampu memukau calon pembeli. Teknologi paling mutakhir yang dimiliki pesawat SSJ, diyakini mampu menditeksi dan meminimalisir risiko penerbangan. Karena alasan itulah sejumlah operator penerbangan lokal melirik SSJ-100.&amp;nbsp; Sebut saja PT Sky Aviation yang telah menandatangani perjanjian kontrak pembelian 12 unit SSJ-100 dengan total nilai USD380,4 juta. Namun, fakta berkata lain. Secanggih apapun teknologi, ternyata belum mampu menditeksi musibah. Kuasa maut tetap menjadi hak prerogatifNya. Pesawat SSJ-100 itu menabrak tebing Gunung Salak pada Rabu 9 Mei siang. Burung baja dari Rusia itu tersungkur di tengah hutan belantara. Evakuasi pun terganjal tebing terjal. Sulitnya medan menyebabkan korban sulit untuk dijangkau. Sejumlah ahli menyatakan, kecil kemungkinan bagi penumpang dan kru pesawat untuk bisa selamat. Kendati demikian keluarga korban pun tetap setia menanti kedatangan orang yang mereka kasihi. Mereka berprinsip&amp;nbsp; sekecil apapun peluang, pasti ada harapan. Memetik HikmahMusibah ini ternyata sekaligus mengungkap fakta, bahwa standar operasional prosedur belum diterapkan dengan baik. PT Trimarga Rekatama, selaku agen penjual SSJ-100, ternyata lalai dalam mencatat manifest penumpang. Walhasil terjadi kesimpangsiuran data korban. Kemudian, Kementerian Perhubungan sebagai pemegang otoritas keselamatan dan keamanan penerbangan, harus lebih berhati-hati dan meningkatkan ketelitian terkait implementasi seluruh program keselamatan penerbangan nasional (state safety program), sesuai amanat Undang-Undang No. 1/2009 tentang Penerbangan.&amp;nbsp; Selain itu, juga harus diperhatikan soal pemberian izin masuk dan demo pesawat jenis baru. Tragedi pahit ini menambah daftar panjang sejarah kelam penerbangan di Tanah Air. Saling menyalahkan memang bukan sebuah solusi. Tetapi setiap di balik musibah ada hikmah yang bisa dipetik, agar tidak terulang dikemudian hari.</description><content:encoded>SIAPA yang menyangka, joy flight Sukhoi Superjet 100 (SSJ-100) yang sedianya merupakan penerbangan suka cita, justru berujung duka cita?Produsen SSJ-100, Sukhoi Civil Aircraft, awalnya berniat mempromosikan pesawat terbarunya, dengan harapan mampu memukau calon pembeli. Teknologi paling mutakhir yang dimiliki pesawat SSJ, diyakini mampu menditeksi dan meminimalisir risiko penerbangan. Karena alasan itulah sejumlah operator penerbangan lokal melirik SSJ-100.&amp;nbsp; Sebut saja PT Sky Aviation yang telah menandatangani perjanjian kontrak pembelian 12 unit SSJ-100 dengan total nilai USD380,4 juta. Namun, fakta berkata lain. Secanggih apapun teknologi, ternyata belum mampu menditeksi musibah. Kuasa maut tetap menjadi hak prerogatifNya. Pesawat SSJ-100 itu menabrak tebing Gunung Salak pada Rabu 9 Mei siang. Burung baja dari Rusia itu tersungkur di tengah hutan belantara. Evakuasi pun terganjal tebing terjal. Sulitnya medan menyebabkan korban sulit untuk dijangkau. Sejumlah ahli menyatakan, kecil kemungkinan bagi penumpang dan kru pesawat untuk bisa selamat. Kendati demikian keluarga korban pun tetap setia menanti kedatangan orang yang mereka kasihi. Mereka berprinsip&amp;nbsp; sekecil apapun peluang, pasti ada harapan. Memetik HikmahMusibah ini ternyata sekaligus mengungkap fakta, bahwa standar operasional prosedur belum diterapkan dengan baik. PT Trimarga Rekatama, selaku agen penjual SSJ-100, ternyata lalai dalam mencatat manifest penumpang. Walhasil terjadi kesimpangsiuran data korban. Kemudian, Kementerian Perhubungan sebagai pemegang otoritas keselamatan dan keamanan penerbangan, harus lebih berhati-hati dan meningkatkan ketelitian terkait implementasi seluruh program keselamatan penerbangan nasional (state safety program), sesuai amanat Undang-Undang No. 1/2009 tentang Penerbangan.&amp;nbsp; Selain itu, juga harus diperhatikan soal pemberian izin masuk dan demo pesawat jenis baru. Tragedi pahit ini menambah daftar panjang sejarah kelam penerbangan di Tanah Air. Saling menyalahkan memang bukan sebuah solusi. Tetapi setiap di balik musibah ada hikmah yang bisa dipetik, agar tidak terulang dikemudian hari.</content:encoded></item></channel></rss>
