<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mega Kritisi Peran Perempuan dalam Politik </title><description>Menurutnya, dirinya salah satu perempuan yang sempat berjibaku menentang kerasnya rezim orde baru.</description><link>https://news.okezone.com/read/2012/05/15/339/630046/mega-kritisi-peran-perempuan-dalam-politik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/05/15/339/630046/mega-kritisi-peran-perempuan-dalam-politik"/><item><title>Mega Kritisi Peran Perempuan dalam Politik </title><link>https://news.okezone.com/read/2012/05/15/339/630046/mega-kritisi-peran-perempuan-dalam-politik</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/05/15/339/630046/mega-kritisi-peran-perempuan-dalam-politik</guid><pubDate>Selasa 15 Mei 2012 17:18 WIB</pubDate><dc:creator>Tri Kurniawan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/05/15/339/630046/CAyxjEtaWX.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Megawati Soekarnoputri</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/05/15/339/630046/CAyxjEtaWX.jpg</image><title>Megawati Soekarnoputri</title></images><description>JAKARTA - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato politik bertema &quot;the Role of Women in Politics&quot; di Universitas Innsruck, Austria.Dalam kesempatan tersebut, mantan presiden ini bercerita peran perempuan dalam catur politik Indonesia. Menurutnya, dirinya salah satu perempuan yang sempat berjibaku menentang kerasnya rezim orde baru.&quot;Kesulitan-kesulitan yang saya hadapi selama masa orde baru bukan karena saya adalah figur perempuan, tapi sepenuhnya karena saya dan PDI berdiri tegak menentang kezaliman rezim orde baru,&quot; kata dia dikutip dalam rilisnya kepada Okezone, Selasa (15/5/2012).Karena itu, bagi Mega, pergulatan perempuan Indonesia saat sekarang, bukan hanya untuk mendapatkan pengakuan penyetaraan gender sebagaimana pergulatan banyak bangsa lain, tapi justru menemukan formula bagi implementasinya. &quot;Tantangan perempuan Indonesia adalah bagaimana menjadikan politik sebagai sebuah gerakan bagi Indonesia dan kemanusiaan yang lebih baik,&quot; tegasnya.Putri mantan Presiden Soekarno ini mengaku selama ini membangun kembali kesadaran politik kaum perempuan Indonesia untuk berani memilih jalan politik, meskipun diakuinya bukan hal mudah.&quot;Justru dalam era modern seperti ini, pilihan politik bagi perempuan nampak adanya kemunduran dari aspek idealisme. Lebih-lebih sebagai sebuah gerakan,&quot; ujarnya.Dia menilai, Keterlibatan kaum perempuan dalam politik justru kembali dibatasi, bahkan banyak di antaranya yang tidak bisa aktif hanya karena alasan sederhana, yakni tidak diizinkan oleh suaminya.&quot;Persoalan rendahnya partisipasi dan representasi kaum perempuan, terutama di lembaga-lembaga publik, termasuk di parlemen merupakan masalah serius di Indonesia,&quot; ungkapnya.Persoalan rendahnya dan buruknya kualitas partisipasi dan representasi merupakan bagian dari persoalan demokrasi Indonesia yang belum selesai dan masih terus mencari bentuk, dan bukan merupakan persoalan perempuan semata-mata. &quot;Masih banyak kelompok dalam masyarakat Indonesia dihadapkan pada kedua persoalan ini,&quot; terangnya. Dia berharap, persoalan partisipasi dan representasi yang buruk ini harus diselesaikan sebagai agenda politik kolektif sebuah bangsa, bukan dibatasi sebagai medan pergulatan gender. &quot;Saya boleh jadi keliru. Tetapi itulah yang selama ini saya rasakan,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato politik bertema &quot;the Role of Women in Politics&quot; di Universitas Innsruck, Austria.Dalam kesempatan tersebut, mantan presiden ini bercerita peran perempuan dalam catur politik Indonesia. Menurutnya, dirinya salah satu perempuan yang sempat berjibaku menentang kerasnya rezim orde baru.&quot;Kesulitan-kesulitan yang saya hadapi selama masa orde baru bukan karena saya adalah figur perempuan, tapi sepenuhnya karena saya dan PDI berdiri tegak menentang kezaliman rezim orde baru,&quot; kata dia dikutip dalam rilisnya kepada Okezone, Selasa (15/5/2012).Karena itu, bagi Mega, pergulatan perempuan Indonesia saat sekarang, bukan hanya untuk mendapatkan pengakuan penyetaraan gender sebagaimana pergulatan banyak bangsa lain, tapi justru menemukan formula bagi implementasinya. &quot;Tantangan perempuan Indonesia adalah bagaimana menjadikan politik sebagai sebuah gerakan bagi Indonesia dan kemanusiaan yang lebih baik,&quot; tegasnya.Putri mantan Presiden Soekarno ini mengaku selama ini membangun kembali kesadaran politik kaum perempuan Indonesia untuk berani memilih jalan politik, meskipun diakuinya bukan hal mudah.&quot;Justru dalam era modern seperti ini, pilihan politik bagi perempuan nampak adanya kemunduran dari aspek idealisme. Lebih-lebih sebagai sebuah gerakan,&quot; ujarnya.Dia menilai, Keterlibatan kaum perempuan dalam politik justru kembali dibatasi, bahkan banyak di antaranya yang tidak bisa aktif hanya karena alasan sederhana, yakni tidak diizinkan oleh suaminya.&quot;Persoalan rendahnya partisipasi dan representasi kaum perempuan, terutama di lembaga-lembaga publik, termasuk di parlemen merupakan masalah serius di Indonesia,&quot; ungkapnya.Persoalan rendahnya dan buruknya kualitas partisipasi dan representasi merupakan bagian dari persoalan demokrasi Indonesia yang belum selesai dan masih terus mencari bentuk, dan bukan merupakan persoalan perempuan semata-mata. &quot;Masih banyak kelompok dalam masyarakat Indonesia dihadapkan pada kedua persoalan ini,&quot; terangnya. Dia berharap, persoalan partisipasi dan representasi yang buruk ini harus diselesaikan sebagai agenda politik kolektif sebuah bangsa, bukan dibatasi sebagai medan pergulatan gender. &quot;Saya boleh jadi keliru. Tetapi itulah yang selama ini saya rasakan,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
