<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Berteduh di &quot;Kaki&quot; Joko Dolog</title><description>Terik Matahari di awal musim kemarau membuat kota Surabaya semakin  panas. Terlebih lagi, hilir mudik kendaraan di kota metropolitan itu  menjadikan udara di Kota Pahlawan bercampur dengan karbon yang keluar  melalui asap knalpot.</description><link>https://news.okezone.com/read/2012/05/21/519/632716/berteduh-di-kaki-joko-dolog</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/05/21/519/632716/berteduh-di-kaki-joko-dolog"/><item><title>Berteduh di &quot;Kaki&quot; Joko Dolog</title><link>https://news.okezone.com/read/2012/05/21/519/632716/berteduh-di-kaki-joko-dolog</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/05/21/519/632716/berteduh-di-kaki-joko-dolog</guid><pubDate>Senin 21 Mei 2012 14:53 WIB</pubDate><dc:creator>Nurul Arifin</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/05/21/519/632716/3oJg2O6S6c.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Patung Joko Dolog (Foto: Nurul A/okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/05/21/519/632716/3oJg2O6S6c.jpg</image><title>Patung Joko Dolog (Foto: Nurul A/okezone)</title></images><description>Terik Matahari di awal musim kemarau membuat kota Surabaya semakin panas. Terlebih lagi, hilir mudik kendaraan di kota metropolitan itu menjadikan udara di Kota Pahlawan bercampur dengan karbon yang keluar melalui asap knalpot. Namun di tengah kebisingan dan polusi kota Surabaya ada tempat yang teduh nan sejuk. Tempat tersebut iaalah situs Joko Dolog yang berada di Kawasan Taman Apsari.Sebenarnya patung ini adalah Arca Mahasobya, namun masyarakat sekitar lebih mengenal dengan sebutan Patung Joko Dolog.Patung ini dibuat untuk menghormati Kertanegara Putra Wisnu Wardhana sebagai raja Singosari pada abad ke-13. Situs ini masuk kedalam Wisata Heritage kota tua di bagian utara, Surabaya.Juru Kunci situs Joko Dolog, Sugiyanto, mengatakan patung itu dibuat pada 1211 saka atau tahun 1289 Masehi, sedangkan pembuatan patung ini di Kawasan Trowulan Kabupaten Mojokerto.Patung Joko Dolog ini dibuat untuk menghormati Raja Singosari yang juga penganut Budha Tantra dan dikenal dengan bijaksana dan luas. Raja ini bercita-cita untuk mempersatukan seluruh wilayah Nusantara. &quot;Ada Versi lain yang menyebut patung ini dibuat untuk menghilangkan kutukan Mpu Bharadah yang ingin menggagalkan usaha Kertanegara untuk mempersatukan berbagai kerajaan pada waktu itu,&quot; tutur Sugiyanto.Patung ini terletak di bawah pohon beringin yang besar, sehingga nuansa teduh pun terlihat di sekitar patung. Di sekeliling patung Joko Dolog terdapat arca-arca kecil seolah sebagai seorang prajurit yang mengawal sang raja. Arca-arca ini, katanya, berasal dari kebudayaan yang berbeda, yakni budaya Hindu yang memang berkembang pada waktu itu.Patung Joko Dolog menunjukkan raut muka seorang raja yang teduh. Sikap tangan membentuk Bhumisparsamudra, yakni telapak tangan bagian kiri tertutup dan seolah-oleh ingin menyentuh bumi. Alas sandar patung ini terdapat prasasti dengan bahasa Sansekerta.Prasasti ini berisi 19 bait yang mengandung lima makna sejarah yang berkembang pada masa itu, yakni pembagian tanah Jawa akibat perebutan kekuasaan menjadi Jenggala dan Panjalu.Upaya penyatuan keduanya kembali oleh Raja Wisnu Wardhana, penasbihan raja dengan gelar Cri Janjaciwabajra dan perwujudannya sebagai Jina Mahasobya, keberhasilan penyatuan kembali yang berdampak makmurnya daerah tersebut, dan penyebutan nama Nada sebagai sang pembuat prasasti.Situs itu sering menjadi jujugan para wisatawan, baik domestik maupun asing. Selain itu, para penggemar fotografi sering menjadikan Situs sebagai obyek jepretan.Namun juga tak ketinggalan bagi para penggemar dunia mistik. Situs Joko Dolog juga sering digunakan untuk mencari wangsit melalui beberapa ritual magis.</description><content:encoded>Terik Matahari di awal musim kemarau membuat kota Surabaya semakin panas. Terlebih lagi, hilir mudik kendaraan di kota metropolitan itu menjadikan udara di Kota Pahlawan bercampur dengan karbon yang keluar melalui asap knalpot. Namun di tengah kebisingan dan polusi kota Surabaya ada tempat yang teduh nan sejuk. Tempat tersebut iaalah situs Joko Dolog yang berada di Kawasan Taman Apsari.Sebenarnya patung ini adalah Arca Mahasobya, namun masyarakat sekitar lebih mengenal dengan sebutan Patung Joko Dolog.Patung ini dibuat untuk menghormati Kertanegara Putra Wisnu Wardhana sebagai raja Singosari pada abad ke-13. Situs ini masuk kedalam Wisata Heritage kota tua di bagian utara, Surabaya.Juru Kunci situs Joko Dolog, Sugiyanto, mengatakan patung itu dibuat pada 1211 saka atau tahun 1289 Masehi, sedangkan pembuatan patung ini di Kawasan Trowulan Kabupaten Mojokerto.Patung Joko Dolog ini dibuat untuk menghormati Raja Singosari yang juga penganut Budha Tantra dan dikenal dengan bijaksana dan luas. Raja ini bercita-cita untuk mempersatukan seluruh wilayah Nusantara. &quot;Ada Versi lain yang menyebut patung ini dibuat untuk menghilangkan kutukan Mpu Bharadah yang ingin menggagalkan usaha Kertanegara untuk mempersatukan berbagai kerajaan pada waktu itu,&quot; tutur Sugiyanto.Patung ini terletak di bawah pohon beringin yang besar, sehingga nuansa teduh pun terlihat di sekitar patung. Di sekeliling patung Joko Dolog terdapat arca-arca kecil seolah sebagai seorang prajurit yang mengawal sang raja. Arca-arca ini, katanya, berasal dari kebudayaan yang berbeda, yakni budaya Hindu yang memang berkembang pada waktu itu.Patung Joko Dolog menunjukkan raut muka seorang raja yang teduh. Sikap tangan membentuk Bhumisparsamudra, yakni telapak tangan bagian kiri tertutup dan seolah-oleh ingin menyentuh bumi. Alas sandar patung ini terdapat prasasti dengan bahasa Sansekerta.Prasasti ini berisi 19 bait yang mengandung lima makna sejarah yang berkembang pada masa itu, yakni pembagian tanah Jawa akibat perebutan kekuasaan menjadi Jenggala dan Panjalu.Upaya penyatuan keduanya kembali oleh Raja Wisnu Wardhana, penasbihan raja dengan gelar Cri Janjaciwabajra dan perwujudannya sebagai Jina Mahasobya, keberhasilan penyatuan kembali yang berdampak makmurnya daerah tersebut, dan penyebutan nama Nada sebagai sang pembuat prasasti.Situs itu sering menjadi jujugan para wisatawan, baik domestik maupun asing. Selain itu, para penggemar fotografi sering menjadikan Situs sebagai obyek jepretan.Namun juga tak ketinggalan bagi para penggemar dunia mistik. Situs Joko Dolog juga sering digunakan untuk mencari wangsit melalui beberapa ritual magis.</content:encoded></item></channel></rss>
