<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Banyak Politikus Muda Yang Tergiur Kemewahan</title><description>Cita-cita reformasi yang diagendakan 14 tahun silam masih belum terwujud  sepenuhnya. Meskipun banyak Aktivis 1998 yang kini duduk di kursi  parlemen, hal tersebut tak membuat roda reformasi berjalan lancar.</description><link>https://news.okezone.com/read/2012/05/22/339/633084/banyak-politikus-muda-yang-tergiur-kemewahan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/05/22/339/633084/banyak-politikus-muda-yang-tergiur-kemewahan"/><item><title> Banyak Politikus Muda Yang Tergiur Kemewahan</title><link>https://news.okezone.com/read/2012/05/22/339/633084/banyak-politikus-muda-yang-tergiur-kemewahan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/05/22/339/633084/banyak-politikus-muda-yang-tergiur-kemewahan</guid><pubDate>Selasa 22 Mei 2012 06:44 WIB</pubDate><dc:creator>Tegar Arief Fadly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/05/22/339/633084/NW61P8yxnp.jpg" expression="full" type="image/jpeg">ilustrasi (Foto:okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/05/22/339/633084/NW61P8yxnp.jpg</image><title>ilustrasi (Foto:okezone)</title></images><description>JAKARTA- Cita-cita reformasi yang diagendakan 14 tahun silam masih belum terwujud sepenuhnya. Meskipun banyak Aktivis 1998 yang kini duduk di kursi parlemen, hal tersebut tak membuat roda reformasi berjalan lancar. Justru tak jarang justru aktivis-aktivis tersebut terlibat di dalam berbagai skandal korupsi yang semakin menggerogoti uang negara.&quot;Aktivis 98 yang sekarang masuk ke parlemen, ternyata tersedot arus. Ini karena idealismenya terlalu lemah. Akhirnya kita sekarang malu,&quot; ungkap salah satu aktivis 1998, Haris Rusli kepada Okezone di Jakarta, Senin (21/05/2012).Namun, kata Haris, kesalahan tidak sepenuhnya ada pada para aktivis yang kini menjadi pejabat tersebut. Menurutnya, para senior mereka lah yang sepatutnya disalahkan, karena tidak mampu melakukan kaderisasi untuk menjadi politisi yang baik dan jujur.&quot;Tidak sepenuhnya salah anak muda. Karena mereka digarami oleh keadaan dan terpengaruh oleh seniornya. Mereka justru dikader oleh seniornya untuk menjadi maling. Anak muda saat ini mewarisi nilai-nilai ketamakan ya dari orang-orang tua. Mereka menilai politik itu harus kaya, punya harta, mobil dan rumah mewah. Itu kan sudah ditunjukkan oleh senior-senior mereka. Akhirnya kan dicontoh,&quot; jelasnya.Haris berpendapat bahwa jika memang seseorang berniat untuk terjun ke dunia politik, terlebih jika hendak bergelut di politik parlemen, maka orang tersebut harus memiliki pandangan yang berorientasi pada uang dan kemewahan. Paradigma seperti ini, kata Haris, memang sengaja diciptakan dalam sistem politik di Indonesia.&quot;Kalau Anda masuk ke dalam sistem politik parlemen, Anda harus dipaksakan untuk masuk ke dalam sistem nilai yang bisa berkembang dengan uang seperti ini. Kalau tidak bisa seperti itu, ya gagal,&quot; paparnya.Pada kesempatan tersebut, Haris berpesan kepada rekan-rekan seperjuangannya 1998 yang kini telah duduk di kursi dewan untuk fokus dalam melakukan perubahan di Indonesia. &quot;Kalau mereka tidak sanggup melakukan perubahan, minimal mereka bisa menunjukkan niat baik, mereka itu contoh pelopor perubah moral politik,&quot; tandasnya.</description><content:encoded>JAKARTA- Cita-cita reformasi yang diagendakan 14 tahun silam masih belum terwujud sepenuhnya. Meskipun banyak Aktivis 1998 yang kini duduk di kursi parlemen, hal tersebut tak membuat roda reformasi berjalan lancar. Justru tak jarang justru aktivis-aktivis tersebut terlibat di dalam berbagai skandal korupsi yang semakin menggerogoti uang negara.&quot;Aktivis 98 yang sekarang masuk ke parlemen, ternyata tersedot arus. Ini karena idealismenya terlalu lemah. Akhirnya kita sekarang malu,&quot; ungkap salah satu aktivis 1998, Haris Rusli kepada Okezone di Jakarta, Senin (21/05/2012).Namun, kata Haris, kesalahan tidak sepenuhnya ada pada para aktivis yang kini menjadi pejabat tersebut. Menurutnya, para senior mereka lah yang sepatutnya disalahkan, karena tidak mampu melakukan kaderisasi untuk menjadi politisi yang baik dan jujur.&quot;Tidak sepenuhnya salah anak muda. Karena mereka digarami oleh keadaan dan terpengaruh oleh seniornya. Mereka justru dikader oleh seniornya untuk menjadi maling. Anak muda saat ini mewarisi nilai-nilai ketamakan ya dari orang-orang tua. Mereka menilai politik itu harus kaya, punya harta, mobil dan rumah mewah. Itu kan sudah ditunjukkan oleh senior-senior mereka. Akhirnya kan dicontoh,&quot; jelasnya.Haris berpendapat bahwa jika memang seseorang berniat untuk terjun ke dunia politik, terlebih jika hendak bergelut di politik parlemen, maka orang tersebut harus memiliki pandangan yang berorientasi pada uang dan kemewahan. Paradigma seperti ini, kata Haris, memang sengaja diciptakan dalam sistem politik di Indonesia.&quot;Kalau Anda masuk ke dalam sistem politik parlemen, Anda harus dipaksakan untuk masuk ke dalam sistem nilai yang bisa berkembang dengan uang seperti ini. Kalau tidak bisa seperti itu, ya gagal,&quot; paparnya.Pada kesempatan tersebut, Haris berpesan kepada rekan-rekan seperjuangannya 1998 yang kini telah duduk di kursi dewan untuk fokus dalam melakukan perubahan di Indonesia. &quot;Kalau mereka tidak sanggup melakukan perubahan, minimal mereka bisa menunjukkan niat baik, mereka itu contoh pelopor perubah moral politik,&quot; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
