<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sinta Nuriyah Apresiasi RUU Kesetaraan Gender</title><description>Istri almarhum Presiden RI keempat Abdurahman Wahid, Sinta Nuriyah Wahid mendukung RUU  Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG) yang saat ini sedang digodok DPR  RI.</description><link>https://news.okezone.com/read/2012/06/21/339/651559/sinta-nuriyah-apresiasi-ruu-kesetaraan-gender</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/06/21/339/651559/sinta-nuriyah-apresiasi-ruu-kesetaraan-gender"/><item><title>Sinta Nuriyah Apresiasi RUU Kesetaraan Gender</title><link>https://news.okezone.com/read/2012/06/21/339/651559/sinta-nuriyah-apresiasi-ruu-kesetaraan-gender</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/06/21/339/651559/sinta-nuriyah-apresiasi-ruu-kesetaraan-gender</guid><pubDate>Kamis 21 Juni 2012 23:47 WIB</pubDate><dc:creator>Fiddy Anggriawan </dc:creator><media:content url="https://e.okezone.com/error.png" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://e.okezone.com/error.png</image><title></title></images><description>JAKARTA - Istri almarhum Presiden RI kemepat Abdurahman Wahid, Sinta Nuriyah Wahid mendukung RUU Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG) yang saat ini sedang digodok DPR RI.
&amp;nbsp;
Sinta juga mengapresiasi kinerja Komisi VIII DPR yang memberikan perhatian khusus terhadap isu gender dalam masyarakat. &quot;Saya bangga dengan kerja pembahasan RUU ini,&quot; kata Sinta disela-sela rapat bersama Komisi VIII DPR RI, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (21/6/2012).
&amp;nbsp;
Menurutnya, perempuan saat ini masih tertinggal dengan pria dalam bidang pekerjaan, pendidikan dan politik. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi DPR sebagai perumus RUU KKG untuk menemukan akar permasalahannya.
&amp;nbsp;
Mantan Ibu Negara ini mengharapkan UU ini nantinya  dapat mengubah pola pikir bahwa tidak ada pekerjaan yang mengkotak-kotakkan laki-laki dan perempuan, yang ada adalah pekerjaan bersama untuk membangun bangsa dan negara.
&amp;nbsp;
Selanjutnya, dia juga mengatakan memang istilah gender sangat kebarat-kebaratan, tetapi hal itu dapat dipermudah dengan menggantinya dengan bahasa yang tepat agar dapat dimengerti masyarakat luas.
&amp;nbsp;
&quot;Saya sebagai orang lapangan mengakui itu, apalagi jika kita bawa ke desa-desa atau ke daerah-daerah. Dalam pengalaman saya segala sesuatu yang berbahasa Inggris bisa dirubah,&quot; jelas Sinta.
&amp;nbsp;
Namun, yang terpenting bukan istilah, melainkan bagaimana dapat meyakinkan kepada masyarakat bahwa itu sesungguhanya demi kesetaraan dan keadilan gender.</description><content:encoded>JAKARTA - Istri almarhum Presiden RI kemepat Abdurahman Wahid, Sinta Nuriyah Wahid mendukung RUU Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG) yang saat ini sedang digodok DPR RI.
&amp;nbsp;
Sinta juga mengapresiasi kinerja Komisi VIII DPR yang memberikan perhatian khusus terhadap isu gender dalam masyarakat. &quot;Saya bangga dengan kerja pembahasan RUU ini,&quot; kata Sinta disela-sela rapat bersama Komisi VIII DPR RI, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (21/6/2012).
&amp;nbsp;
Menurutnya, perempuan saat ini masih tertinggal dengan pria dalam bidang pekerjaan, pendidikan dan politik. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi DPR sebagai perumus RUU KKG untuk menemukan akar permasalahannya.
&amp;nbsp;
Mantan Ibu Negara ini mengharapkan UU ini nantinya  dapat mengubah pola pikir bahwa tidak ada pekerjaan yang mengkotak-kotakkan laki-laki dan perempuan, yang ada adalah pekerjaan bersama untuk membangun bangsa dan negara.
&amp;nbsp;
Selanjutnya, dia juga mengatakan memang istilah gender sangat kebarat-kebaratan, tetapi hal itu dapat dipermudah dengan menggantinya dengan bahasa yang tepat agar dapat dimengerti masyarakat luas.
&amp;nbsp;
&quot;Saya sebagai orang lapangan mengakui itu, apalagi jika kita bawa ke desa-desa atau ke daerah-daerah. Dalam pengalaman saya segala sesuatu yang berbahasa Inggris bisa dirubah,&quot; jelas Sinta.
&amp;nbsp;
Namun, yang terpenting bukan istilah, melainkan bagaimana dapat meyakinkan kepada masyarakat bahwa itu sesungguhanya demi kesetaraan dan keadilan gender.</content:encoded></item></channel></rss>
