<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Iklim investasi RI sangat terpengaruh angkatan kerja</title><description>Dari sekian banyak permasalahan ketenaga-kerjaan, masalah upah pekerja  seringkali dikait-kaitkan bahkan dijadikan senjata dalam membangun opini  bahwa permasalahan upah tersebut sebagai penghambat investasi di  Indonesia oleh berbagai pihak.</description><link>https://news.okezone.com/read/2012/07/02/452/657603/iklim-investasi-ri-sangat-terpengaruh-angkatan-kerja</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/07/02/452/657603/iklim-investasi-ri-sangat-terpengaruh-angkatan-kerja"/><item><title>Iklim investasi RI sangat terpengaruh angkatan kerja</title><link>https://news.okezone.com/read/2012/07/02/452/657603/iklim-investasi-ri-sangat-terpengaruh-angkatan-kerja</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/07/02/452/657603/iklim-investasi-ri-sangat-terpengaruh-angkatan-kerja</guid><pubDate>Senin 02 Juli 2012 19:15 WIB</pubDate><dc:creator>Dana Aditiasari</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/07/02/452/657603/rvkLntKccx.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/07/02/452/657603/rvkLntKccx.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>Sindonews.com - Dari sekian banyak permasalahan ketenaga-kerjaan, masalah upah pekerja seringkali dikait-kaitkan bahkan dijadikan senjata dalam membangun opini bahwa permasalahan upah tersebut sebagai penghambat investasi di Indonesia oleh berbagai pihak.Padahal Indonesia masih sangat membutuhkan investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) guna menanggulangi masalah kekurangan modal untuk melaksanakan pembangunan.Sementara itu, menaggapi kondisi tersebut, seorang peneliti dan tenaga ahli Badan Penerangan Nasional (Bappenas), IR. Iswan Abdullah, dalam persentasi pada seminar nasional bertema &quot;Refomasi Sistem Pengupahan di Indonesia&quot; di Gedung YTKI (Yayasan Tenega Kerja Indonesia), justru punya pandangan berbeda mengenai hal tersebut.Menurutnya, dari 8 faktor yang dianggap paling mempengaharuhi iklim investasi di Indonesia, meliputi angkatan kerja, pendapatan perkapita, kesempatan kerja, nilai tukar Rp/USD, pertumbuhan ekonomi, nilai ekspor, upah pekerja dan inflasi. Faktor angkatan kerja yang jumlahnya sangat besar lah yang merupakan faktor paling berpengaruh terhadap investasi itu sendiri.&quot;Dari Hasil pengkajian diketahui bahwa upah pekerja hanya menempati urutan 7 dari faktor yang mempengaruhi investasi (FDI) di Indonesia maka masih dimungkinkan bagi pemerintah untuk merevisi Permenakertrans no.17/2005 ke arah yang lebih layak (pengupahan yang lebih layak),&quot; ujar Iswan dalam kesempatan tersebut, Senin (2/7/2012).Pasalnya, kata Iwan, dengan jumlah tenaga kerja yang demikian besar, dengan tingkat produktivitas yang begitu tinggi, besar upah yang diterima pekerja Indonesia masih terlalu rendah.&quot;Padahal kebijakan perdagangan dunia sudah berlaku. Artinya apa? Artinya jika kita beli mobil Toyota di Jepang dan mobil Toyota di Indonesia, itu harganya sama. Lalu &amp;lrm;â€&lt;kenapa pekerja kita dapat upahnya lebih kecil?&quot; pungkas Iswan menggebu-gebu. (bro)</description><content:encoded>Sindonews.com - Dari sekian banyak permasalahan ketenaga-kerjaan, masalah upah pekerja seringkali dikait-kaitkan bahkan dijadikan senjata dalam membangun opini bahwa permasalahan upah tersebut sebagai penghambat investasi di Indonesia oleh berbagai pihak.Padahal Indonesia masih sangat membutuhkan investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) guna menanggulangi masalah kekurangan modal untuk melaksanakan pembangunan.Sementara itu, menaggapi kondisi tersebut, seorang peneliti dan tenaga ahli Badan Penerangan Nasional (Bappenas), IR. Iswan Abdullah, dalam persentasi pada seminar nasional bertema &quot;Refomasi Sistem Pengupahan di Indonesia&quot; di Gedung YTKI (Yayasan Tenega Kerja Indonesia), justru punya pandangan berbeda mengenai hal tersebut.Menurutnya, dari 8 faktor yang dianggap paling mempengaharuhi iklim investasi di Indonesia, meliputi angkatan kerja, pendapatan perkapita, kesempatan kerja, nilai tukar Rp/USD, pertumbuhan ekonomi, nilai ekspor, upah pekerja dan inflasi. Faktor angkatan kerja yang jumlahnya sangat besar lah yang merupakan faktor paling berpengaruh terhadap investasi itu sendiri.&quot;Dari Hasil pengkajian diketahui bahwa upah pekerja hanya menempati urutan 7 dari faktor yang mempengaruhi investasi (FDI) di Indonesia maka masih dimungkinkan bagi pemerintah untuk merevisi Permenakertrans no.17/2005 ke arah yang lebih layak (pengupahan yang lebih layak),&quot; ujar Iswan dalam kesempatan tersebut, Senin (2/7/2012).Pasalnya, kata Iwan, dengan jumlah tenaga kerja yang demikian besar, dengan tingkat produktivitas yang begitu tinggi, besar upah yang diterima pekerja Indonesia masih terlalu rendah.&quot;Padahal kebijakan perdagangan dunia sudah berlaku. Artinya apa? Artinya jika kita beli mobil Toyota di Jepang dan mobil Toyota di Indonesia, itu harganya sama. Lalu &amp;lrm;â€&lt;kenapa pekerja kita dapat upahnya lebih kecil?&quot; pungkas Iswan menggebu-gebu. (bro)</content:encoded></item></channel></rss>
