<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Indonesia Jadi Tuan Rumah Konferensi Internasional HDCA</title><description>Indonesia menjadi tuan  rumah Konferensi Internasional Human  Development and Capability  Association (HDCA) ke-11, di Jakarta,  pada tanggal 5 hingga 7  September 2012.</description><link>https://news.okezone.com/read/2012/08/04/337/673095/indonesia-jadi-tuan-rumah-konferensi-internasional-hdca</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/08/04/337/673095/indonesia-jadi-tuan-rumah-konferensi-internasional-hdca"/><item><title>Indonesia Jadi Tuan Rumah Konferensi Internasional HDCA</title><link>https://news.okezone.com/read/2012/08/04/337/673095/indonesia-jadi-tuan-rumah-konferensi-internasional-hdca</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/08/04/337/673095/indonesia-jadi-tuan-rumah-konferensi-internasional-hdca</guid><pubDate>Sabtu 04 Agustus 2012 03:43 WIB</pubDate><dc:creator>K. Yudha Wirakusuma</dc:creator><media:content url="https://e.okezone.com/error.png" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://e.okezone.com/error.png</image><title></title></images><description>JAKARTA - Indonesia menjadi tuan  rumah Konferensi Internasional Human Development and Capability  Association (HDCA) ke-11, di Jakarta, pada tanggal 5 hingga 7  September 2012. Konferensi ini sangat penting karena memberi kesempatan  para akademisi nasional dan internasional melakukan perdebatan terbuka  bersama para pengambil kebijakan, pemerintah pusat dan daerah, praktisi,  dan masyarakat sipil.
&amp;nbsp;
Perdebatan tersebut mengenai apakah pertumbuhan ekonomi yang kuat  sudah cukup mencerminkan tingkat pembangunan yang berkualitas dan  kesejahteraan masyarakat yang adil dan merata.  Apalagi bila  mengingat kondisi Indonesia saat ini yang tingkat kesenjangan  ketidaksetaraannya telah mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah  Republik ini.  Berdasarkan surat elektonik yang diterima Okezone,  Jumat, (3/8/2012) konfrensi HDCA ini diharapkan dapat memberi  kontribusi bagi pembuatan kebijakan untuk mengatasi kesenjangan tersebut  melalui pembahasan isu-isu yang relevan di Indonesia dengan melibatkan  para pembuat kebijakan dan pemerintah di tingkat pusat maupun daerah.  Karena itu, dipilih tema Konferensi Internasional HDCA 2012  &amp;ldquo;Mengkaji ulang pembangunan: Apakah kita telah menilainya dengan benar?&amp;rdquo;  Latar belakang tema tersebut didasari kesadaran ilmiah dan  empirikal bahwa pertumbuhan ekonomi bukanlah merupakan tujuan akhir,  melainkan sebuah instrumen dalam melaksanakan pembangunan yang sifatnya  multidimensional. Namun, cara konvensional yang umumnya digunakan oleh  para ekonom seringkali mengabaikan aspek-aspek sosial seperti  kebebebasan berpolitik, keadaan institusi, kesetaraan, keamanan, serta  kondisi lingkungan.  Konferensi ini akan dihadiri narasumber  nasional dan internasional, termasuk dua penerima Nobel di bidang ilmu  ekonomi, yaitu Amartya Sen (1998) (melalui rekaman kuliah dan wawancara)  dan Eric Maskin (2007). Amartya Sen adalah orang yang mendirikan HDCA  pada tahun 2004. Namun, secara informal HDCA telah menjadi gerakan  praktisi, teoritisi, pembuat kebijakan, dan akademisi yang tertarik pada  semua aspek pembangunan dan kesejahteraan manusia. Berbagai konferensi  telah diselenggarakan di berbagai negara sejak tahun 2001, hingga  Indonesia mendapat kehormatan menjadi penyelenggara di tahun 2012 ini.  Dalam rentang waktu tersebut, beberapa pendukung gerakan ini  mengklaim bahwa teori kapabilitas manusia telah menjadi paradigma  pembangunan alternatif, dan pembangunan manusia harus diutamakan dan  diajarkan dalam kurikulum universitas, khususnya mereka yang peduli  dengan pembangunan yang bersifat multidimensional.  Dalam  konteks tersebut, tujuan utama dari Konferensi Internasional HDCA 2012,  pertama melakukan debat publik dalam isu-isu penting seperti pengukuran  kemiskinan di kalangan akademisi lokal dan internasional, pembuat  kebijakan, praktisi, masyarakat sipil, dll. Konferensi ini juga ingin  memberikan kesempatan maksimal bagi Indonesia - baik bagi peserta dari  Jakarta maupun daerah - untuk berpartisipasi dalam konferensi  internasional, di mana mereka juga dapat menampilkan karya mereka, yang  mungkin sulit jika diadakan di luar negeri.  Kedua, membangun  jaringan internasional untuk meningkatkan standar akademik dan kualitas  penelitian, serta kerjasama penelitian di Indonesia. Ketiga, konferensi  diharapkan memberi kontribusi bagi pembuatan kebijakan pada isu-isu yang  relevan di Indonesia dengan melibatkan&amp;nbsp; para pembuat kebijakan dan  pemerintah. Keempat, konferensi diharapkan dapat memberikan kontribusi  untuk pembuatan kebijakan, tidak hanya di tingkat pemerintah pusat,  tetapi juga di tingkat lokal dengan melibatkan partisipasi pemerintah  daerah. </description><content:encoded>JAKARTA - Indonesia menjadi tuan  rumah Konferensi Internasional Human Development and Capability  Association (HDCA) ke-11, di Jakarta, pada tanggal 5 hingga 7  September 2012. Konferensi ini sangat penting karena memberi kesempatan  para akademisi nasional dan internasional melakukan perdebatan terbuka  bersama para pengambil kebijakan, pemerintah pusat dan daerah, praktisi,  dan masyarakat sipil.
&amp;nbsp;
Perdebatan tersebut mengenai apakah pertumbuhan ekonomi yang kuat  sudah cukup mencerminkan tingkat pembangunan yang berkualitas dan  kesejahteraan masyarakat yang adil dan merata.  Apalagi bila  mengingat kondisi Indonesia saat ini yang tingkat kesenjangan  ketidaksetaraannya telah mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah  Republik ini.  Berdasarkan surat elektonik yang diterima Okezone,  Jumat, (3/8/2012) konfrensi HDCA ini diharapkan dapat memberi  kontribusi bagi pembuatan kebijakan untuk mengatasi kesenjangan tersebut  melalui pembahasan isu-isu yang relevan di Indonesia dengan melibatkan  para pembuat kebijakan dan pemerintah di tingkat pusat maupun daerah.  Karena itu, dipilih tema Konferensi Internasional HDCA 2012  &amp;ldquo;Mengkaji ulang pembangunan: Apakah kita telah menilainya dengan benar?&amp;rdquo;  Latar belakang tema tersebut didasari kesadaran ilmiah dan  empirikal bahwa pertumbuhan ekonomi bukanlah merupakan tujuan akhir,  melainkan sebuah instrumen dalam melaksanakan pembangunan yang sifatnya  multidimensional. Namun, cara konvensional yang umumnya digunakan oleh  para ekonom seringkali mengabaikan aspek-aspek sosial seperti  kebebebasan berpolitik, keadaan institusi, kesetaraan, keamanan, serta  kondisi lingkungan.  Konferensi ini akan dihadiri narasumber  nasional dan internasional, termasuk dua penerima Nobel di bidang ilmu  ekonomi, yaitu Amartya Sen (1998) (melalui rekaman kuliah dan wawancara)  dan Eric Maskin (2007). Amartya Sen adalah orang yang mendirikan HDCA  pada tahun 2004. Namun, secara informal HDCA telah menjadi gerakan  praktisi, teoritisi, pembuat kebijakan, dan akademisi yang tertarik pada  semua aspek pembangunan dan kesejahteraan manusia. Berbagai konferensi  telah diselenggarakan di berbagai negara sejak tahun 2001, hingga  Indonesia mendapat kehormatan menjadi penyelenggara di tahun 2012 ini.  Dalam rentang waktu tersebut, beberapa pendukung gerakan ini  mengklaim bahwa teori kapabilitas manusia telah menjadi paradigma  pembangunan alternatif, dan pembangunan manusia harus diutamakan dan  diajarkan dalam kurikulum universitas, khususnya mereka yang peduli  dengan pembangunan yang bersifat multidimensional.  Dalam  konteks tersebut, tujuan utama dari Konferensi Internasional HDCA 2012,  pertama melakukan debat publik dalam isu-isu penting seperti pengukuran  kemiskinan di kalangan akademisi lokal dan internasional, pembuat  kebijakan, praktisi, masyarakat sipil, dll. Konferensi ini juga ingin  memberikan kesempatan maksimal bagi Indonesia - baik bagi peserta dari  Jakarta maupun daerah - untuk berpartisipasi dalam konferensi  internasional, di mana mereka juga dapat menampilkan karya mereka, yang  mungkin sulit jika diadakan di luar negeri.  Kedua, membangun  jaringan internasional untuk meningkatkan standar akademik dan kualitas  penelitian, serta kerjasama penelitian di Indonesia. Ketiga, konferensi  diharapkan memberi kontribusi bagi pembuatan kebijakan pada isu-isu yang  relevan di Indonesia dengan melibatkan&amp;nbsp; para pembuat kebijakan dan  pemerintah. Keempat, konferensi diharapkan dapat memberikan kontribusi  untuk pembuatan kebijakan, tidak hanya di tingkat pemerintah pusat,  tetapi juga di tingkat lokal dengan melibatkan partisipasi pemerintah  daerah. </content:encoded></item></channel></rss>
