<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bangkai di Atas Pusara</title><description>AKU sudah berjanji, bila engkau mati aku pasti akan datang, saat  jenazahmu dimandikan, saat-saat terakhir mayatmu masuk ke dalam tanah.</description><link>https://news.okezone.com/read/2012/08/06/337/673804/bangkai-di-atas-pusara</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/08/06/337/673804/bangkai-di-atas-pusara"/><item><title>Bangkai di Atas Pusara</title><link>https://news.okezone.com/read/2012/08/06/337/673804/bangkai-di-atas-pusara</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/08/06/337/673804/bangkai-di-atas-pusara</guid><pubDate>Senin 06 Agustus 2012 12:29 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/08/06/337/673804/Nv5R6Ujng4.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Gelar Agryano Soemantri/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/08/06/337/673804/Nv5R6Ujng4.jpg</image><title>Ilustrasi (Gelar Agryano Soemantri/Okezone)</title></images><description>AKU sudah berjanji, bila engkau mati aku pasti akan datang, saat jenazahmu dimandikan, saat-saat terakhir mayatmu masuk ke dalam tanah, atau jika sempat aku pasti datang saat engkau sedang sekarat.
&amp;nbsp;
Kawanku yang malang. Mengapa pula waktu itu kita begitu asik menjalarkan obrolan hingga menyentuh soal kematian, dan aku begitu yakin kalau engkau akan mati lebih dulu dari aku. Tapi kawanku, maafkanlah aku, aku begitu sibuk dengan pekerjaanku yang baru. Aku baru hari ini bisa datang kepadamu, menyentuh tanah pusaramu yang masih merah.
&amp;nbsp;
Sesaat setelah dirimu dinyatakan mati oleh dokter, aku mendapatkan telepon berdering kencang. Aku waktu itu saja sudah curiga mendengar deringan telepon, pasti ada kabar buruk datang, walaupun maaf waktu itu aku benar-benar tak curiga kalau itu telepon dari nenekmu yang bawa kabar bahwa engkau mati di rumah sakit kelas bawah.
&amp;nbsp;
Kawanku, walaupun aku mengerti waktu itu engkau pasti sedang sibuk menahan rasa sakitmu menjelang kematian, tapi mengapa tidak engkau sendiri yang memberitahuku perihal kematianmu yang sebentar lagi datang. Tapi sudahlah, walaupun engkau sendiri yang memberitahuku waktu itu, aku belum tentu bisa datang, aku masih harus kejar target kerjaku sampai larut.
&amp;nbsp;
Engkau sekarang sudah masuk tanah. Tubuhmu mungkin sekarang sedang disiksa malaikat, karena aku tahu engkau denganku bukan laki-laki yang baik, tapi di atas pusaramu aku mendoakan, jika memang engkau sedang mengalami siksaan agar diberhentikan barang sebentar minimal sementara aku ada di sini.
&amp;nbsp;
Tapi aku dengar, engkau sudah menjalani hidup bagus setelah engkau memiliki istri dan seorang anak perempuan. Kawanku aku mendoakanmu, apa pun yang terjadi di bawah sana denganmu, tapi aku tak bisa membaca doa-doa berbahasa Arab, tapi sudahlah yang penting aku berdoa memang aku suka merepotkanmu semenjak dulu.
&amp;nbsp;
Aku masih ingat hari itu hari Minggu. Saat setelah kita mengendarai sepeda motor mengelilingi kota. Dan kita mampir di sebuah kedai kopi. Tapi demi Tuhan aku tak bermaksud menyumpahimu mati terlebih dahulu, bukan pula karena aku melihatmu waktu itu terkekeh batuk-batuk memaksakan asap rokok masuk ke dalam rongga dadamu, tapi di sanalah feeling seorang kawan sejati. Harusnya engkau mulai berfikir waktu itu, bukan malah membuka baju telanjang dada karena gerah banget, katamu.
&amp;nbsp;
Bukan pula karena prediksiku ngawur melihat hidupmu yang begitu susah semenjak bekerja di pabrik celana Jeans Amerika itu. Atau semenjak hidupmu dipertaruhkan di pabrik baja meski hanya sepuluh tahun. Sebagai kawan, tentu aku secara tidak sengaja merasakan bahwa sebentar lagi engkau akan mati. Hidupmu dihabiskan menghisap bau karat mesin-mesin, meniup kembung-kembung cerobong asap.
&amp;nbsp;
Ini masalah prinsip kawanku. Tapi ngomong-ngomong. Di sekeliling pusaramu banyak sekali jejak kaki tertinggal, jejak-jejak itu mengelilingi pusaramu. Aku senang engkau banyak yang menyayangi, melihat jejak itu menandakan bahwa banyak orang yang membawakan doa untukmu. Aku tidak menyangka, aku kira hanya anak istrimulah yang datang ke sini, tapi mungkin engkau memang sudah menjadi laki-laki baik kawanku. Meski pun di sebelah kuburanmu, aku kasih tahu, bahwa ada kuburan baru juga semisal punyamu, mungkin saja jejak-jejak kaki ini milik dia. Tapi sudahlah, jika pun orang-orang itu datang bukan kepadamu, mungkin saja engkau kena ciprat doa dari mereka.
&amp;nbsp;
Jika engkau memperbaiki hidupmu dengan mendekati Tuhan, mengapa juga tidak engkau memperbaiki hidupmu dengan mendekati uang. Aku hanya takut engkau mati karena tidak memiliki uang. Tapi tak apalah. Engkau sudah tak lagi memikirkan uang sekarang, berbeda denganku, ya mungkin giliranku yang nanti dikhianati alat tukar sialan itu. Aku juga berharap sepertimu, jika memang iya engkau sudah bertobat, aku ingin pula di akhir-akhir hidupku dekat dengan Tuhan. Pilihanku. Aku bisa mengadu pada uang saat Tuhan sedang tidak berpihak. Begitulah bergantian.
&amp;nbsp;
Hidup ini menakutkan. Bagaimana dengan anak dan istrimu di luar. Bahkan, aku tak tahu di mana mereka tinggal. Aku bisa saja memberikan sedikit uang untuk mereka. Biar mereka tak sepertimu. Atau, aku bisa saja menikahi istrimu dan menganggap anakmu seperti anakku sendiri.
&amp;nbsp;
Jangan marah, aku hanya bergurau, jangan terlalu serius, di alam dunia memang banyak gurauan yang tak menyenangkan jika didengar dari alam kubur. Istrimu pasti membanting tulang menghidupi anakmu, pasti dia kecewa jika engkau di sana hanya disiksa, baik-baiklah engkau agar istrimu juga sedikit tenang. Aku tak prihatin meski istrimu aku temukan membanting tulang, aku hanya akan prihatin jika istrimu sampai membanting daging. Aku pasti akan menolongnya, tenang saja.
&amp;nbsp;
Sebenarnya hidupku juga tak sebaik jalan hidup yang engkau alami. Jika boleh bercerita sedikit. Aku sekarang bekerja di perusahaan asing, dengan gaji besar tentu saja. Engkau juga tahu, bukan berarti aku tak suka pribumi, tapi perusahaan asing itu lebih tahu cara mengajarkan berdagang dengan cara modern. Berbeda dengan pribumi, yang serba salah memilih antara tradisional dengan modern. Walaupun engkau juga bekerja di perusahaan asing, tapi cara hidupmu aku kira masih tradisional. Itulah yang membuatku iri kepadamu, engkau mengesankan dengan cara hidupmu yang tradisional, yang masih menyimpan uang lembaran di bawah bantal.
&amp;nbsp;
Saat nenekmu meneleponku waktu engkau sekarat di rumah sakit kelas bawah. Nenekmu menangis dalam telepon, mungkin karena air matanya pula teleponnya mati karena konslet. Saat itu aku sedang negosiasi ratusan juta dengan salah satu pejabat di daerahmu. Proyek pembangunan pabrik. Jadi bukan aku yang menutup telepon nenekmu waktu itu, aku tidak berbohong, tentu malaikat di sisimu akan memberitahumu jika aku sekarang sedang berbohong. Meskipun aku sedang sibuk tidak mungkin aku menutup telepon dari nenekmu, percayalah kawanku.
&amp;nbsp;
Aku ingin menelpon balik. Tapi sudah aku bilang, mungkin nenekmu terlalu bersemangat menangis, air matanya bikin telepon itu mati, aku tidak bisa menelepon balik. Aku berpikir untuk menyarankan membawamu ke rumah sakit yang lebih bagus, walaupun memang mahal, tapi jaminan kesehatannya bisa dipertanggungjawabkan. Engkau terlalu tradisional, terlalu percaya dengan kartu dari pemerintah untuk berobat. Jika sudah berhari-hari engkau dirawat, tentu rumah sakit akan bosan juga mengurusimu tanpa mendapat bayaran tambahan. Kartu itu kedaluarsa. Belum tentu juga dokter yang merawatmu itu yang terbaik. Kartu dari perusahaan asinglah yang lebih mantap di negara ini, kawanku.
&amp;nbsp;
Aku kenal dekat nenekmu. Saat kuliah dulu, aku masih ingat nenekmu memberiku uang tanpa sepengetahuanmu. Katanya untuk beli buku. Tapi aku tidak menuruti sarannya, dan memakai uang itu untuk membeli arak bersamamu, juga tanpa sepengetahuanmu. Kita dulu benar-benar kacau. Dan, engkau sekarang sudah menghentikan kekacauan, mentok di bawah pusaramu yang masih basah. Sedangkan aku, bukan juga aku tak berpikir untuk memperbaiki diri, aku hanya takut mati hanya karena tanpa uang. Sungguh memalukan menurutku.
&amp;nbsp;
Begitu pun dengan cara berdagang modern seperti yang aku katakan tadi. Jika engkau tahu, negara kita ini adalah rumah tangga paling tidak harmonis di dunia ini. Kepala rumah tangga kita selalu gambling dengan berbisnis ke perusahaan asing, dia kira akan memperbaiki keadaan dan memperoleh keuntungan, tapi dari mana anak-anak belajar berdagang modern jika bukan dari buku-buku mereka yang asing itu. Uang jajan rakyat dikurangi, untuk apa? Untuk berbisnis tentu saja. Aku juga ingin memperbaiki diri, tapi tidak olehku pun orang lain mengantri untuk mengambil posisiku.
&amp;nbsp;
Pusaramu bau bangkai. Eh maaf. Aku tidak bermaksud bikin ziarah pertama kaliku ini tidak karuan, atau tidak khilaf menyebut dirimu bangkai, engkau tetap temanku dalam istilahku sekarang. Tapi terus terang saja. Tadi ada semliwir bau masuk ke dalam hidungku, entah dari dalam pusaramu, atau terbawa angin dari kuburan sebelah.
&amp;nbsp;
Aku takut engkau sedang sakit perut sekarang, dan kentut terus-terusan, pasti engkau merasa bau sendiri karena tidak ada lubang udara di sana. Oh maaf. Aku tidak bisa membayangkan hidup susah apa lagi yang sekarang menimpamu. Terkadang juga ada bau wangi masuk ke dalam hidungku.
&amp;nbsp;
Aku tidak bohong, aku tidak sedang membuatmu tersenyum sekarang. Aku mencium pucuk bunga yang sedang mekar, entah itu dari dalam pusaramu, atau terbawa angin dari kuburan sebelah. Kawanku, aku terkadang merasa bahwa aku sendiri yang sebenarnya sudah bau bangkai, atau merasa sudah sempurna dengan memakai parfum beralkohol. Tapi jika ditelisik, aku memang tanpa harum, aku merasa hidupku penuh bau bangkai akhir akhir ini.
&amp;nbsp;
Aku sungguh takut sekarang. Aku takut bernasib sepertimu. Aku hanya bisa menggaruk-garuk tanah pusaramu untuk meminta maaf, dan agar engkau memperoleh tempat yang layak di sana, agar nanti, jika aku memang bernasib sama sepertimu. Aku akan pulang juga, dan aku akan menumpang di tempatmu. Ya, ya, kawanku.
&amp;nbsp;
Biarlah aku merebahkan badanku ini di atas pusaramu, tak apa-apa meski sedikit basah, meski mengotori baju kemeja baruku ini, kemeja putih. Owh, iya aku lupa. Seharusnya aku mengenakan pakaian serba hitam sekarang, menandakan aku mendung seperti langit yang akan menangis, menandakan aku berkabung.
&amp;nbsp;
Tapi kawanku, dengan aku memeluk pusaramu seperti ini, tentu aku bukan tidak berkabung dengan tidak memakai pakaian serba hitam. Kawanku yang sedang tengadah ke atas, mendengarkan aku bicara, lihatlah aku, aku pun mengenakan celana hitam dan sepatu kerja hitam, aku berkabung kawanku. Cuma masalahnya hanya dengan baju ini. Kawanku engkau harus mengerti, sejak kapan orang-orang sepakat kalau tanda berduka itu warna hitam. Aku tidak sedang mendebatmu. Jika dengan membuka kemejaku bisa ini membuatmu senang di sana, aku akan melakukannya.
&amp;nbsp;
Aku sudah membuka kemejaku, apalagi, kaos ini? Uh tapi aku benar-benar menuruti kemauanmu, mumpung aku di sini. Tak apa-apa aku akan membuka kaos dalam yang warna putih ini. Oh ya, kaos kakiku pun warnanya putih, tunggu sebentar tentu engkau pasti senang aku akan membukanya pula.
&amp;nbsp;
Apa? Aku tidak boleh pulang. Baiklah untuk semalam ini. Engkau berlebihan kawanku, kulit tubuhku memang putih, harus berapa hari dijemur di sini biar agak kelihatan hitam. Untuk sementara aku berguling-guling saja, ya, kawanku, lumayan tanah di sini juga rada hitam. Jangan-jangan, engkau pun meminta aku&amp;hellip; Jangan bilang engkau meminta mataku supaya ikut berkabung. Tapi, baiklah untuk kali ini saja.

Penulis Zulfikar
&amp;nbsp;
Alumni Sastra Arab Unpad. Aktivis Sastra di Langkah Komunitas Sastra, Jatinangor. Bersama beberapa rekan Langkah, kini membentuk Metafor, sebuah Kelompok Studi Sastra-Sosial.
&amp;nbsp;
(Bagi Anda yang memiliki cerita pendek dan bersedia dipublikasikan, silakan kirim ke alamat email: news@okezone.com)</description><content:encoded>AKU sudah berjanji, bila engkau mati aku pasti akan datang, saat jenazahmu dimandikan, saat-saat terakhir mayatmu masuk ke dalam tanah, atau jika sempat aku pasti datang saat engkau sedang sekarat.
&amp;nbsp;
Kawanku yang malang. Mengapa pula waktu itu kita begitu asik menjalarkan obrolan hingga menyentuh soal kematian, dan aku begitu yakin kalau engkau akan mati lebih dulu dari aku. Tapi kawanku, maafkanlah aku, aku begitu sibuk dengan pekerjaanku yang baru. Aku baru hari ini bisa datang kepadamu, menyentuh tanah pusaramu yang masih merah.
&amp;nbsp;
Sesaat setelah dirimu dinyatakan mati oleh dokter, aku mendapatkan telepon berdering kencang. Aku waktu itu saja sudah curiga mendengar deringan telepon, pasti ada kabar buruk datang, walaupun maaf waktu itu aku benar-benar tak curiga kalau itu telepon dari nenekmu yang bawa kabar bahwa engkau mati di rumah sakit kelas bawah.
&amp;nbsp;
Kawanku, walaupun aku mengerti waktu itu engkau pasti sedang sibuk menahan rasa sakitmu menjelang kematian, tapi mengapa tidak engkau sendiri yang memberitahuku perihal kematianmu yang sebentar lagi datang. Tapi sudahlah, walaupun engkau sendiri yang memberitahuku waktu itu, aku belum tentu bisa datang, aku masih harus kejar target kerjaku sampai larut.
&amp;nbsp;
Engkau sekarang sudah masuk tanah. Tubuhmu mungkin sekarang sedang disiksa malaikat, karena aku tahu engkau denganku bukan laki-laki yang baik, tapi di atas pusaramu aku mendoakan, jika memang engkau sedang mengalami siksaan agar diberhentikan barang sebentar minimal sementara aku ada di sini.
&amp;nbsp;
Tapi aku dengar, engkau sudah menjalani hidup bagus setelah engkau memiliki istri dan seorang anak perempuan. Kawanku aku mendoakanmu, apa pun yang terjadi di bawah sana denganmu, tapi aku tak bisa membaca doa-doa berbahasa Arab, tapi sudahlah yang penting aku berdoa memang aku suka merepotkanmu semenjak dulu.
&amp;nbsp;
Aku masih ingat hari itu hari Minggu. Saat setelah kita mengendarai sepeda motor mengelilingi kota. Dan kita mampir di sebuah kedai kopi. Tapi demi Tuhan aku tak bermaksud menyumpahimu mati terlebih dahulu, bukan pula karena aku melihatmu waktu itu terkekeh batuk-batuk memaksakan asap rokok masuk ke dalam rongga dadamu, tapi di sanalah feeling seorang kawan sejati. Harusnya engkau mulai berfikir waktu itu, bukan malah membuka baju telanjang dada karena gerah banget, katamu.
&amp;nbsp;
Bukan pula karena prediksiku ngawur melihat hidupmu yang begitu susah semenjak bekerja di pabrik celana Jeans Amerika itu. Atau semenjak hidupmu dipertaruhkan di pabrik baja meski hanya sepuluh tahun. Sebagai kawan, tentu aku secara tidak sengaja merasakan bahwa sebentar lagi engkau akan mati. Hidupmu dihabiskan menghisap bau karat mesin-mesin, meniup kembung-kembung cerobong asap.
&amp;nbsp;
Ini masalah prinsip kawanku. Tapi ngomong-ngomong. Di sekeliling pusaramu banyak sekali jejak kaki tertinggal, jejak-jejak itu mengelilingi pusaramu. Aku senang engkau banyak yang menyayangi, melihat jejak itu menandakan bahwa banyak orang yang membawakan doa untukmu. Aku tidak menyangka, aku kira hanya anak istrimulah yang datang ke sini, tapi mungkin engkau memang sudah menjadi laki-laki baik kawanku. Meski pun di sebelah kuburanmu, aku kasih tahu, bahwa ada kuburan baru juga semisal punyamu, mungkin saja jejak-jejak kaki ini milik dia. Tapi sudahlah, jika pun orang-orang itu datang bukan kepadamu, mungkin saja engkau kena ciprat doa dari mereka.
&amp;nbsp;
Jika engkau memperbaiki hidupmu dengan mendekati Tuhan, mengapa juga tidak engkau memperbaiki hidupmu dengan mendekati uang. Aku hanya takut engkau mati karena tidak memiliki uang. Tapi tak apalah. Engkau sudah tak lagi memikirkan uang sekarang, berbeda denganku, ya mungkin giliranku yang nanti dikhianati alat tukar sialan itu. Aku juga berharap sepertimu, jika memang iya engkau sudah bertobat, aku ingin pula di akhir-akhir hidupku dekat dengan Tuhan. Pilihanku. Aku bisa mengadu pada uang saat Tuhan sedang tidak berpihak. Begitulah bergantian.
&amp;nbsp;
Hidup ini menakutkan. Bagaimana dengan anak dan istrimu di luar. Bahkan, aku tak tahu di mana mereka tinggal. Aku bisa saja memberikan sedikit uang untuk mereka. Biar mereka tak sepertimu. Atau, aku bisa saja menikahi istrimu dan menganggap anakmu seperti anakku sendiri.
&amp;nbsp;
Jangan marah, aku hanya bergurau, jangan terlalu serius, di alam dunia memang banyak gurauan yang tak menyenangkan jika didengar dari alam kubur. Istrimu pasti membanting tulang menghidupi anakmu, pasti dia kecewa jika engkau di sana hanya disiksa, baik-baiklah engkau agar istrimu juga sedikit tenang. Aku tak prihatin meski istrimu aku temukan membanting tulang, aku hanya akan prihatin jika istrimu sampai membanting daging. Aku pasti akan menolongnya, tenang saja.
&amp;nbsp;
Sebenarnya hidupku juga tak sebaik jalan hidup yang engkau alami. Jika boleh bercerita sedikit. Aku sekarang bekerja di perusahaan asing, dengan gaji besar tentu saja. Engkau juga tahu, bukan berarti aku tak suka pribumi, tapi perusahaan asing itu lebih tahu cara mengajarkan berdagang dengan cara modern. Berbeda dengan pribumi, yang serba salah memilih antara tradisional dengan modern. Walaupun engkau juga bekerja di perusahaan asing, tapi cara hidupmu aku kira masih tradisional. Itulah yang membuatku iri kepadamu, engkau mengesankan dengan cara hidupmu yang tradisional, yang masih menyimpan uang lembaran di bawah bantal.
&amp;nbsp;
Saat nenekmu meneleponku waktu engkau sekarat di rumah sakit kelas bawah. Nenekmu menangis dalam telepon, mungkin karena air matanya pula teleponnya mati karena konslet. Saat itu aku sedang negosiasi ratusan juta dengan salah satu pejabat di daerahmu. Proyek pembangunan pabrik. Jadi bukan aku yang menutup telepon nenekmu waktu itu, aku tidak berbohong, tentu malaikat di sisimu akan memberitahumu jika aku sekarang sedang berbohong. Meskipun aku sedang sibuk tidak mungkin aku menutup telepon dari nenekmu, percayalah kawanku.
&amp;nbsp;
Aku ingin menelpon balik. Tapi sudah aku bilang, mungkin nenekmu terlalu bersemangat menangis, air matanya bikin telepon itu mati, aku tidak bisa menelepon balik. Aku berpikir untuk menyarankan membawamu ke rumah sakit yang lebih bagus, walaupun memang mahal, tapi jaminan kesehatannya bisa dipertanggungjawabkan. Engkau terlalu tradisional, terlalu percaya dengan kartu dari pemerintah untuk berobat. Jika sudah berhari-hari engkau dirawat, tentu rumah sakit akan bosan juga mengurusimu tanpa mendapat bayaran tambahan. Kartu itu kedaluarsa. Belum tentu juga dokter yang merawatmu itu yang terbaik. Kartu dari perusahaan asinglah yang lebih mantap di negara ini, kawanku.
&amp;nbsp;
Aku kenal dekat nenekmu. Saat kuliah dulu, aku masih ingat nenekmu memberiku uang tanpa sepengetahuanmu. Katanya untuk beli buku. Tapi aku tidak menuruti sarannya, dan memakai uang itu untuk membeli arak bersamamu, juga tanpa sepengetahuanmu. Kita dulu benar-benar kacau. Dan, engkau sekarang sudah menghentikan kekacauan, mentok di bawah pusaramu yang masih basah. Sedangkan aku, bukan juga aku tak berpikir untuk memperbaiki diri, aku hanya takut mati hanya karena tanpa uang. Sungguh memalukan menurutku.
&amp;nbsp;
Begitu pun dengan cara berdagang modern seperti yang aku katakan tadi. Jika engkau tahu, negara kita ini adalah rumah tangga paling tidak harmonis di dunia ini. Kepala rumah tangga kita selalu gambling dengan berbisnis ke perusahaan asing, dia kira akan memperbaiki keadaan dan memperoleh keuntungan, tapi dari mana anak-anak belajar berdagang modern jika bukan dari buku-buku mereka yang asing itu. Uang jajan rakyat dikurangi, untuk apa? Untuk berbisnis tentu saja. Aku juga ingin memperbaiki diri, tapi tidak olehku pun orang lain mengantri untuk mengambil posisiku.
&amp;nbsp;
Pusaramu bau bangkai. Eh maaf. Aku tidak bermaksud bikin ziarah pertama kaliku ini tidak karuan, atau tidak khilaf menyebut dirimu bangkai, engkau tetap temanku dalam istilahku sekarang. Tapi terus terang saja. Tadi ada semliwir bau masuk ke dalam hidungku, entah dari dalam pusaramu, atau terbawa angin dari kuburan sebelah.
&amp;nbsp;
Aku takut engkau sedang sakit perut sekarang, dan kentut terus-terusan, pasti engkau merasa bau sendiri karena tidak ada lubang udara di sana. Oh maaf. Aku tidak bisa membayangkan hidup susah apa lagi yang sekarang menimpamu. Terkadang juga ada bau wangi masuk ke dalam hidungku.
&amp;nbsp;
Aku tidak bohong, aku tidak sedang membuatmu tersenyum sekarang. Aku mencium pucuk bunga yang sedang mekar, entah itu dari dalam pusaramu, atau terbawa angin dari kuburan sebelah. Kawanku, aku terkadang merasa bahwa aku sendiri yang sebenarnya sudah bau bangkai, atau merasa sudah sempurna dengan memakai parfum beralkohol. Tapi jika ditelisik, aku memang tanpa harum, aku merasa hidupku penuh bau bangkai akhir akhir ini.
&amp;nbsp;
Aku sungguh takut sekarang. Aku takut bernasib sepertimu. Aku hanya bisa menggaruk-garuk tanah pusaramu untuk meminta maaf, dan agar engkau memperoleh tempat yang layak di sana, agar nanti, jika aku memang bernasib sama sepertimu. Aku akan pulang juga, dan aku akan menumpang di tempatmu. Ya, ya, kawanku.
&amp;nbsp;
Biarlah aku merebahkan badanku ini di atas pusaramu, tak apa-apa meski sedikit basah, meski mengotori baju kemeja baruku ini, kemeja putih. Owh, iya aku lupa. Seharusnya aku mengenakan pakaian serba hitam sekarang, menandakan aku mendung seperti langit yang akan menangis, menandakan aku berkabung.
&amp;nbsp;
Tapi kawanku, dengan aku memeluk pusaramu seperti ini, tentu aku bukan tidak berkabung dengan tidak memakai pakaian serba hitam. Kawanku yang sedang tengadah ke atas, mendengarkan aku bicara, lihatlah aku, aku pun mengenakan celana hitam dan sepatu kerja hitam, aku berkabung kawanku. Cuma masalahnya hanya dengan baju ini. Kawanku engkau harus mengerti, sejak kapan orang-orang sepakat kalau tanda berduka itu warna hitam. Aku tidak sedang mendebatmu. Jika dengan membuka kemejaku bisa ini membuatmu senang di sana, aku akan melakukannya.
&amp;nbsp;
Aku sudah membuka kemejaku, apalagi, kaos ini? Uh tapi aku benar-benar menuruti kemauanmu, mumpung aku di sini. Tak apa-apa aku akan membuka kaos dalam yang warna putih ini. Oh ya, kaos kakiku pun warnanya putih, tunggu sebentar tentu engkau pasti senang aku akan membukanya pula.
&amp;nbsp;
Apa? Aku tidak boleh pulang. Baiklah untuk semalam ini. Engkau berlebihan kawanku, kulit tubuhku memang putih, harus berapa hari dijemur di sini biar agak kelihatan hitam. Untuk sementara aku berguling-guling saja, ya, kawanku, lumayan tanah di sini juga rada hitam. Jangan-jangan, engkau pun meminta aku&amp;hellip; Jangan bilang engkau meminta mataku supaya ikut berkabung. Tapi, baiklah untuk kali ini saja.

Penulis Zulfikar
&amp;nbsp;
Alumni Sastra Arab Unpad. Aktivis Sastra di Langkah Komunitas Sastra, Jatinangor. Bersama beberapa rekan Langkah, kini membentuk Metafor, sebuah Kelompok Studi Sastra-Sosial.
&amp;nbsp;
(Bagi Anda yang memiliki cerita pendek dan bersedia dipublikasikan, silakan kirim ke alamat email: news@okezone.com)</content:encoded></item></channel></rss>
