<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah WNI Hadapi Topan Isaac</title><description>Topan Isaac yang melanda Amerika Serikat (AS) pekan menyisakan situasi  buruk terhadap warga setempat. Beberapa warga negara Indonesia (WNI)  yang kebetulan berada di lokasi bencana, menceritakan pengalaman mereka  saat menghadapi topan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2012/09/04/411/684758/kisah-wni-hadapi-topan-isaac</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/09/04/411/684758/kisah-wni-hadapi-topan-isaac"/><item><title>Kisah WNI Hadapi Topan Isaac</title><link>https://news.okezone.com/read/2012/09/04/411/684758/kisah-wni-hadapi-topan-isaac</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/09/04/411/684758/kisah-wni-hadapi-topan-isaac</guid><pubDate>Selasa 04 September 2012 10:46 WIB</pubDate><dc:creator>Fajar Nugraha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/09/04/411/684758/uaD494Ymog.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kerusakan akibat Topan Isaac (Foto: AP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/09/04/411/684758/uaD494Ymog.jpg</image><title>Kerusakan akibat Topan Isaac (Foto: AP)</title></images><description>HOUSTON - Topan Isaac yang melanda Amerika Serikat (AS) pekan menyisakan situasi buruk terhadap warga setempat. Beberapa warga negara Indonesia (WNI) yang kebetulan berada di lokasi bencana, menceritakan pengalaman mereka saat menghadapi topan.&amp;nbsp;Ventje Welan bersama keluarganya yang bermukim Kota Houma, kota paling selatan di negara bagian Louisana mengatakan, mereka sekeluarga terpaksa menginap di dalam mobil bersama anak-anak mereka pada malam hari.&amp;nbsp;&quot;Lampu mati, anak-anak menangis, mereka tidak bisa tidur karena di dalam kamar panas sekali. Kami kemudian masuk mobil yang diparkir di garasi rumah, lalu tidur bergantian sambil menyalakan pendingin mobil,&quot; kata Djenny, istri Ventje Welan kepada&amp;nbsp; Konsul Jenderal RI di Houston, Al Busyra Basnur dalam keterangan pers KJRI Houston yang diterima Okezone, Selasa (4/9/2012).&amp;nbsp;&quot;Saya terpaksa memegang golok dan senapan angin untuk berjaga-jaga,&quot; kata Ventje Welan menambahkan.&amp;nbsp;Lain lagi cerita Denny Setiawan yang bekerja di restoran di Kota New Orleans. Dia mempersiapkan diri beberapa hari sebelum topan Isaac datang dengan membeli makanan dan minuman dalam jumlah banyak untuk bekal. &amp;nbsp;&quot;Saat badai datang saya tidak bisa keluar. Saya hanya bisa berdiam di dalam apartemen sambil memandang keluar dan mendengarkan bunyi hujan deras dan angin yang sangat kencang. Pohon-pohon tumbang. Ngeri juga,&quot; katanya.&amp;nbsp;Sementara itu Bambang Arifatmi memilih meninggalkan Kota New Orleans untuk mengungsi pada detik-detik terakhir menjelang badai datang. Bambang yang calon Doktor dari University of New Orleans, ingin membantu masyarakat Indonesia terlebih dahulu dan memastikan mereka aman sebelum ia sendiri keluar meninggalkan kota New Orleans. Bambang mengungsi ke kota Baton Rouge, sekitar 150 km sebelah barat New Orleans. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&quot;Saya selalu berusaha mengupdate masyarakat Indonesia tentang setiap perkembangan dan pergerakan badai serta akses jalan yang bisa dilalui,&quot; ujarnya.&amp;nbsp;Bambang juga aktif menyampaikan informasi kepada KJRI Houston tentang situasi badai, pengumuman pemerintah dan pergerakan masyarakat Indonesia baik yang bertahan tinggal di New Orleans maupun yang dalam pengungsian.</description><content:encoded>HOUSTON - Topan Isaac yang melanda Amerika Serikat (AS) pekan menyisakan situasi buruk terhadap warga setempat. Beberapa warga negara Indonesia (WNI) yang kebetulan berada di lokasi bencana, menceritakan pengalaman mereka saat menghadapi topan.&amp;nbsp;Ventje Welan bersama keluarganya yang bermukim Kota Houma, kota paling selatan di negara bagian Louisana mengatakan, mereka sekeluarga terpaksa menginap di dalam mobil bersama anak-anak mereka pada malam hari.&amp;nbsp;&quot;Lampu mati, anak-anak menangis, mereka tidak bisa tidur karena di dalam kamar panas sekali. Kami kemudian masuk mobil yang diparkir di garasi rumah, lalu tidur bergantian sambil menyalakan pendingin mobil,&quot; kata Djenny, istri Ventje Welan kepada&amp;nbsp; Konsul Jenderal RI di Houston, Al Busyra Basnur dalam keterangan pers KJRI Houston yang diterima Okezone, Selasa (4/9/2012).&amp;nbsp;&quot;Saya terpaksa memegang golok dan senapan angin untuk berjaga-jaga,&quot; kata Ventje Welan menambahkan.&amp;nbsp;Lain lagi cerita Denny Setiawan yang bekerja di restoran di Kota New Orleans. Dia mempersiapkan diri beberapa hari sebelum topan Isaac datang dengan membeli makanan dan minuman dalam jumlah banyak untuk bekal. &amp;nbsp;&quot;Saat badai datang saya tidak bisa keluar. Saya hanya bisa berdiam di dalam apartemen sambil memandang keluar dan mendengarkan bunyi hujan deras dan angin yang sangat kencang. Pohon-pohon tumbang. Ngeri juga,&quot; katanya.&amp;nbsp;Sementara itu Bambang Arifatmi memilih meninggalkan Kota New Orleans untuk mengungsi pada detik-detik terakhir menjelang badai datang. Bambang yang calon Doktor dari University of New Orleans, ingin membantu masyarakat Indonesia terlebih dahulu dan memastikan mereka aman sebelum ia sendiri keluar meninggalkan kota New Orleans. Bambang mengungsi ke kota Baton Rouge, sekitar 150 km sebelah barat New Orleans. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&quot;Saya selalu berusaha mengupdate masyarakat Indonesia tentang setiap perkembangan dan pergerakan badai serta akses jalan yang bisa dilalui,&quot; ujarnya.&amp;nbsp;Bambang juga aktif menyampaikan informasi kepada KJRI Houston tentang situasi badai, pengumuman pemerintah dan pergerakan masyarakat Indonesia baik yang bertahan tinggal di New Orleans maupun yang dalam pengungsian.</content:encoded></item></channel></rss>
