<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pelajaran Anti-Terorisme Disarankan Masuk Kurikulum Sekolah</title><description>Mantan pelaku tindak pidana terorisme dan sejumlah LSM seperti Lazuardi  Birru mendesak pemerintah untuk secepatnya memasukkan pelajaran  antiterorisme ke dalam kurikulum sekolah.</description><link>https://news.okezone.com/read/2012/09/23/337/693862/pelajaran-anti-terorisme-disarankan-masuk-kurikulum-sekolah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/09/23/337/693862/pelajaran-anti-terorisme-disarankan-masuk-kurikulum-sekolah"/><item><title>Pelajaran Anti-Terorisme Disarankan Masuk Kurikulum Sekolah</title><link>https://news.okezone.com/read/2012/09/23/337/693862/pelajaran-anti-terorisme-disarankan-masuk-kurikulum-sekolah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/09/23/337/693862/pelajaran-anti-terorisme-disarankan-masuk-kurikulum-sekolah</guid><pubDate>Minggu 23 September 2012 14:29 WIB</pubDate><dc:creator>Dede Suryana</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/09/23/337/693862/rPANe1m5oP.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Stop terorisme (Foto: Dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/09/23/337/693862/rPANe1m5oP.jpg</image><title>Stop terorisme (Foto: Dok Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Mantan pelaku tindak pidana terorisme dan sejumlah LSM seperti Lazuardi Birru mendesak pemerintah untuk secepatnya memasukkan pelajaran antiterorisme ke dalam kurikulum sekolah.Menurut mantan Ketua Jamaah Islamiyah Mantiqi III, Nasir Abbas, hal ini dilakukan untuk meminimalisir dan menghindarkan pelajar setingkat SMA terlibat dalam aksi terorisme seperti yang terjadi di Solo beberapa waktu lalu.&quot;Cara yang efektif untuk menghindari atau memerangi terorisme adalah dengan memberikan pelatihan kepada anak-anak SMU bahkan jika perlu dimasukan ke dalam kurikulum sekolah mengenai bahaya terorisme,&quot; kata dia dalam keterangan persnya, Minggu (23/9/2012).Nasir Abas menjelaskan, pola rekrutmen terorisme saat ini cenderung membidik anak-anak SMU lantaran mereka masih dianggap labil dan mudah dipengaruhi. Sehingga dengan doktrin tertentu dan iming-iming masuk surga, mereka mau melakukan aksi tersebut.&quot;Para pelaku terorisme mengincar anak-anak muda yang gampang dicuci otaknya untuk menjadi seorang teroris karena mereka masih labil dan mudah dipengaruhi,&quot; tambahnya. Keterlibatan, seluruh elemen masyarakat, kata dia,  sangat diperlukan. Di samping memasukan mata pelajaran antiterorisme dalam kurikulum khusus di sekolah.&quot;Selain itu lembaga swadaya masyarakat dan alim ulama juga harus berperan serta melakukan kegiatan pelatihan dengan berkerja sama pihak aparat keamanan sehingga terjadi sinergi dimasyarakat. Namun yang paling penting adalah peran orangtua dalam mengawasi segala kegiatan anaknya di luar rumah,&quot; lanjut Nasir Abas.Terkait hal ini, LSM Lazuardi Birru hari ini menggelar pelatihan terhadap 5.000 siswa SMU se-Indonesia.  Kegiatan ini dilakukan agar anak muda tidak mudah mengikuti ajakan pelaku teror seperti yang terjadi belakangan ini.Menurut Ketua Lazuardi Birru, Dhyah Madya Ruth, pelatihan ini bertujuan untuk membangun imunitas bagi remaja dalam menanggulangi epidemi virus kekerasan, radikalisme dan terorisme di Indonesia.Sebab, kata dia, kekerasan yang terjadi belakangan ini sering kali diidentikkan dengan remaja. Padahal remaja yang terlibat dalam aksi radikal dan terorisme merupakan korban ideologi kekerasannya sendiri.</description><content:encoded>JAKARTA - Mantan pelaku tindak pidana terorisme dan sejumlah LSM seperti Lazuardi Birru mendesak pemerintah untuk secepatnya memasukkan pelajaran antiterorisme ke dalam kurikulum sekolah.Menurut mantan Ketua Jamaah Islamiyah Mantiqi III, Nasir Abbas, hal ini dilakukan untuk meminimalisir dan menghindarkan pelajar setingkat SMA terlibat dalam aksi terorisme seperti yang terjadi di Solo beberapa waktu lalu.&quot;Cara yang efektif untuk menghindari atau memerangi terorisme adalah dengan memberikan pelatihan kepada anak-anak SMU bahkan jika perlu dimasukan ke dalam kurikulum sekolah mengenai bahaya terorisme,&quot; kata dia dalam keterangan persnya, Minggu (23/9/2012).Nasir Abas menjelaskan, pola rekrutmen terorisme saat ini cenderung membidik anak-anak SMU lantaran mereka masih dianggap labil dan mudah dipengaruhi. Sehingga dengan doktrin tertentu dan iming-iming masuk surga, mereka mau melakukan aksi tersebut.&quot;Para pelaku terorisme mengincar anak-anak muda yang gampang dicuci otaknya untuk menjadi seorang teroris karena mereka masih labil dan mudah dipengaruhi,&quot; tambahnya. Keterlibatan, seluruh elemen masyarakat, kata dia,  sangat diperlukan. Di samping memasukan mata pelajaran antiterorisme dalam kurikulum khusus di sekolah.&quot;Selain itu lembaga swadaya masyarakat dan alim ulama juga harus berperan serta melakukan kegiatan pelatihan dengan berkerja sama pihak aparat keamanan sehingga terjadi sinergi dimasyarakat. Namun yang paling penting adalah peran orangtua dalam mengawasi segala kegiatan anaknya di luar rumah,&quot; lanjut Nasir Abas.Terkait hal ini, LSM Lazuardi Birru hari ini menggelar pelatihan terhadap 5.000 siswa SMU se-Indonesia.  Kegiatan ini dilakukan agar anak muda tidak mudah mengikuti ajakan pelaku teror seperti yang terjadi belakangan ini.Menurut Ketua Lazuardi Birru, Dhyah Madya Ruth, pelatihan ini bertujuan untuk membangun imunitas bagi remaja dalam menanggulangi epidemi virus kekerasan, radikalisme dan terorisme di Indonesia.Sebab, kata dia, kekerasan yang terjadi belakangan ini sering kali diidentikkan dengan remaja. Padahal remaja yang terlibat dalam aksi radikal dan terorisme merupakan korban ideologi kekerasannya sendiri.</content:encoded></item></channel></rss>
