<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Media Massa Harus Jadi &quot;Jembatan&quot; dalam Konflik</title><description>Media massa tidak boleh memperuncing sebuah konflik dalam pemberitaannya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2012/10/21/340/706935/media-massa-harus-jadi-jembatan-dalam-konflik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/10/21/340/706935/media-massa-harus-jadi-jembatan-dalam-konflik"/><item><title>Media Massa Harus Jadi &quot;Jembatan&quot; dalam Konflik</title><link>https://news.okezone.com/read/2012/10/21/340/706935/media-massa-harus-jadi-jembatan-dalam-konflik</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/10/21/340/706935/media-massa-harus-jadi-jembatan-dalam-konflik</guid><pubDate>Minggu 21 Oktober 2012 02:02 WIB</pubDate><dc:creator>Tri Purna Jaya</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/10/20/340/706935/A3LExFO56h.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/10/20/340/706935/A3LExFO56h.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>LAMPUNG - Media massa tidak boleh memperuncing sebuah konflik dalam pemberitaannya. Solusi dari media massa diharapkan mampu meredakan konflik.Hal itu terungkap dalam diskusi bertema &quot;Manajemen Pemberitaan Tentang Konflik Di Media Massa&quot; yang digagas Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Bandar Lampung, Sabtu (20/10/2012).Wakil Pemimpin Redaksi Lampung Post, Iskandar Zulkarnaen mengatakan verifikasi data harus dikedepankan oleh jurnalis dalam melakukan peliputan konflik.Menurut Iskandar, setiap jurnalis yang meliput konflik tidak boleh terbawa emosi. &quot;Jangan terbawa nafsu ada peristiwa ingin langsung jadi headline. Verifikasi data, apakah benar isu tersebut,&quot; kata dia.Untuk itu, tambahnya, penyusunan TOR (Term of Reference) dari redaksi terkait menjadi mutlak karena di dalam konflik banyak hal yang krusial, terlebih konflik yang menyangkut nyawa manusia.&quot;TOR itu sendiri harus berkiblat pada jurnalisme damai, tidak memperkeruh suasana,&quot; tambahnya.Sementara itu, Ketua Komisi Informasi, Juniardi mengatakan jurnalis sebisa mungkin menghindari talking news, &quot;Fakta diungkapkan dahulu, konfirmasi kesemua pihak. Ini menghindari ketidakberimbangan berita,&quot; terangnya.Namun, menurut Juniardi, keselamatan jurnalis itu sendiri juga harus diperhatikan. &quot;Di daerah konflik,&amp;nbsp; yang rawan itu kamera, alat rekam, ataupun atribut lain yang menunjukan jati diri jurnalis. Itu karena takut terekspos,&quot; jelasnya.Senada dengan Juniardi, Redaktur Senior Antara Lampung, Budisantoso Budiman mengatakan, fakta adalah hal yang paling mutlak. &quot;Pemilihan narasumber pun penting. Cari narasumber yang kredibel dan netral,&quot; tambahnya.Dalam pemberitaan konflik, kata dia, media tidak boleh memperuncing konflik. &quot;Pers menjadi jembatan dari pihak-pihak yang terlibat. Media harus bisa memberikan solusi,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>LAMPUNG - Media massa tidak boleh memperuncing sebuah konflik dalam pemberitaannya. Solusi dari media massa diharapkan mampu meredakan konflik.Hal itu terungkap dalam diskusi bertema &quot;Manajemen Pemberitaan Tentang Konflik Di Media Massa&quot; yang digagas Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Bandar Lampung, Sabtu (20/10/2012).Wakil Pemimpin Redaksi Lampung Post, Iskandar Zulkarnaen mengatakan verifikasi data harus dikedepankan oleh jurnalis dalam melakukan peliputan konflik.Menurut Iskandar, setiap jurnalis yang meliput konflik tidak boleh terbawa emosi. &quot;Jangan terbawa nafsu ada peristiwa ingin langsung jadi headline. Verifikasi data, apakah benar isu tersebut,&quot; kata dia.Untuk itu, tambahnya, penyusunan TOR (Term of Reference) dari redaksi terkait menjadi mutlak karena di dalam konflik banyak hal yang krusial, terlebih konflik yang menyangkut nyawa manusia.&quot;TOR itu sendiri harus berkiblat pada jurnalisme damai, tidak memperkeruh suasana,&quot; tambahnya.Sementara itu, Ketua Komisi Informasi, Juniardi mengatakan jurnalis sebisa mungkin menghindari talking news, &quot;Fakta diungkapkan dahulu, konfirmasi kesemua pihak. Ini menghindari ketidakberimbangan berita,&quot; terangnya.Namun, menurut Juniardi, keselamatan jurnalis itu sendiri juga harus diperhatikan. &quot;Di daerah konflik,&amp;nbsp; yang rawan itu kamera, alat rekam, ataupun atribut lain yang menunjukan jati diri jurnalis. Itu karena takut terekspos,&quot; jelasnya.Senada dengan Juniardi, Redaktur Senior Antara Lampung, Budisantoso Budiman mengatakan, fakta adalah hal yang paling mutlak. &quot;Pemilihan narasumber pun penting. Cari narasumber yang kredibel dan netral,&quot; tambahnya.Dalam pemberitaan konflik, kata dia, media tidak boleh memperuncing konflik. &quot;Pers menjadi jembatan dari pihak-pihak yang terlibat. Media harus bisa memberikan solusi,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
