<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Wow, Ternyata Bahasa Alay Ada Manfaatnya!</title><description>Keberadaan  bahasa anak lebay (alay) seperti  kata  ciyus dan miapa, serta  tulisan dengan huruf besar kecil yang &quot;menyilaukan&quot; mata makin  akrab di telinga kita. Ternyata, bahasa alay ini memiliki manfaat lho.</description><link>https://news.okezone.com/read/2012/11/28/373/724671/wow-ternyata-bahasa-alay-ada-manfaatnya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/11/28/373/724671/wow-ternyata-bahasa-alay-ada-manfaatnya"/><item><title>Wow, Ternyata Bahasa Alay Ada Manfaatnya!</title><link>https://news.okezone.com/read/2012/11/28/373/724671/wow-ternyata-bahasa-alay-ada-manfaatnya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/11/28/373/724671/wow-ternyata-bahasa-alay-ada-manfaatnya</guid><pubDate>Rabu 28 November 2012 20:00 WIB</pubDate><dc:creator>Margaret Puspitarini</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/11/28/373/724671/PeIZG0StdN.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi : Reuters</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/11/28/373/724671/PeIZG0StdN.jpg</image><title>Ilustrasi : Reuters</title></images><description>JAKARTA - Keberadaan  bahasa anak lebay (alay) seperti  kata  ciyus dan miapa, serta  tulisan dengan huruf besar kecil yang &quot;menyilaukan&quot; mata, terasa  akrab dan merupakan hal biasa di masyarakat. Apalagi jejaring sosial hingga  iklan komersil di media massa pun seakan menyebarluaskan bahasa alay sehingga membuat masyarakat semakin akrab dengan bahasa  tersebut.
&amp;nbsp;
Pada diskusi  &amp;ldquo;Fenomena Bahasa Alay dan Jatidiri Generasi Muda Indonesia&amp;rdquo; di  Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB)  Bramantio menyebut, bahasa alay memiliki dampak positif dan negatif.  Dampak positif dari bahasa alay yakni sebagai media berekspresi bagi  remaja yang memiliki kebutuhan untuk diperhatikan lebih. Sementara, sisi negatif  bahasa alay membuat bingung bagi orang yang tidak terbiasa berkomunikasi  menggunakannya.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Bahasa alay sebaiknya tidak hanya dilihat dari dimensi positif atau negatif saja, melainkan  sebagai bagian dari dinamika bahasa dan berbahasa. Bahasa alay juga  merupakan variasi bahasa yang biasa terjadi di ranah kebahasaan apapun dan  variasi tersebut tidak berkedudukan sebagai ancaman bagi bahasa Indonesia yang  telah baku,&amp;rdquo; ujar Bramantio, seperti dilansir dari situs Unair, Rabu  (28/11/2012).
&amp;nbsp;
Diskusi yang dihadiri  oleh siswa SMP Dhaniswara, SMP PGRI, SMKN 10, SMA 17 Agustus 1945, dan SMA YPPI  tersebut mendapatkan antusias dari para peserta. Para remaja tersebut sangat  tertarik membahas hal-hal yang memang erat kaitannya dalam pergaulan mereka  sehari-hari.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Kegiatan ini  bermanfaat, apalagi ada teman-teman saya yang juga biasa menggunakan bahasa  alay. Mereka biasanya update status yang nggak penting, sehari bisa beberapa  kali update status,&amp;rdquo; kata peserta diskusi dari SMKN 10 Surabaya, Dhoifatul  Agustia.
&amp;nbsp;
Tidak hanya para  remaja, peserta lain yang merupakan guru dari SMP PGRI Surabaya Mila Dian  Syarofin mengungkapkan keluhannya terhadap para siswa yang kerap menggunakan  bahasa alay saat mengirim pesan singkat alias SMS  kepadanya.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Saya sering  mengeluhkan sms dari siswa saya yang sms-nya disingkat-singkat, seperti &amp;lsquo;gw&amp;rsquo;.  Semoga setelah acara ini mereka tahu kapan dan pada siapa mereka dapat  menggunakan bahasa alay,&amp;rdquo; kata Mila.
&amp;nbsp;
Penggunaan bahasa  alay memang tidak dapat dihentikan, melainkan dibiarkan berdampingan  sebagai variasi kebahasaan. Namun, bukan berarti bahasa alay dapat kita gunakan  semau kita, melainkan juga harus memahami kondisi kapan dan kepada siapa kita  dapat menggunakannya.</description><content:encoded>JAKARTA - Keberadaan  bahasa anak lebay (alay) seperti  kata  ciyus dan miapa, serta  tulisan dengan huruf besar kecil yang &quot;menyilaukan&quot; mata, terasa  akrab dan merupakan hal biasa di masyarakat. Apalagi jejaring sosial hingga  iklan komersil di media massa pun seakan menyebarluaskan bahasa alay sehingga membuat masyarakat semakin akrab dengan bahasa  tersebut.
&amp;nbsp;
Pada diskusi  &amp;ldquo;Fenomena Bahasa Alay dan Jatidiri Generasi Muda Indonesia&amp;rdquo; di  Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB)  Bramantio menyebut, bahasa alay memiliki dampak positif dan negatif.  Dampak positif dari bahasa alay yakni sebagai media berekspresi bagi  remaja yang memiliki kebutuhan untuk diperhatikan lebih. Sementara, sisi negatif  bahasa alay membuat bingung bagi orang yang tidak terbiasa berkomunikasi  menggunakannya.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Bahasa alay sebaiknya tidak hanya dilihat dari dimensi positif atau negatif saja, melainkan  sebagai bagian dari dinamika bahasa dan berbahasa. Bahasa alay juga  merupakan variasi bahasa yang biasa terjadi di ranah kebahasaan apapun dan  variasi tersebut tidak berkedudukan sebagai ancaman bagi bahasa Indonesia yang  telah baku,&amp;rdquo; ujar Bramantio, seperti dilansir dari situs Unair, Rabu  (28/11/2012).
&amp;nbsp;
Diskusi yang dihadiri  oleh siswa SMP Dhaniswara, SMP PGRI, SMKN 10, SMA 17 Agustus 1945, dan SMA YPPI  tersebut mendapatkan antusias dari para peserta. Para remaja tersebut sangat  tertarik membahas hal-hal yang memang erat kaitannya dalam pergaulan mereka  sehari-hari.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Kegiatan ini  bermanfaat, apalagi ada teman-teman saya yang juga biasa menggunakan bahasa  alay. Mereka biasanya update status yang nggak penting, sehari bisa beberapa  kali update status,&amp;rdquo; kata peserta diskusi dari SMKN 10 Surabaya, Dhoifatul  Agustia.
&amp;nbsp;
Tidak hanya para  remaja, peserta lain yang merupakan guru dari SMP PGRI Surabaya Mila Dian  Syarofin mengungkapkan keluhannya terhadap para siswa yang kerap menggunakan  bahasa alay saat mengirim pesan singkat alias SMS  kepadanya.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Saya sering  mengeluhkan sms dari siswa saya yang sms-nya disingkat-singkat, seperti &amp;lsquo;gw&amp;rsquo;.  Semoga setelah acara ini mereka tahu kapan dan pada siapa mereka dapat  menggunakan bahasa alay,&amp;rdquo; kata Mila.
&amp;nbsp;
Penggunaan bahasa  alay memang tidak dapat dihentikan, melainkan dibiarkan berdampingan  sebagai variasi kebahasaan. Namun, bukan berarti bahasa alay dapat kita gunakan  semau kita, melainkan juga harus memahami kondisi kapan dan kepada siapa kita  dapat menggunakannya.</content:encoded></item></channel></rss>
