<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jadi News Anchor 10 Tahun Membuat Isyana Kaya</title><description>&quot;Meminjam kata-kata  Putra Nababan, kalau mau kaya jangan jadi jurnalis. Namun, saya tidak pernah  menyesal mengambil pilihan bekerja di bidang ini karena pengalaman yang saya  punya selama bekerja sebagai jurnalis tidak bisa dibeli dengan uang,&quot; urai Isyana sembari  tertawa.</description><link>https://news.okezone.com/read/2012/12/04/373/727175/jadi-news-anchor-10-tahun-membuat-isyana-kaya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/12/04/373/727175/jadi-news-anchor-10-tahun-membuat-isyana-kaya"/><item><title>Jadi News Anchor 10 Tahun Membuat Isyana Kaya</title><link>https://news.okezone.com/read/2012/12/04/373/727175/jadi-news-anchor-10-tahun-membuat-isyana-kaya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/12/04/373/727175/jadi-news-anchor-10-tahun-membuat-isyana-kaya</guid><pubDate>Selasa 04 Desember 2012 15:26 WIB</pubDate><dc:creator>Margaret Puspitarini</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/12/04/373/727175/aG03kNp5DY.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto : Isyana Bagoes Oka/Feri Usmawan (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/12/04/373/727175/aG03kNp5DY.jpg</image><title>Foto : Isyana Bagoes Oka/Feri Usmawan (Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Siapa tak  kenal news anchor Seputar Indonesia Isyana Bagoes Oka? Setiap hari wajah dan  suaranya menghiasi layar kaca untuk membawakan informasi terhangat di Nusantara  maupun mancanegara.Ternyata, kecintaan  Isyana pada dunia jurnalistik sudah timbul sejak lama. &quot;Saya tidak pernah punya  cita-cita spesifik ingin jadi news anchor. Tapi sempat kepikiran mau menjadi  (news anchor) pembawa berita karena tampil di layar TV tidak sekadar  mengandalkan fisik saja tapi tetap mengisi dan mengasah kemampuan otak,&quot; ujar  Isyana ketika berbincang dengan Okezone selepas siaran di Studio Seputar  Indonesia, belum lama ini.Alumni Jurusan  Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI) itu menjelaskan, tidak  memiliki tokoh inspiratif yang membuatnya ingin menekuni dunia jurnalistik,  khususnya news. Namun, setelah berkecimpung dalam profesi jurnalis sejak 10  tahun silam, dia mengagumi anchor Anderson Cooper dan Christian  Amanpour.&quot;Mereka tidak sekadar  membacakan berita tapi juga matang di lapangan. Apalagi Christian Amanpour yang sering liputan ke daerah konflik. Sosok  seorang perempuan kuat dan tangguh. Tiap wawancara, semua orang segan sama dia  karena kredibilitasnya sudah tinggi. Di luar news, saya suka sekali Oprah  Winfrey,&quot; tutur pemilik nama lengkap Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka  itu.Wanita kelahiran  Jakarta, 13 September 1980 itu mulai karier di bidang jurnalistik sejak 2003.  Saat itu, dia diterima sebagai reporter Trans TV. Kemudian, mendapat  tawaran lain, Isyana Pindah ke TV 7 dan menjadi news anchor dan tetap  melakukan peliputan.Istri dari George  Albert Tulaar menyebutkan, untuk menjadi seorang news anchor yang baik seorang  jurnalis harus merasakan pengalaman sebagai reporter. Sebab, pengalaman  tersebut, lanjutnya, akan terpakai ketika menjadi seorang news  anchor.&quot;Seorang news anchor itu sebaiknya memiliki dasar liputan di lapangan. Karena dengan pernah melakukan  peliputan di lapangan, dasar-dasar mewawancarai orang pasti akan tetap ada, jadi  sudah tahu bagaimana menghadapi orang-orang tertentu. Jadi pada saat tampil di  studio tentu tidak kagok lagi untuk melakukan interview,&quot; urainya  ramah.Tidak hanya itu,  tambahnya, memiliki bekal sebagai seorang reporter sebelum menjadi news anchor juga memiliki manfaat lain. Dia menilai, para news anchor jadi lebih menghargai  berita yang mereka sajikan.&quot;Mereka tahu  bagaimana sulitnya proses memperoleh berita di lapangan. Tidak sekadar membaca  berita yang sudah ada. Soulnya akan beda,&quot; imbuh wanita yang pernah menjadi  bintang iklan itu.Meski mencintai  berada di lapangan, kehidupan barunya sebagai seorang ibu memaksanya untuk  memilih berada di bagian produksi. Semenjak hamil hingga saat ini, Produser  Seputar Indonesia itu tidak lagi liputan karena ingin jam kerja yang lebih  teratur bagi sang anak.&quot;Saya itu punya asma.  Sejak hamil, kondisi kesehatan saya tidak baik, asma kambuh dan muntah-muntah.  Karena anak titipan Tuhan, saya minta untuk tetap di dalam. Liputan di lapangan  kangen. Tapi, liputan di lapangan waktunya panjang sekali. Kalau di produksi,  jamnya lebih teratur, seperti jam kerja, walaupun tidak 09.00-17.00 WIB, tapi  setidaknya lebih jelas. Kondisi ini lebih memungkinkan untuk saya,&quot;  paparnya.Overview  Profesi News Anchor Profesi  menjadi pembaca berita atau news anchor menjadi salah satu primadona kawula  muda. Buktinya, setiap kali audisi presenter berita digelar, ratusan hingga  ribuan orang rela antre berjam-jam untuk mendapatkan kesempatan tampil di depan  kamera dan menunjukkan kemampuan mereka. Dari ajang-ajang inilah stasiun  televisi mendapatkan bibit-bibit muda yang akan mereka gembleng untuk menjadi  news anchor handal, tentu saja diawali dengan menjalani kerasnya dunia reporter  televisi. Jika persaingan di dunia ini begitu keras, mengapa profesi news anchor masih menjadi favorit? Berikut sedikit ulasan tentang profesi news anchor.Plus  MinusMenghabiskan  sepertiga hidupnya dalam dunia jurnalis, Isyana mengaku memiliki segudang  pengalaman manis maupun pahit yang tidak terlupakan. Mulai dari rasa lelah yang  luar biasa karena harus meliput satu hari penuh hingga mengunjungi berbagai  negara dan bertemu dengan sejumlah tokoh dunia luar biasa.Latar belakang ilmu  Hubungan Internasional yang dimiliki Isyana menjadi keuntungan tersendiri  baginya. Sebab, dia mendapat kepercayaan dari Seputar Indonesia untuk meliput  kampanye dan pemilihan umum Barack Obama pada 2008.&quot;Saya harus bersaing  dengan teman-teman wartawan lain dalam bentuk paper dan presentasi tentang  rencana kegiatan selama dua hingga tiga  minggu di sana. Itu diperoleh karena kerja keras, memperkaya diri  terus-menerus dengan ilmu, dan tidak takut capai,&quot; kata  Isyana.Sederet liputan  menarik dan menggugah hati pun pernah dialami Isyana. Salah satunya adalah  bencana tsunami yang melanda Aceh enam tahun yang lalu. &quot;Seminggu setelah  kejadian, saya meliput ke sana  dan mendapati mayat ibu dan anak yang sedang berpelukan di pinggir jalan dan  belum terangkut. Luar biasa sekali kuasa Tuhan,&quot; imbuhnya.Prospek  dan Jenjang Karier Saat seseorang ingin  menekuni sebuah bidang pekerjaan tertentu, prospek kerja ke depan tentu menjadi  pertimbangan. Bagaimana peluang dalam pekerjaan tersebut untuk terus  berkembang.Ibu satu anak ini  mengungkapkan, di RCTI, jenjang karier seorang reporter cukup luas. Pada  dasarnya, lanjut Isyana, terdapat dua divisi utama untuk jurnalistik di RCTI,  yakni news production dan news gathering. Jenjang terbawah untuk kedua divisi  ini adalah reporter.&quot;Kalau di news  production, yakni reporter memutuskan untuk bekerja di dalam, tidak lagi  liputan, mereka bisa menjadi staf produksi. Mulai dari asisten produser,  produser, hingga eksekutif produser yang bertanggung jawab terhadap keseluruhan  isi produksi. Di atasnya lagi ada manajer produksi, kemudian wakil pemimpin  redaksi, hingga akhirnya pemimpin redaksi,&quot; tutur ibu dari Gyanendra Frederick  Oka Tulaar itu.Di divisi news  gathering, jenjang karier reporter bisa beralih menjadi koordinator liputan  (koorlip), kemudian koordinator koorlip, kemudian wakil pemimpin redaksi hingga  akhirnya pemimpin redaksi. &quot;Tapi ada pula jenjang karier yang paralel. Artinya,  dia reporter yang memilih untuk tetap liputan meskipun ada kenaikan jabatan.  Berarti dia menjadi reporter senior. Jenjang kariernya dinilai pada  keseniorannya sebagai reporter,&quot; imbuhnya.Berbicara mengenai  penghasilan pada profesi jurnalis, Isyana mengungkapkan, jika orang-orang di  bidang ini akan menjadi kaya secara pengalaman, bukan materi. Meski demikian,  dia tidak pernah menyesali menekuni dunia jurnalis TV yang telah membesarkan  namanya.&quot;Meminjam kata-kata  Putra Nababan, kalau mau kaya jangan jadi jurnalis. Namun, saya tidak pernah  menyesal mengambil pilihan bekerja di bidang ini karena pengalaman yang saya  punya selama bekerja sebagai jurnalis tidak bisa dibeli dengan uang,&quot; urainya  sembari tertawa.Tips untuk Jadi News  Anchor SuksesMeski banyak wartawan  maupun pembawa berita yang lebih senior dan berpengalaman, nama Isyana Bagoes  Oka pun patut diperhitungkan. Malang-melintang di dunia politik selama hampir 10  tahun, Isyana pun berbagi tips untuk para kawula muda yang hendak melanjutkan  jejaknya.Menurut Isyana,  catatan penting yang harus diingat ketika akan terjun ke suatu profesi, termasuk  jurnalistik adalah memiliki kecintaan pada dunia tersebut. &quot;Yang penting, kita  harus memiliki passion (minat) dan kecintaan terhadap profesi tersebut  karena jika tidak, maka tidak akan bertahan lama. Lagipula isu di dunia  jurnalistik selalu berkembang sehingga tidak hanya terbatas pada lulusan  jurnalis maupun broadcast saja,&quot; ungkap sulung dari tiga bersaudara  itu.Merasa gugup saat  pertama kali laporan langsung, lanjutnya, adalah hal lumrah. Demikian pula  ketika melakukan wawancara dengan narasumber yang merupakan tokoh penting atau  orang terkenal. Namun, kata Isyana, semua itu akan teratasi dengan sendirinya  seiring berjalannya waktu.&quot;Kita harus terus  memperkaya diri, rajin membaca, serta ngobrol dan bergaul dengan orang-orang  sekitar karena informasi bisa digali dari mana saja. Selain itu, kita harus  bekerja keras, tidak manja, dan paling penting tidak pernah puas karena di atas  langit masih ada langit,&quot; tuturnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Siapa tak  kenal news anchor Seputar Indonesia Isyana Bagoes Oka? Setiap hari wajah dan  suaranya menghiasi layar kaca untuk membawakan informasi terhangat di Nusantara  maupun mancanegara.Ternyata, kecintaan  Isyana pada dunia jurnalistik sudah timbul sejak lama. &quot;Saya tidak pernah punya  cita-cita spesifik ingin jadi news anchor. Tapi sempat kepikiran mau menjadi  (news anchor) pembawa berita karena tampil di layar TV tidak sekadar  mengandalkan fisik saja tapi tetap mengisi dan mengasah kemampuan otak,&quot; ujar  Isyana ketika berbincang dengan Okezone selepas siaran di Studio Seputar  Indonesia, belum lama ini.Alumni Jurusan  Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI) itu menjelaskan, tidak  memiliki tokoh inspiratif yang membuatnya ingin menekuni dunia jurnalistik,  khususnya news. Namun, setelah berkecimpung dalam profesi jurnalis sejak 10  tahun silam, dia mengagumi anchor Anderson Cooper dan Christian  Amanpour.&quot;Mereka tidak sekadar  membacakan berita tapi juga matang di lapangan. Apalagi Christian Amanpour yang sering liputan ke daerah konflik. Sosok  seorang perempuan kuat dan tangguh. Tiap wawancara, semua orang segan sama dia  karena kredibilitasnya sudah tinggi. Di luar news, saya suka sekali Oprah  Winfrey,&quot; tutur pemilik nama lengkap Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka  itu.Wanita kelahiran  Jakarta, 13 September 1980 itu mulai karier di bidang jurnalistik sejak 2003.  Saat itu, dia diterima sebagai reporter Trans TV. Kemudian, mendapat  tawaran lain, Isyana Pindah ke TV 7 dan menjadi news anchor dan tetap  melakukan peliputan.Istri dari George  Albert Tulaar menyebutkan, untuk menjadi seorang news anchor yang baik seorang  jurnalis harus merasakan pengalaman sebagai reporter. Sebab, pengalaman  tersebut, lanjutnya, akan terpakai ketika menjadi seorang news  anchor.&quot;Seorang news anchor itu sebaiknya memiliki dasar liputan di lapangan. Karena dengan pernah melakukan  peliputan di lapangan, dasar-dasar mewawancarai orang pasti akan tetap ada, jadi  sudah tahu bagaimana menghadapi orang-orang tertentu. Jadi pada saat tampil di  studio tentu tidak kagok lagi untuk melakukan interview,&quot; urainya  ramah.Tidak hanya itu,  tambahnya, memiliki bekal sebagai seorang reporter sebelum menjadi news anchor juga memiliki manfaat lain. Dia menilai, para news anchor jadi lebih menghargai  berita yang mereka sajikan.&quot;Mereka tahu  bagaimana sulitnya proses memperoleh berita di lapangan. Tidak sekadar membaca  berita yang sudah ada. Soulnya akan beda,&quot; imbuh wanita yang pernah menjadi  bintang iklan itu.Meski mencintai  berada di lapangan, kehidupan barunya sebagai seorang ibu memaksanya untuk  memilih berada di bagian produksi. Semenjak hamil hingga saat ini, Produser  Seputar Indonesia itu tidak lagi liputan karena ingin jam kerja yang lebih  teratur bagi sang anak.&quot;Saya itu punya asma.  Sejak hamil, kondisi kesehatan saya tidak baik, asma kambuh dan muntah-muntah.  Karena anak titipan Tuhan, saya minta untuk tetap di dalam. Liputan di lapangan  kangen. Tapi, liputan di lapangan waktunya panjang sekali. Kalau di produksi,  jamnya lebih teratur, seperti jam kerja, walaupun tidak 09.00-17.00 WIB, tapi  setidaknya lebih jelas. Kondisi ini lebih memungkinkan untuk saya,&quot;  paparnya.Overview  Profesi News Anchor Profesi  menjadi pembaca berita atau news anchor menjadi salah satu primadona kawula  muda. Buktinya, setiap kali audisi presenter berita digelar, ratusan hingga  ribuan orang rela antre berjam-jam untuk mendapatkan kesempatan tampil di depan  kamera dan menunjukkan kemampuan mereka. Dari ajang-ajang inilah stasiun  televisi mendapatkan bibit-bibit muda yang akan mereka gembleng untuk menjadi  news anchor handal, tentu saja diawali dengan menjalani kerasnya dunia reporter  televisi. Jika persaingan di dunia ini begitu keras, mengapa profesi news anchor masih menjadi favorit? Berikut sedikit ulasan tentang profesi news anchor.Plus  MinusMenghabiskan  sepertiga hidupnya dalam dunia jurnalis, Isyana mengaku memiliki segudang  pengalaman manis maupun pahit yang tidak terlupakan. Mulai dari rasa lelah yang  luar biasa karena harus meliput satu hari penuh hingga mengunjungi berbagai  negara dan bertemu dengan sejumlah tokoh dunia luar biasa.Latar belakang ilmu  Hubungan Internasional yang dimiliki Isyana menjadi keuntungan tersendiri  baginya. Sebab, dia mendapat kepercayaan dari Seputar Indonesia untuk meliput  kampanye dan pemilihan umum Barack Obama pada 2008.&quot;Saya harus bersaing  dengan teman-teman wartawan lain dalam bentuk paper dan presentasi tentang  rencana kegiatan selama dua hingga tiga  minggu di sana. Itu diperoleh karena kerja keras, memperkaya diri  terus-menerus dengan ilmu, dan tidak takut capai,&quot; kata  Isyana.Sederet liputan  menarik dan menggugah hati pun pernah dialami Isyana. Salah satunya adalah  bencana tsunami yang melanda Aceh enam tahun yang lalu. &quot;Seminggu setelah  kejadian, saya meliput ke sana  dan mendapati mayat ibu dan anak yang sedang berpelukan di pinggir jalan dan  belum terangkut. Luar biasa sekali kuasa Tuhan,&quot; imbuhnya.Prospek  dan Jenjang Karier Saat seseorang ingin  menekuni sebuah bidang pekerjaan tertentu, prospek kerja ke depan tentu menjadi  pertimbangan. Bagaimana peluang dalam pekerjaan tersebut untuk terus  berkembang.Ibu satu anak ini  mengungkapkan, di RCTI, jenjang karier seorang reporter cukup luas. Pada  dasarnya, lanjut Isyana, terdapat dua divisi utama untuk jurnalistik di RCTI,  yakni news production dan news gathering. Jenjang terbawah untuk kedua divisi  ini adalah reporter.&quot;Kalau di news  production, yakni reporter memutuskan untuk bekerja di dalam, tidak lagi  liputan, mereka bisa menjadi staf produksi. Mulai dari asisten produser,  produser, hingga eksekutif produser yang bertanggung jawab terhadap keseluruhan  isi produksi. Di atasnya lagi ada manajer produksi, kemudian wakil pemimpin  redaksi, hingga akhirnya pemimpin redaksi,&quot; tutur ibu dari Gyanendra Frederick  Oka Tulaar itu.Di divisi news  gathering, jenjang karier reporter bisa beralih menjadi koordinator liputan  (koorlip), kemudian koordinator koorlip, kemudian wakil pemimpin redaksi hingga  akhirnya pemimpin redaksi. &quot;Tapi ada pula jenjang karier yang paralel. Artinya,  dia reporter yang memilih untuk tetap liputan meskipun ada kenaikan jabatan.  Berarti dia menjadi reporter senior. Jenjang kariernya dinilai pada  keseniorannya sebagai reporter,&quot; imbuhnya.Berbicara mengenai  penghasilan pada profesi jurnalis, Isyana mengungkapkan, jika orang-orang di  bidang ini akan menjadi kaya secara pengalaman, bukan materi. Meski demikian,  dia tidak pernah menyesali menekuni dunia jurnalis TV yang telah membesarkan  namanya.&quot;Meminjam kata-kata  Putra Nababan, kalau mau kaya jangan jadi jurnalis. Namun, saya tidak pernah  menyesal mengambil pilihan bekerja di bidang ini karena pengalaman yang saya  punya selama bekerja sebagai jurnalis tidak bisa dibeli dengan uang,&quot; urainya  sembari tertawa.Tips untuk Jadi News  Anchor SuksesMeski banyak wartawan  maupun pembawa berita yang lebih senior dan berpengalaman, nama Isyana Bagoes  Oka pun patut diperhitungkan. Malang-melintang di dunia politik selama hampir 10  tahun, Isyana pun berbagi tips untuk para kawula muda yang hendak melanjutkan  jejaknya.Menurut Isyana,  catatan penting yang harus diingat ketika akan terjun ke suatu profesi, termasuk  jurnalistik adalah memiliki kecintaan pada dunia tersebut. &quot;Yang penting, kita  harus memiliki passion (minat) dan kecintaan terhadap profesi tersebut  karena jika tidak, maka tidak akan bertahan lama. Lagipula isu di dunia  jurnalistik selalu berkembang sehingga tidak hanya terbatas pada lulusan  jurnalis maupun broadcast saja,&quot; ungkap sulung dari tiga bersaudara  itu.Merasa gugup saat  pertama kali laporan langsung, lanjutnya, adalah hal lumrah. Demikian pula  ketika melakukan wawancara dengan narasumber yang merupakan tokoh penting atau  orang terkenal. Namun, kata Isyana, semua itu akan teratasi dengan sendirinya  seiring berjalannya waktu.&quot;Kita harus terus  memperkaya diri, rajin membaca, serta ngobrol dan bergaul dengan orang-orang  sekitar karena informasi bisa digali dari mana saja. Selain itu, kita harus  bekerja keras, tidak manja, dan paling penting tidak pernah puas karena di atas  langit masih ada langit,&quot; tuturnya.</content:encoded></item></channel></rss>
