<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>&quot;Korupsi Buah dari Kemakmuran&quot;</title><description>Korupsi terus membudaya bahkan semakin memawabah di Indonesia. Menurut  politikus senior Partai Demokrat, Ahmad Mubarok, korupsi sebetulnya  telah terjadi sejak zaman pemerintahan Soeharto.</description><link>https://news.okezone.com/read/2012/12/09/339/729539/korupsi-buah-dari-kemakmuran</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2012/12/09/339/729539/korupsi-buah-dari-kemakmuran"/><item><title>&quot;Korupsi Buah dari Kemakmuran&quot;</title><link>https://news.okezone.com/read/2012/12/09/339/729539/korupsi-buah-dari-kemakmuran</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2012/12/09/339/729539/korupsi-buah-dari-kemakmuran</guid><pubDate>Minggu 09 Desember 2012 11:55 WIB</pubDate><dc:creator>Arief Setyadi </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2012/12/09/339/729539/MidHUpkqfu.jpg" expression="full" type="image/jpeg">daylife</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2012/12/09/339/729539/MidHUpkqfu.jpg</image><title>daylife</title></images><description>JAKARTA - Korupsi terus membudaya bahkan semakin memawabah di Indonesia. Menurut politikus senior Partai Demokrat, Ahmad Mubarok, korupsi sebetulnya telah terjadi sejak zaman pemerintahan Soeharto.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
Namun, kata Mubarok, pada rezim Orde Baru korupsi merajalela karena ditutupi oleh sistem yang ada. Berbeda, dengan era perubahan saat ini, semuanya serba terbuka.
&amp;nbsp;
&quot;Dulu di zaman Soeharto korupsi juga banyak tapi kan sistem menutupi dan sekarang zaman perubahan. Apa saja terbuka, korupsi terbuka. Jadi saya pikir positif,&quot; ujar dia saat menghadiri acara deklarasi Forum Peduli Memerangi Korupsi (FPMK), di wisma Purnawira, Jakarta, Minggu (9/12/2012).
&amp;nbsp;
Meski menurutnya saat ini upaya pemberantasan korupsi mengalami peningkatan satu digit, pengawasan ketat harus tetap terus dilakukan, mengingat korupsi itu melanda di negara mana saja, baik itu negara makmur maupun negara miskin.
&amp;nbsp;
&quot;Sebetulnya korupsi itu buah dari kemakmuran. Sebab kalau negeri itu makmur itu pasti ada korupsinya. Kalo negeri miskin korupsi itu juga sangat merajalela. Karena pertumbuhan ekonomi yang tidak disertai dengan pengawasan yang ketat maka korupsi terjadi. Di semua negara terjadi,&quot; tandasnya.
&amp;nbsp;
Mubarok menambahkan, peningkatan pemberantasan korupsi saat ini merupakan hal yang positif. Namun, ia menyesalkan media massa yang hanya memberitakan berita korupsinya bukan kepada penanganannya.
&amp;nbsp;
&quot;Contoh sekarang ini koran mengatakan bupati A berhasil membobol anggaran di situ disebutnya &amp;lsquo;berhasil&amp;rsquo;, disitu kalau disebut keberhasilan semua orang mengejar. Jadi, budaya kita salah, tapi jika dikatakan &amp;lsquo;bupati belepotan dengan najis korupsi&amp;rsquo;. Nah, itu dampaknya berbeda jadi budaya kita memang karena sistem yang tumpang tindih maka korupsi banyak, penanganannya belabrah, kemudian, ya masih mirip-mirip dengan trial and error,&quot; ungkapnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Korupsi terus membudaya bahkan semakin memawabah di Indonesia. Menurut politikus senior Partai Demokrat, Ahmad Mubarok, korupsi sebetulnya telah terjadi sejak zaman pemerintahan Soeharto.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
Namun, kata Mubarok, pada rezim Orde Baru korupsi merajalela karena ditutupi oleh sistem yang ada. Berbeda, dengan era perubahan saat ini, semuanya serba terbuka.
&amp;nbsp;
&quot;Dulu di zaman Soeharto korupsi juga banyak tapi kan sistem menutupi dan sekarang zaman perubahan. Apa saja terbuka, korupsi terbuka. Jadi saya pikir positif,&quot; ujar dia saat menghadiri acara deklarasi Forum Peduli Memerangi Korupsi (FPMK), di wisma Purnawira, Jakarta, Minggu (9/12/2012).
&amp;nbsp;
Meski menurutnya saat ini upaya pemberantasan korupsi mengalami peningkatan satu digit, pengawasan ketat harus tetap terus dilakukan, mengingat korupsi itu melanda di negara mana saja, baik itu negara makmur maupun negara miskin.
&amp;nbsp;
&quot;Sebetulnya korupsi itu buah dari kemakmuran. Sebab kalau negeri itu makmur itu pasti ada korupsinya. Kalo negeri miskin korupsi itu juga sangat merajalela. Karena pertumbuhan ekonomi yang tidak disertai dengan pengawasan yang ketat maka korupsi terjadi. Di semua negara terjadi,&quot; tandasnya.
&amp;nbsp;
Mubarok menambahkan, peningkatan pemberantasan korupsi saat ini merupakan hal yang positif. Namun, ia menyesalkan media massa yang hanya memberitakan berita korupsinya bukan kepada penanganannya.
&amp;nbsp;
&quot;Contoh sekarang ini koran mengatakan bupati A berhasil membobol anggaran di situ disebutnya &amp;lsquo;berhasil&amp;rsquo;, disitu kalau disebut keberhasilan semua orang mengejar. Jadi, budaya kita salah, tapi jika dikatakan &amp;lsquo;bupati belepotan dengan najis korupsi&amp;rsquo;. Nah, itu dampaknya berbeda jadi budaya kita memang karena sistem yang tumpang tindih maka korupsi banyak, penanganannya belabrah, kemudian, ya masih mirip-mirip dengan trial and error,&quot; ungkapnya.</content:encoded></item></channel></rss>
