<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Politik Dinasti Masih Mewarnai Pemilu 2014</title><description>Tensi perpolitikkan yang kian memanas jelang 2014, diyakini akan masih  diwarnai dengan perpolitikkan antar kekerabatan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2013/01/08/339/742747/politik-dinasti-masih-mewarnai-pemilu-2014</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2013/01/08/339/742747/politik-dinasti-masih-mewarnai-pemilu-2014"/><item><title>Politik Dinasti Masih Mewarnai Pemilu 2014</title><link>https://news.okezone.com/read/2013/01/08/339/742747/politik-dinasti-masih-mewarnai-pemilu-2014</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2013/01/08/339/742747/politik-dinasti-masih-mewarnai-pemilu-2014</guid><pubDate>Selasa 08 Januari 2013 06:00 WIB</pubDate><dc:creator>Misbahol Munir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/01/08/339/742747/fb0nozQaYA.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Dok. Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/01/08/339/742747/fb0nozQaYA.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Dok. Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Tensi perpolitikkan yang kian memanas jelang 2014, diyakini akan masih diwarnai dengan perpolitikkan antar kekerabatan. Politik kekerabatan atau politik dinasti masih sulit ditanggalkan di peta perpolitikan tanah air.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
Pengamat politik Universitas Indonesia, Ari Junaedi menilai mentalitas elit partai politik kita masih dihinggapi rasa &quot;memiliki&quot; partai politik yang terlalu besar. Seolah-olah, partai politik adalah perusahaan terbatas, dimana elit partai yang berkuasa mendudukkan kerabatnya di jajaran komisaris dan direksi.
&amp;nbsp;
&quot;Kita bisa lihat tradisi ini di Demokrat, PDIP, PAN, PKB, hingga ke partai-partai lain. Secara politik, hal ini tidak sehat karena menutup akses kader-kader yang mumpuni untuk memimpin partai. Ke depan, kebiasaan ini harus ditanggalkan kalau tidak partai politik susah berwujud menjadi partai impian masa depan,&quot; ujar Ari Junaedi kepada Okezone, Selasa (8/1/2013).
&amp;nbsp;
Dikatakannya, pengecualian politik dinasti berlaku jika memang ada kerabat elit penguasa parpol memang berkualitas dan kapabel. Seperti, halnya di negara-negara maju dan berkembang, tidak selamanya politik dinasti terus dilanggengkan.
&amp;nbsp;
&quot;Politik dinasti Kennedi di AS berakhir pada Senator Ted Kennedi karena menang tidak ada lagi penerus klan Kennedi yang kapabel di politik. Keluarga Aquino di Filipina terus berlangsung hingga kini, sementara Keluarga Ghandi di India, kini lebih banyak berperan di belakang layar pada perpolitikan di negara Bollywood ini,&quot; kata Ari yang menjadi dosen terbang di sejumlah perguruan tinggi ini.
&amp;nbsp;
Oleh karenanya, pengajar Program Pascasarjana Universitas Diponegoro ini memprediksikan politik dinasti di 2014 masih akan ampuh menjadi &quot;barang&quot; jualan parpol dalam menggaet suara.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Ibas Yudhoyono, Hanafi Rais maupun Puan Maharani Soekarnoputeri akan tetap dipandang sebagai &quot;pewaris&quot; politik orang tuanya masing-masing. Ke depan, dengan makin meleknya pemahaman rakyat akan politik, elit parpol yang membumilah yang akan dipilih rakyat,&amp;rdquo; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Tensi perpolitikkan yang kian memanas jelang 2014, diyakini akan masih diwarnai dengan perpolitikkan antar kekerabatan. Politik kekerabatan atau politik dinasti masih sulit ditanggalkan di peta perpolitikan tanah air.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
Pengamat politik Universitas Indonesia, Ari Junaedi menilai mentalitas elit partai politik kita masih dihinggapi rasa &quot;memiliki&quot; partai politik yang terlalu besar. Seolah-olah, partai politik adalah perusahaan terbatas, dimana elit partai yang berkuasa mendudukkan kerabatnya di jajaran komisaris dan direksi.
&amp;nbsp;
&quot;Kita bisa lihat tradisi ini di Demokrat, PDIP, PAN, PKB, hingga ke partai-partai lain. Secara politik, hal ini tidak sehat karena menutup akses kader-kader yang mumpuni untuk memimpin partai. Ke depan, kebiasaan ini harus ditanggalkan kalau tidak partai politik susah berwujud menjadi partai impian masa depan,&quot; ujar Ari Junaedi kepada Okezone, Selasa (8/1/2013).
&amp;nbsp;
Dikatakannya, pengecualian politik dinasti berlaku jika memang ada kerabat elit penguasa parpol memang berkualitas dan kapabel. Seperti, halnya di negara-negara maju dan berkembang, tidak selamanya politik dinasti terus dilanggengkan.
&amp;nbsp;
&quot;Politik dinasti Kennedi di AS berakhir pada Senator Ted Kennedi karena menang tidak ada lagi penerus klan Kennedi yang kapabel di politik. Keluarga Aquino di Filipina terus berlangsung hingga kini, sementara Keluarga Ghandi di India, kini lebih banyak berperan di belakang layar pada perpolitikan di negara Bollywood ini,&quot; kata Ari yang menjadi dosen terbang di sejumlah perguruan tinggi ini.
&amp;nbsp;
Oleh karenanya, pengajar Program Pascasarjana Universitas Diponegoro ini memprediksikan politik dinasti di 2014 masih akan ampuh menjadi &quot;barang&quot; jualan parpol dalam menggaet suara.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Ibas Yudhoyono, Hanafi Rais maupun Puan Maharani Soekarnoputeri akan tetap dipandang sebagai &quot;pewaris&quot; politik orang tuanya masing-masing. Ke depan, dengan makin meleknya pemahaman rakyat akan politik, elit parpol yang membumilah yang akan dipilih rakyat,&amp;rdquo; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
