<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Inpres Soal Kamtibnas Sarat Motif Politik</title><description>Pengamat  Kepolisian, Bambang Widodo Umar menilai, ada motif politik di balik keluarnya  Instruksi Presiden (Inpres) nomor 2 tahun 2013 tentang Keamanan dan Ketertiban  Nasional (Kamtibnas). </description><link>https://news.okezone.com/read/2013/01/29/337/753154/inpres-soal-kamtibnas-sarat-motif-politik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2013/01/29/337/753154/inpres-soal-kamtibnas-sarat-motif-politik"/><item><title>Inpres Soal Kamtibnas Sarat Motif Politik</title><link>https://news.okezone.com/read/2013/01/29/337/753154/inpres-soal-kamtibnas-sarat-motif-politik</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2013/01/29/337/753154/inpres-soal-kamtibnas-sarat-motif-politik</guid><pubDate>Selasa 29 Januari 2013 10:20 WIB</pubDate><dc:creator>Tri Kurniawan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/01/29/337/753154/285r3C6yYt.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden SBY</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/01/29/337/753154/285r3C6yYt.jpg</image><title>Presiden SBY</title></images><description>
JAKARTA - Pengamat  Kepolisian, Bambang Widodo Umar menilai, ada motif politik di balik keluarnya  Instruksi Presiden (Inpres) nomor 2 tahun 2013 tentang Keamanan dan Ketertiban  Nasional (Kamtibnas). Pasalnya, kata dia, ke depan tantangan yang muncul akan  lebih keras lagi.
&amp;nbsp;
&quot;Masalah utamanya  adalah adu perebutan kekuasaan yang berkaitan dengan Pemilu dihadapi dengan  politis. Jadi bukan hanya masalah ekonomi, pengangguran dan kemiskinan saja.  Inpres ini lebih politis,&quot; kata dia kepada Okezone, Selasa  (29/1/2013).
&amp;nbsp;
Untuk itu, dia  memeringatkan Kepolisian sebagai aparat penegak hukum untuk menghadapi problem  politik dengan cara-cara yang lebih bisa meredam, bukan dengan cara pendekatan  kekerasan. Selama ini, menurutnya, Kepolisian masih mengedepankan kekerasan  untuk menyelesaikan masalah.
&amp;nbsp;
&quot;Kalau menghadapi  kelompok politik dengan kekerasan, akan lebih keras lagi. Maka lakukan  pendekatan untuk meredam. Jangan sampai ada persaingan yang bisa memicu  kekerasan,&quot; tegasnya.
&amp;nbsp;
Kepala Kepolisian,  tambahnya, jangan asal dapat perintah kemudian bertindak dengan kekerasan. Tapi  mendekatkan diri ke kelompok-kelompok yang berkomunikasi secara tidak sehat.  Jangan sampai kekuatan-kekuatan politik yang tidak sehat lalu meledak hingga  mengganggu keamanan.
&amp;nbsp;
&quot;Karena kemungkinan  meledak ada, maka keluarlah Inpres itu,&quot; ungkapnya.
&amp;nbsp;
Kata dia, keluarnya  Inpres nomor 2 karena Presiden SBY sudah melihat adanya sinyal bentrok bermotif  politis. Saat ini, banyak sekali yang merasa tidak puas atas kinerja  pemerintahan. Maka, secara teori sangat mungkin adanya perebutan kekuasaan  dengan segala macam cara.
&amp;nbsp;
&quot;Ini ada kekhawatiran  dari pemerintah secara keseluruhan. Revolusi hanya salah satu gejala tapi secara  umum orang sudah resah karena pecahnya moral bangsa ini. Tentu pada masa  kepemimpinan ini jangan sampai ada perebutan kekuasaan yang tidak fair dan tidak konstitusional,&quot; jelasnya.
</description><content:encoded>
JAKARTA - Pengamat  Kepolisian, Bambang Widodo Umar menilai, ada motif politik di balik keluarnya  Instruksi Presiden (Inpres) nomor 2 tahun 2013 tentang Keamanan dan Ketertiban  Nasional (Kamtibnas). Pasalnya, kata dia, ke depan tantangan yang muncul akan  lebih keras lagi.
&amp;nbsp;
&quot;Masalah utamanya  adalah adu perebutan kekuasaan yang berkaitan dengan Pemilu dihadapi dengan  politis. Jadi bukan hanya masalah ekonomi, pengangguran dan kemiskinan saja.  Inpres ini lebih politis,&quot; kata dia kepada Okezone, Selasa  (29/1/2013).
&amp;nbsp;
Untuk itu, dia  memeringatkan Kepolisian sebagai aparat penegak hukum untuk menghadapi problem  politik dengan cara-cara yang lebih bisa meredam, bukan dengan cara pendekatan  kekerasan. Selama ini, menurutnya, Kepolisian masih mengedepankan kekerasan  untuk menyelesaikan masalah.
&amp;nbsp;
&quot;Kalau menghadapi  kelompok politik dengan kekerasan, akan lebih keras lagi. Maka lakukan  pendekatan untuk meredam. Jangan sampai ada persaingan yang bisa memicu  kekerasan,&quot; tegasnya.
&amp;nbsp;
Kepala Kepolisian,  tambahnya, jangan asal dapat perintah kemudian bertindak dengan kekerasan. Tapi  mendekatkan diri ke kelompok-kelompok yang berkomunikasi secara tidak sehat.  Jangan sampai kekuatan-kekuatan politik yang tidak sehat lalu meledak hingga  mengganggu keamanan.
&amp;nbsp;
&quot;Karena kemungkinan  meledak ada, maka keluarlah Inpres itu,&quot; ungkapnya.
&amp;nbsp;
Kata dia, keluarnya  Inpres nomor 2 karena Presiden SBY sudah melihat adanya sinyal bentrok bermotif  politis. Saat ini, banyak sekali yang merasa tidak puas atas kinerja  pemerintahan. Maka, secara teori sangat mungkin adanya perebutan kekuasaan  dengan segala macam cara.
&amp;nbsp;
&quot;Ini ada kekhawatiran  dari pemerintah secara keseluruhan. Revolusi hanya salah satu gejala tapi secara  umum orang sudah resah karena pecahnya moral bangsa ini. Tentu pada masa  kepemimpinan ini jangan sampai ada perebutan kekuasaan yang tidak fair dan tidak konstitusional,&quot; jelasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
