<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>&quot;Ayam Kampus&quot; Lahir di Klub-Klub Era Orde Baru</title><description>Fenomena  &amp;ldquo;ayam kampus&amp;rdquo;bukanlah hal baru yang terjadi di lingkungan  perguruan tinggi.  Pasalnya, keberadaan &amp;ldquo;ayam kampus&amp;rdquo;telah hadir di  kalangan mahasiswa bahkan sejak  Orde Baru.</description><link>https://news.okezone.com/read/2013/02/01/373/755350/ayam-kampus-lahir-di-klub-klub-era-orde-baru</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2013/02/01/373/755350/ayam-kampus-lahir-di-klub-klub-era-orde-baru"/><item><title>&quot;Ayam Kampus&quot; Lahir di Klub-Klub Era Orde Baru</title><link>https://news.okezone.com/read/2013/02/01/373/755350/ayam-kampus-lahir-di-klub-klub-era-orde-baru</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2013/02/01/373/755350/ayam-kampus-lahir-di-klub-klub-era-orde-baru</guid><pubDate>Jum'at 01 Februari 2013 17:42 WIB</pubDate><dc:creator>Margaret Puspitarini</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/02/01/373/755350/j1obBqfdf7.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi diskotik (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/02/01/373/755350/j1obBqfdf7.jpg</image><title>Ilustrasi diskotik (Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Fenomena  &amp;ldquo;ayam kampus&amp;rdquo;bukanlah hal baru yang terjadi di lingkungan perguruan tinggi.  Pasalnya, keberadaan &amp;ldquo;ayam kampus&amp;rdquo;telah hadir di kalangan mahasiswa bahkan sejak  Orde Baru.
&amp;nbsp;
Demikian, disampaikan  Sosiolog asal Universitas Indonesia (UI) Johannes Frederick Warouw terkait  kembali maraknya fenomena &amp;ldquo;ayam kampus&amp;rdquo;di kalangan mahasiswa. Johannes  menyebutkan, ada beberapa alasan mengapa mahasiswa memilih menjadi seorang ayam  kampus.
&amp;nbsp;
&quot;&amp;rdquo;Ayam kampus&amp;rdquo;bukan  sekadar seks bebas. Berdasarkan penelitian yang dilakukan mahasiswa saya, ada  beberapa mahasiswa yang menjadi &amp;ldquo;ayam kampus&amp;rdquo;untuk tambahan cari uang untuk  kuliah,&quot; papar Johannes ketika berbincang dengan Okezone melalui telepon,  Jumat (1/2/2013).
&amp;nbsp;
Dia menjelaskan,  fenomena &amp;ldquo;ayam kampus&amp;rdquo; selalu mengalami siklus tertentu. Dalam jangka waktu  tertentu fenomena tersebut menjadi marak kemudian pun meredup dengan sendirinya.  &quot;&amp;ldquo;Ayam kampus&amp;rdquo; ini bersifat musiman. Ada suatu masa fenomena ini marak dan satu  masa meredup,&quot; jelasnya.
&amp;nbsp;
Menurut Johannes,  fenomena &amp;ldquo;ayam kampus&amp;rdquo; sudah terjadi sejak lama. Fenomena ini tumbuh subur  seiring berjamurnya usaha kafe atau club malam. &quot;Kemunculan &amp;ldquo;ayam kampus&amp;rdquo; telah  ada sejak Orde Baru, yakni dengan adanya diskotik Tanah Abang Timur (Tanamur).  Selain itu ada film Kampus Biru yang menceritakan tentang kehidupan mahasiswa  yang menjadi seorang ayam kampus. Itu bukti jika &amp;ldquo;ayam kampus&amp;rdquo;telah ada sejak  dulu,&quot; urainya.
&amp;nbsp;
Johannes menegaskan,  &amp;ldquo;ayam kampus&amp;rdquo; akan tetap ada di berbagai kampus. Meskipun keberadaan mereka  dalam jumlah yang sangat kecil, yakni 0,5-1 persen. &quot;Saya kira jumlah 0,5-1  persen itu akan tetap ada, tidak bisa dihilangkan dan menjadi fenomena yang ada  di masyarakat,&quot; imbuh Johannes.
&amp;nbsp;
Namun, lanjutnya,  untuk menekan pertumbuhan &amp;ldquo;ayam kampus&amp;rdquo; di kalangan mahasiswa diperlukan  kolaborasi dari berbagai pihak. &quot;Untuk menekan dan menghilangkan fenomena &amp;ldquo;ayam  kampus&amp;rdquo;itu tergantung individu, kampus, dan masyarakat sekitar,&quot; urainya.</description><content:encoded>JAKARTA - Fenomena  &amp;ldquo;ayam kampus&amp;rdquo;bukanlah hal baru yang terjadi di lingkungan perguruan tinggi.  Pasalnya, keberadaan &amp;ldquo;ayam kampus&amp;rdquo;telah hadir di kalangan mahasiswa bahkan sejak  Orde Baru.
&amp;nbsp;
Demikian, disampaikan  Sosiolog asal Universitas Indonesia (UI) Johannes Frederick Warouw terkait  kembali maraknya fenomena &amp;ldquo;ayam kampus&amp;rdquo;di kalangan mahasiswa. Johannes  menyebutkan, ada beberapa alasan mengapa mahasiswa memilih menjadi seorang ayam  kampus.
&amp;nbsp;
&quot;&amp;rdquo;Ayam kampus&amp;rdquo;bukan  sekadar seks bebas. Berdasarkan penelitian yang dilakukan mahasiswa saya, ada  beberapa mahasiswa yang menjadi &amp;ldquo;ayam kampus&amp;rdquo;untuk tambahan cari uang untuk  kuliah,&quot; papar Johannes ketika berbincang dengan Okezone melalui telepon,  Jumat (1/2/2013).
&amp;nbsp;
Dia menjelaskan,  fenomena &amp;ldquo;ayam kampus&amp;rdquo; selalu mengalami siklus tertentu. Dalam jangka waktu  tertentu fenomena tersebut menjadi marak kemudian pun meredup dengan sendirinya.  &quot;&amp;ldquo;Ayam kampus&amp;rdquo; ini bersifat musiman. Ada suatu masa fenomena ini marak dan satu  masa meredup,&quot; jelasnya.
&amp;nbsp;
Menurut Johannes,  fenomena &amp;ldquo;ayam kampus&amp;rdquo; sudah terjadi sejak lama. Fenomena ini tumbuh subur  seiring berjamurnya usaha kafe atau club malam. &quot;Kemunculan &amp;ldquo;ayam kampus&amp;rdquo; telah  ada sejak Orde Baru, yakni dengan adanya diskotik Tanah Abang Timur (Tanamur).  Selain itu ada film Kampus Biru yang menceritakan tentang kehidupan mahasiswa  yang menjadi seorang ayam kampus. Itu bukti jika &amp;ldquo;ayam kampus&amp;rdquo;telah ada sejak  dulu,&quot; urainya.
&amp;nbsp;
Johannes menegaskan,  &amp;ldquo;ayam kampus&amp;rdquo; akan tetap ada di berbagai kampus. Meskipun keberadaan mereka  dalam jumlah yang sangat kecil, yakni 0,5-1 persen. &quot;Saya kira jumlah 0,5-1  persen itu akan tetap ada, tidak bisa dihilangkan dan menjadi fenomena yang ada  di masyarakat,&quot; imbuh Johannes.
&amp;nbsp;
Namun, lanjutnya,  untuk menekan pertumbuhan &amp;ldquo;ayam kampus&amp;rdquo; di kalangan mahasiswa diperlukan  kolaborasi dari berbagai pihak. &quot;Untuk menekan dan menghilangkan fenomena &amp;ldquo;ayam  kampus&amp;rdquo;itu tergantung individu, kampus, dan masyarakat sekitar,&quot; urainya.</content:encoded></item></channel></rss>
