<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bayi Orangutan Disita dalam Kondisi Dehidrasi &amp; Kurang Gizi</title><description>Seekor bayi Orangutan Sumatera (pongo abelii) disita dari seorang mantri  kesehatan yang memeliharanya secara illegal, di Komplek Afdeling II  perkebunan PT Socfindo, Sidojadi, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten  Nagan Raya, Aceh.</description><link>https://news.okezone.com/read/2013/02/21/340/765307/bayi-orangutan-disita-dalam-kondisi-dehidrasi-kurang-gizi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2013/02/21/340/765307/bayi-orangutan-disita-dalam-kondisi-dehidrasi-kurang-gizi"/><item><title>Bayi Orangutan Disita dalam Kondisi Dehidrasi &amp; Kurang Gizi</title><link>https://news.okezone.com/read/2013/02/21/340/765307/bayi-orangutan-disita-dalam-kondisi-dehidrasi-kurang-gizi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2013/02/21/340/765307/bayi-orangutan-disita-dalam-kondisi-dehidrasi-kurang-gizi</guid><pubDate>Kamis 21 Februari 2013 13:28 WIB</pubDate><dc:creator>Salman Mardira</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/02/21/340/765307/MXmVrdGwcN.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/02/21/340/765307/MXmVrdGwcN.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>BANDA ACEH - Seekor bayi Orangutan Sumatera (pongo abelii) disita dari seorang mantri kesehatan yang memeliharanya secara illegal, di Komplek Afdeling II perkebunan PT Socfindo, Sidojadi, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, Aceh.Bayi jantan berusia sekira setahun itu, disita dalam kondisi lemah karena kurang gizi dan dehidrasi. &quot;Kami sudah memberi orangutan tersebut minum susu dengan takaran yang cukup. Jadi, dia kemungkinan dapat bertahan hidup,&quot; kata Ikhsani Surya Hidayat, dokter hewan dari tim Program Konservasi Orangutan Sumatera (SOCP), Kamis (21/2/2013).Penyitaan dilakukan pada 19 Februari lalu, meski staf SOCP sempat kesulitan menemukan bayi orangutan karena ditempatkan dalam kandang berdinding seng di belakang rumah.&amp;nbsp; &amp;ldquo;Bayi orangutan tersebut terlihat orang ketika pintu kandang sedang terbuka, dan pada saat memandikan,&amp;rdquo; ujarnya. Sebelum dibeli mantri tersebut seharga Rp100 ribu, bayi orangutan itu ditangkap oleh sekelompok nelayan dalam area perkebunan kelapa sawit PT Surya Panen Subur 2 pinggiran rawa gambut Tripa di Suak Puntung, Nagan Raya, pada 26 Januari 2013.&amp;nbsp; Para nelayan awalnya melihat seekor orangutan betina dewasa yang membawa seekor bayi berada di atas sebatang pohon. Mereka kemudian menangkapnya dengan terlebih dulu. &amp;ldquo;Dan memutuskan untuk mencoba menangkap bayi orangutan itu dengan perkiraan dapat dijualnya,&amp;rdquo; ujar Ikhsani.Induk orangutan itu mulai tertekan dan panik. Untuk kabur, induk orangutan itu sulit karena letak pohon tempat dia bergelantungan dengan pohon lain agak berjauhan. Dia jatuh ke tanah dan langsung dipukul oleh para nelayan. Untuk menyelamatkan bayinya, dia melarikan diri dengan memanjat pohon lain.Saat itulah sang induk terpisah dengan bayinya. Mereka kemudian membawa pulang bayi, sementara induknya hanya menatap pasrah dari atas pohon. &amp;ldquo;Laporan lapangan menunjukkan para nelayan tidak punya keinginan untuk membunuh induk orangutan, mereka hanya melihat kesempatan untuk memeroleh bayi dan kemungkinan mendapat keuntungan dari itu,&amp;rdquo; tutur Ikhsani.Pun demikian, kata dia, biasanya induk orangutan sering dibunuh karena ngotot mempertahankan bayinya. &amp;ldquo;Tetapi dalam kasus ini, laporan menunjukkan induk orangutan tersebut lolos dan berhasil menyelamatkan diri. Dia memanjat lebih tinggi dan melarikan diri setelah menyadari tidak ada cara untuk mendapatkan bayinya kembali,&quot; terangnya.Sementara itu, Direktur SOCP, Ian Singleton, memperkirakan, induk itu sulit bertahan lama lagi di habitatnya, karena kondisi rawa gambut Tripa yang menjadi alamnya selama ini terancam dengan maraknya pembukaan kebun sawit. &amp;ldquo;Dengan tinggal di sana, prospek untuk hidup sebenarnya lebih buruk daripada bayinya yang ditangkap,&amp;rdquo; ujarnya.</description><content:encoded>BANDA ACEH - Seekor bayi Orangutan Sumatera (pongo abelii) disita dari seorang mantri kesehatan yang memeliharanya secara illegal, di Komplek Afdeling II perkebunan PT Socfindo, Sidojadi, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, Aceh.Bayi jantan berusia sekira setahun itu, disita dalam kondisi lemah karena kurang gizi dan dehidrasi. &quot;Kami sudah memberi orangutan tersebut minum susu dengan takaran yang cukup. Jadi, dia kemungkinan dapat bertahan hidup,&quot; kata Ikhsani Surya Hidayat, dokter hewan dari tim Program Konservasi Orangutan Sumatera (SOCP), Kamis (21/2/2013).Penyitaan dilakukan pada 19 Februari lalu, meski staf SOCP sempat kesulitan menemukan bayi orangutan karena ditempatkan dalam kandang berdinding seng di belakang rumah.&amp;nbsp; &amp;ldquo;Bayi orangutan tersebut terlihat orang ketika pintu kandang sedang terbuka, dan pada saat memandikan,&amp;rdquo; ujarnya. Sebelum dibeli mantri tersebut seharga Rp100 ribu, bayi orangutan itu ditangkap oleh sekelompok nelayan dalam area perkebunan kelapa sawit PT Surya Panen Subur 2 pinggiran rawa gambut Tripa di Suak Puntung, Nagan Raya, pada 26 Januari 2013.&amp;nbsp; Para nelayan awalnya melihat seekor orangutan betina dewasa yang membawa seekor bayi berada di atas sebatang pohon. Mereka kemudian menangkapnya dengan terlebih dulu. &amp;ldquo;Dan memutuskan untuk mencoba menangkap bayi orangutan itu dengan perkiraan dapat dijualnya,&amp;rdquo; ujar Ikhsani.Induk orangutan itu mulai tertekan dan panik. Untuk kabur, induk orangutan itu sulit karena letak pohon tempat dia bergelantungan dengan pohon lain agak berjauhan. Dia jatuh ke tanah dan langsung dipukul oleh para nelayan. Untuk menyelamatkan bayinya, dia melarikan diri dengan memanjat pohon lain.Saat itulah sang induk terpisah dengan bayinya. Mereka kemudian membawa pulang bayi, sementara induknya hanya menatap pasrah dari atas pohon. &amp;ldquo;Laporan lapangan menunjukkan para nelayan tidak punya keinginan untuk membunuh induk orangutan, mereka hanya melihat kesempatan untuk memeroleh bayi dan kemungkinan mendapat keuntungan dari itu,&amp;rdquo; tutur Ikhsani.Pun demikian, kata dia, biasanya induk orangutan sering dibunuh karena ngotot mempertahankan bayinya. &amp;ldquo;Tetapi dalam kasus ini, laporan menunjukkan induk orangutan tersebut lolos dan berhasil menyelamatkan diri. Dia memanjat lebih tinggi dan melarikan diri setelah menyadari tidak ada cara untuk mendapatkan bayinya kembali,&quot; terangnya.Sementara itu, Direktur SOCP, Ian Singleton, memperkirakan, induk itu sulit bertahan lama lagi di habitatnya, karena kondisi rawa gambut Tripa yang menjadi alamnya selama ini terancam dengan maraknya pembukaan kebun sawit. &amp;ldquo;Dengan tinggal di sana, prospek untuk hidup sebenarnya lebih buruk daripada bayinya yang ditangkap,&amp;rdquo; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
