<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rusia Cekal 18 Pejabat AS</title><description>Pemerintah Rusia mengeluarkan perintah cekal untuk 18 mantan pejabat Amerika Serikat (AS). Aksi tersebut merupakan balasan dari tindakan serupa yang dilakukan pemerintah AS.</description><link>https://news.okezone.com/read/2013/04/14/414/791247/rusia-cekal-18-pejabat-as</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2013/04/14/414/791247/rusia-cekal-18-pejabat-as"/><item><title>Rusia Cekal 18 Pejabat AS</title><link>https://news.okezone.com/read/2013/04/14/414/791247/rusia-cekal-18-pejabat-as</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2013/04/14/414/791247/rusia-cekal-18-pejabat-as</guid><pubDate>Minggu 14 April 2013 14:59 WIB</pubDate><dc:creator>Wahyu Dwi Anggoro</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/04/14/414/791247/t1xho43wUj.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pemakaman Sergei Magnitsky (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/04/14/414/791247/t1xho43wUj.jpg</image><title>Pemakaman Sergei Magnitsky (Foto: Reuters)</title></images><description>MOSKOW &amp;ndash; Pemerintah Rusia mengeluarkan perintah cekal untuk 18 mantan pejabat Amerika Serikat (AS). Aksi tersebut merupakan balasan dari tindakan serupa yang dilakukan pemerintah AS.Sebelumnya, Pemerintah AS mencekal 18 pejabat Rusia yang diduga terlibat dalam kematian Pengacara Rusia Sergei Magnitsky tahun 2008 lalu. Magnitsky tewas setelah dia membongkar kasus korupsi yang dilakukan Kepolisian Rusia.Sikap Pemerintah AS itu membuat Rusia murka. Peemrintah Rusia menganggap AS mencampuri urusan dalam negerinya.Beberapa nama mantan pejabat AS yang masuk daftar cekal Rusia antara lain mantan Wakil Presiden Dick Cheney dan beberapa pejabat militer yang pernah memimpin Penjara Guantanamo.&amp;ldquo;Daftar cekal yang dibuat Rusia berisi nama-nama orang yang bertanggung jawab atas aksi pelanggaran HAM berupa penyiksaan dan penahanan di Penjara Guantanamo,&amp;rdquo; ujar Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov, seperti dikutip Associated Press, Minggu (14/4/2013).
Pemerintah AS sendiri mengecam aksi balasan Rusia itu. Mereka menganggap Rusia berusaha menutupi penyebab kematian Magnitsky yang sebenarnya.&amp;ldquo;Daripada melakukan aksi balasan seharusnya Rusia melakukan investigasi untuk menemukan penyebab kematian Magnitsky yang sebenarnya,&amp;rdquo; sebut pernyataan yang dikeluarkan Kementerian Luar negeri AS.&amp;nbsp;</description><content:encoded>MOSKOW &amp;ndash; Pemerintah Rusia mengeluarkan perintah cekal untuk 18 mantan pejabat Amerika Serikat (AS). Aksi tersebut merupakan balasan dari tindakan serupa yang dilakukan pemerintah AS.Sebelumnya, Pemerintah AS mencekal 18 pejabat Rusia yang diduga terlibat dalam kematian Pengacara Rusia Sergei Magnitsky tahun 2008 lalu. Magnitsky tewas setelah dia membongkar kasus korupsi yang dilakukan Kepolisian Rusia.Sikap Pemerintah AS itu membuat Rusia murka. Peemrintah Rusia menganggap AS mencampuri urusan dalam negerinya.Beberapa nama mantan pejabat AS yang masuk daftar cekal Rusia antara lain mantan Wakil Presiden Dick Cheney dan beberapa pejabat militer yang pernah memimpin Penjara Guantanamo.&amp;ldquo;Daftar cekal yang dibuat Rusia berisi nama-nama orang yang bertanggung jawab atas aksi pelanggaran HAM berupa penyiksaan dan penahanan di Penjara Guantanamo,&amp;rdquo; ujar Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov, seperti dikutip Associated Press, Minggu (14/4/2013).
Pemerintah AS sendiri mengecam aksi balasan Rusia itu. Mereka menganggap Rusia berusaha menutupi penyebab kematian Magnitsky yang sebenarnya.&amp;ldquo;Daripada melakukan aksi balasan seharusnya Rusia melakukan investigasi untuk menemukan penyebab kematian Magnitsky yang sebenarnya,&amp;rdquo; sebut pernyataan yang dikeluarkan Kementerian Luar negeri AS.&amp;nbsp;</content:encoded></item></channel></rss>
