<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jangan Pilih Caleg Aji Mumpung!</title><description>Dalam daftar calon legislator (Caleg) yang dipublikasikan Komisi  Pemilihan Umum (KPU), sejumlah nama masih mengandung kontroversi.</description><link>https://news.okezone.com/read/2013/05/01/339/800253/jangan-pilih-caleg-aji-mumpung</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2013/05/01/339/800253/jangan-pilih-caleg-aji-mumpung"/><item><title>Jangan Pilih Caleg Aji Mumpung!</title><link>https://news.okezone.com/read/2013/05/01/339/800253/jangan-pilih-caleg-aji-mumpung</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2013/05/01/339/800253/jangan-pilih-caleg-aji-mumpung</guid><pubDate>Rabu 01 Mei 2013 08:58 WIB</pubDate><dc:creator>Misbahol Munir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/05/01/339/800253/tAvDkeV9ga.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Dok. Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/05/01/339/800253/tAvDkeV9ga.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Dok. Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Dalam daftar calon legislator (Caleg) yang dipublikasikan Komisi Pemilihan Umum (KPU), sejumlah nama masih mengandung kontroversi.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
Misalnya, 15 nama di daftar caleg Partai Demokrat yang memiliki hubungan keluarga dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Selain itu, sejumlah caleg juga memiliki hubungan suami istri, seperti Syarif Hassan-Inggrid Kansil dan Suadi Marasabessy-Derita Rina. Uniknya, calon-calon tersebut menduduki nomor urut &quot;jadi&quot;, sedangkan nama-nama caleg lain yang lebih potensial mendapat nomor urut &quot;sepatu&quot;.
&amp;nbsp;
Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI), Ari Junaedi, mengakui kualitas caleg yang diajukan sejumlah parpol sangat memprihatinkan. Padahal, tantangan yang akan dihadapi anggota parlemen sangat berat.
&amp;nbsp;
&quot;Bagaimana bisa memperjuangkan aspirasi rakyat, mengawasi anggaran dan membuat produk legeslasi jika motivasi anggota dewan hanya ingin mencari pekerjaan apalagi yang usianya sudah tidak produktif,&quot; kata Ari Junaedi kepada Okezone, Rabu (1/5/2013).
&amp;nbsp;
&quot;Modal tampang, memiliki hubungan kekerabatan dengan penguasa, apalagi dengan kekuatan finansial tidak menjamin caleg lolos ke Senayan. Perlu kerja politik yang terus menerus di daerah pemilihan,&quot; imbuhnya.
&amp;nbsp;
Dia berharap, rakyat sebagai pemilih bisa menjadi wasit yang adil di Pemilu 2014 mendatang. &quot;Jangan pilih caleg yang bermodalkan kekuatan nepotisme. Lupakan saja caleg yang hanya menyapa rakyat pemilihnya ketika kampanye. Buat daftar hitam anggota DPR yang mencalonkan lagi, dulu ketika menjabat lebih heboh diberitakan karena kasus korupsinya,&quot; sebutnya.
&amp;nbsp;
Kata dia, Pemilu mendatang sebaiknya menjadi arena pengadilan bagi rakyat pemilih, untuk menghukum caleg yang aji mumpung. &quot;Mumpung saudaranya masih berkuasa atau mumpung suaminya punya pengaruh atau mumpung dicalonkan oleh partainya,&quot; tandasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Dalam daftar calon legislator (Caleg) yang dipublikasikan Komisi Pemilihan Umum (KPU), sejumlah nama masih mengandung kontroversi.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
Misalnya, 15 nama di daftar caleg Partai Demokrat yang memiliki hubungan keluarga dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Selain itu, sejumlah caleg juga memiliki hubungan suami istri, seperti Syarif Hassan-Inggrid Kansil dan Suadi Marasabessy-Derita Rina. Uniknya, calon-calon tersebut menduduki nomor urut &quot;jadi&quot;, sedangkan nama-nama caleg lain yang lebih potensial mendapat nomor urut &quot;sepatu&quot;.
&amp;nbsp;
Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI), Ari Junaedi, mengakui kualitas caleg yang diajukan sejumlah parpol sangat memprihatinkan. Padahal, tantangan yang akan dihadapi anggota parlemen sangat berat.
&amp;nbsp;
&quot;Bagaimana bisa memperjuangkan aspirasi rakyat, mengawasi anggaran dan membuat produk legeslasi jika motivasi anggota dewan hanya ingin mencari pekerjaan apalagi yang usianya sudah tidak produktif,&quot; kata Ari Junaedi kepada Okezone, Rabu (1/5/2013).
&amp;nbsp;
&quot;Modal tampang, memiliki hubungan kekerabatan dengan penguasa, apalagi dengan kekuatan finansial tidak menjamin caleg lolos ke Senayan. Perlu kerja politik yang terus menerus di daerah pemilihan,&quot; imbuhnya.
&amp;nbsp;
Dia berharap, rakyat sebagai pemilih bisa menjadi wasit yang adil di Pemilu 2014 mendatang. &quot;Jangan pilih caleg yang bermodalkan kekuatan nepotisme. Lupakan saja caleg yang hanya menyapa rakyat pemilihnya ketika kampanye. Buat daftar hitam anggota DPR yang mencalonkan lagi, dulu ketika menjabat lebih heboh diberitakan karena kasus korupsinya,&quot; sebutnya.
&amp;nbsp;
Kata dia, Pemilu mendatang sebaiknya menjadi arena pengadilan bagi rakyat pemilih, untuk menghukum caleg yang aji mumpung. &quot;Mumpung saudaranya masih berkuasa atau mumpung suaminya punya pengaruh atau mumpung dicalonkan oleh partainya,&quot; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
