<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Saat Yogya Klender Dibakar Massa...</title><description>Sebagian orang mungkin sudah melupakan tragedi Mei 1998, tapi tidak  dengan Leo. Pria paruh baya itu masih mengingat jelas peristiwa  memilukan 15 tahun lalu yang menewaskan putra pertamanya, Toni.
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2013/05/13/337/806034/saat-yogya-klender-dibakar-massa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2013/05/13/337/806034/saat-yogya-klender-dibakar-massa"/><item><title>Saat Yogya Klender Dibakar Massa...</title><link>https://news.okezone.com/read/2013/05/13/337/806034/saat-yogya-klender-dibakar-massa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2013/05/13/337/806034/saat-yogya-klender-dibakar-massa</guid><pubDate>Senin 13 Mei 2013 12:08 WIB</pubDate><dc:creator>Isnaini</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/05/13/337/806034/CYHKniL9HN.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Isnaini</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/05/13/337/806034/CYHKniL9HN.jpg</image><title>Foto: Isnaini</title></images><description>JAKARTA - Sebagian orang mungkin sudah melupakan tragedi Mei 1998, tapi tidak dengan Leo. Pria paruh baya itu masih mengingat jelas peristiwa memilukan 15 tahun lalu yang menewaskan putra pertamanya, Toni.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
Kerusuhan dan penjarahan toko-toko mengobrak-abrik kedamaian Jakarta kala itu. Yogya Plaza, pusat perbelanjaan di daerah Klender, Jakarta Timur, termasuk salah satu tempat yang menjadi sasaran amuk massa di era jatuhnya rezim Orde Baru.
&amp;nbsp;
Toni yang saat itu masih berusia 16 tahun harus terbakar hidup-hidup bersama ratusan orang lain saat dirinya coba menjarah di mal tersebut. Keinginan Toni untuk memiliki sebuah gitar tak terbendung saat dirinya melihat para tetangganya sibuk membawa pulang barang hasil jarahan di mal yang berjarak 500 meter dari tempat tinggalnya.
&amp;nbsp;
&quot;Saya sudah bilang sama dia, jangan ikut menjarah, saya sudah larang dia. Dia bilang sama saya, cuma pengin nonton orang ngejarah, akhirnya saya kasih izin,&quot; ucap Leo saat berbincang dengan Okezone, Sabtu (11/5/2013) malam.
&amp;nbsp;
Perasaan khawatir muncul di benak Leo, saat mendengar kabar massa mulai beringas membakar pertokoan dan banyak penjarah yang mati terpanggang di dalamnya. Ia khawatir sang anak ikut-ikutan menjarah dan terjebak di dalam mal tersebut. Namun pikiran buruk ia tepis jauh-jauh, mengingat Toni berpamitan hanya untuk menonton penjarahan.
&amp;nbsp;
Hingga matahari terbenam, Toni tak kunjung kembali ke rumah, perasaan Leo mulai bercampur aduk karena hingga pagi hari, ia tak juga melihat batang hidung putra sulungnya itu. Persendian Leo mendadak lemas saat mendengar teman sebaya anaknya, Ryo, yang mengatakan melihat Toni masuk ke gedung mal untuk mengambil sebuah gitar.
&amp;nbsp;
&quot;Mendengar itu, istri saya langsung pingsan,&quot; ucap ayah tiga anak itu.
&amp;nbsp;
Dengan langkah gemetar, Leo coba mencari keberadaan Toni. Cepat-cepat ia mendatangi mal yang telah menjadi bongkahan arang besar. Dengan cermat ia coba mengenali ratusan jenazah yang kondisinya telah menghitam hangus terbakar.
&amp;nbsp;
Namun usahanya mencari si buah hati masih nihil, Leo masih belum menemukan jasad Toni. Hari telah gelap, Leo memutuskan melanjutkan mencari Toni esok hari dan kembali ke rumah dengan harapan putranya masih hidup.
&amp;nbsp;
Toni Ditemukan saat Memeluk Gitar
&amp;nbsp;
Hari kedua pencarian Toni, Leo masih berusaha mengenali jasad anaknya. Dengan teliti Leo melihat jasad yang baru dievakuasi keluar oleh tim SAR. Bukan hal mudah mencari sosok Toni di antara ratusan jasad yang hampir separuhnya hilang bentuk.
&amp;nbsp;
Saat pencarian, Leo mendengar kasak-kusuk orang berbicara tentang penemuan jasad yang tengah memeluk gitar. Mendengar itu, Leo langsung meyakini bahwa jasad yang dibicarakan itu adalah anaknya.
&amp;nbsp;
&quot;Benar saja, begitu saya cari jasad yang lagi meluk gitar, saya lihat baju biru dengan sablonan tulisan SMA Budaya, baju itu yang terakhir dipakai saat dia meninggalkan rumah,&quot; tuturnya lirih.
&amp;nbsp;
Gitar yang hanya tersisa separuh itu menempel erat di pelukannya. Air mata Leo tak terbendung lagi, teringat keinginan anaknya yang sangat ingin memiliki gitar.
&amp;nbsp;
Toni sering meminta dibelikan gitar, namun penghasilan Leo yang hanya seorang sopir taksi hanya dapat mencukupi kehidupan sehari-hari.
&amp;nbsp;
&quot;Dia memang suka sekali main gitar, tapi saya tidak mampu belikan, boro-boro beli gitar, penghasilan saya pas buat makan sehari-hari,&quot; sesal Leo.
&amp;nbsp;
Kini Leo hanya bisa pasrah menerima takdir. Peristiwa itu terus terkenang. Ia tak mencoba menyalahkan siapa pun, tak jua menuntut siapa pun. Baginya kejadian tersebut telah tergores dalam rencana Ilahi.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><content:encoded>JAKARTA - Sebagian orang mungkin sudah melupakan tragedi Mei 1998, tapi tidak dengan Leo. Pria paruh baya itu masih mengingat jelas peristiwa memilukan 15 tahun lalu yang menewaskan putra pertamanya, Toni.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
Kerusuhan dan penjarahan toko-toko mengobrak-abrik kedamaian Jakarta kala itu. Yogya Plaza, pusat perbelanjaan di daerah Klender, Jakarta Timur, termasuk salah satu tempat yang menjadi sasaran amuk massa di era jatuhnya rezim Orde Baru.
&amp;nbsp;
Toni yang saat itu masih berusia 16 tahun harus terbakar hidup-hidup bersama ratusan orang lain saat dirinya coba menjarah di mal tersebut. Keinginan Toni untuk memiliki sebuah gitar tak terbendung saat dirinya melihat para tetangganya sibuk membawa pulang barang hasil jarahan di mal yang berjarak 500 meter dari tempat tinggalnya.
&amp;nbsp;
&quot;Saya sudah bilang sama dia, jangan ikut menjarah, saya sudah larang dia. Dia bilang sama saya, cuma pengin nonton orang ngejarah, akhirnya saya kasih izin,&quot; ucap Leo saat berbincang dengan Okezone, Sabtu (11/5/2013) malam.
&amp;nbsp;
Perasaan khawatir muncul di benak Leo, saat mendengar kabar massa mulai beringas membakar pertokoan dan banyak penjarah yang mati terpanggang di dalamnya. Ia khawatir sang anak ikut-ikutan menjarah dan terjebak di dalam mal tersebut. Namun pikiran buruk ia tepis jauh-jauh, mengingat Toni berpamitan hanya untuk menonton penjarahan.
&amp;nbsp;
Hingga matahari terbenam, Toni tak kunjung kembali ke rumah, perasaan Leo mulai bercampur aduk karena hingga pagi hari, ia tak juga melihat batang hidung putra sulungnya itu. Persendian Leo mendadak lemas saat mendengar teman sebaya anaknya, Ryo, yang mengatakan melihat Toni masuk ke gedung mal untuk mengambil sebuah gitar.
&amp;nbsp;
&quot;Mendengar itu, istri saya langsung pingsan,&quot; ucap ayah tiga anak itu.
&amp;nbsp;
Dengan langkah gemetar, Leo coba mencari keberadaan Toni. Cepat-cepat ia mendatangi mal yang telah menjadi bongkahan arang besar. Dengan cermat ia coba mengenali ratusan jenazah yang kondisinya telah menghitam hangus terbakar.
&amp;nbsp;
Namun usahanya mencari si buah hati masih nihil, Leo masih belum menemukan jasad Toni. Hari telah gelap, Leo memutuskan melanjutkan mencari Toni esok hari dan kembali ke rumah dengan harapan putranya masih hidup.
&amp;nbsp;
Toni Ditemukan saat Memeluk Gitar
&amp;nbsp;
Hari kedua pencarian Toni, Leo masih berusaha mengenali jasad anaknya. Dengan teliti Leo melihat jasad yang baru dievakuasi keluar oleh tim SAR. Bukan hal mudah mencari sosok Toni di antara ratusan jasad yang hampir separuhnya hilang bentuk.
&amp;nbsp;
Saat pencarian, Leo mendengar kasak-kusuk orang berbicara tentang penemuan jasad yang tengah memeluk gitar. Mendengar itu, Leo langsung meyakini bahwa jasad yang dibicarakan itu adalah anaknya.
&amp;nbsp;
&quot;Benar saja, begitu saya cari jasad yang lagi meluk gitar, saya lihat baju biru dengan sablonan tulisan SMA Budaya, baju itu yang terakhir dipakai saat dia meninggalkan rumah,&quot; tuturnya lirih.
&amp;nbsp;
Gitar yang hanya tersisa separuh itu menempel erat di pelukannya. Air mata Leo tak terbendung lagi, teringat keinginan anaknya yang sangat ingin memiliki gitar.
&amp;nbsp;
Toni sering meminta dibelikan gitar, namun penghasilan Leo yang hanya seorang sopir taksi hanya dapat mencukupi kehidupan sehari-hari.
&amp;nbsp;
&quot;Dia memang suka sekali main gitar, tapi saya tidak mampu belikan, boro-boro beli gitar, penghasilan saya pas buat makan sehari-hari,&quot; sesal Leo.
&amp;nbsp;
Kini Leo hanya bisa pasrah menerima takdir. Peristiwa itu terus terkenang. Ia tak mencoba menyalahkan siapa pun, tak jua menuntut siapa pun. Baginya kejadian tersebut telah tergores dalam rencana Ilahi.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</content:encoded></item></channel></rss>
