<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Menteri Sibuk Urus Parpol Bukti Penyimpangan Cita-Cita Reformasi</title><description>Saat ini, kata dia demokratisasi yang dianggap sukses, ternyata malah menggeser ideologi Pancasila.</description><link>https://news.okezone.com/read/2013/05/20/339/809704/menteri-sibuk-urus-parpol-bukti-penyimpangan-cita-cita-reformasi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2013/05/20/339/809704/menteri-sibuk-urus-parpol-bukti-penyimpangan-cita-cita-reformasi"/><item><title> Menteri Sibuk Urus Parpol Bukti Penyimpangan Cita-Cita Reformasi</title><link>https://news.okezone.com/read/2013/05/20/339/809704/menteri-sibuk-urus-parpol-bukti-penyimpangan-cita-cita-reformasi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2013/05/20/339/809704/menteri-sibuk-urus-parpol-bukti-penyimpangan-cita-cita-reformasi</guid><pubDate>Senin 20 Mei 2013 15:12 WIB</pubDate><dc:creator>Fahmi Firdaus </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/05/20/339/809704/Fq0X8HXtKC.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/05/20/339/809704/Fq0X8HXtKC.jpg</image><title>Ilustrasi (Okezone)</title></images><description>JAKARTA- Pemimpin Gerakan Beli Indonesia (GBI), Heppy Trenggono, mengatakan, usia reformasi memasuki 15 tahun, justru memunculkan keprihatinan terhadap ideologi Pancasila. Saat ini, kata dia demokratisasi yang dianggap sukses, ternyata malah menggeser ideologi Pancasila. &quot;Sehingga terkikis, tergeserlah nilai kerakyatan, permusyawaratan perwakilan dan keadilan sosial. Padahal demokratisasi juga hanya sukses secara prosedural saja. Tapi akibatnya liberalisasi dan cengekeraman kapitalisme global demikian mengancam keberlangsungan pasar-pasar tradisional kita, para petani kita,&quot; kata Heppy pada acara bedah buku di Jakarta, Senin (20/5/2013).Menurutnya, reformasi saat ini masih berpihak pada kapitalis. Sehingga nasib rakyat kian tergusur. &quot;Kita memang butuh yang namanya investasi. Tapi, investasi dari mana harus kita perhatikan. Jangan sampai investasi tersebut nantinya hanya berpihak pada pengusaha asing. Ujung-ujungnya rakyat juga yang disengsarakan,&quot; ujarnya.Sementara itu, Ketua umum Persatuan Purnawirawan AD Letjen (Purn) Soerjadi mengatakan, saat ini elit politik yang muncul ke permukaan akibat reformasi justru sibuk berpikir untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan, dengan menghalalkan segala cara dan melupakan rakyat yang diwakilinya. Terlebih lagi pada tahun politik 2013 ini, makin banyak urusan rakyat banyak yang dikalahkan oleh kepentingan untuk mendapatkan kursi di DPR dan pemerintahan pada Pemilu 2014 mendatang.&quot;Semua sibuk sendiri-sendiri untuk kepentingan 2014. Kursi rapat di DPR kosong, karena semua terjun ke dapil. Rakyat jadi tidak bisa berharap banyak dengan wakil mereka yang sibuk sendiri-sendiri. Para menteri juga disibukkan mengurus parpolnya juga untuk kepentingan Pemilu 2014. Saya nilai ini sudah menyimpang dari cita-cita reformasi kita,&quot; kata Soerjadi yang juga mantan Wakasad tersebut.</description><content:encoded>JAKARTA- Pemimpin Gerakan Beli Indonesia (GBI), Heppy Trenggono, mengatakan, usia reformasi memasuki 15 tahun, justru memunculkan keprihatinan terhadap ideologi Pancasila. Saat ini, kata dia demokratisasi yang dianggap sukses, ternyata malah menggeser ideologi Pancasila. &quot;Sehingga terkikis, tergeserlah nilai kerakyatan, permusyawaratan perwakilan dan keadilan sosial. Padahal demokratisasi juga hanya sukses secara prosedural saja. Tapi akibatnya liberalisasi dan cengekeraman kapitalisme global demikian mengancam keberlangsungan pasar-pasar tradisional kita, para petani kita,&quot; kata Heppy pada acara bedah buku di Jakarta, Senin (20/5/2013).Menurutnya, reformasi saat ini masih berpihak pada kapitalis. Sehingga nasib rakyat kian tergusur. &quot;Kita memang butuh yang namanya investasi. Tapi, investasi dari mana harus kita perhatikan. Jangan sampai investasi tersebut nantinya hanya berpihak pada pengusaha asing. Ujung-ujungnya rakyat juga yang disengsarakan,&quot; ujarnya.Sementara itu, Ketua umum Persatuan Purnawirawan AD Letjen (Purn) Soerjadi mengatakan, saat ini elit politik yang muncul ke permukaan akibat reformasi justru sibuk berpikir untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan, dengan menghalalkan segala cara dan melupakan rakyat yang diwakilinya. Terlebih lagi pada tahun politik 2013 ini, makin banyak urusan rakyat banyak yang dikalahkan oleh kepentingan untuk mendapatkan kursi di DPR dan pemerintahan pada Pemilu 2014 mendatang.&quot;Semua sibuk sendiri-sendiri untuk kepentingan 2014. Kursi rapat di DPR kosong, karena semua terjun ke dapil. Rakyat jadi tidak bisa berharap banyak dengan wakil mereka yang sibuk sendiri-sendiri. Para menteri juga disibukkan mengurus parpolnya juga untuk kepentingan Pemilu 2014. Saya nilai ini sudah menyimpang dari cita-cita reformasi kita,&quot; kata Soerjadi yang juga mantan Wakasad tersebut.</content:encoded></item></channel></rss>
