<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>&quot;Istana&quot; Cendana Itu Kini Usang</title><description>Bangunannya tidak bertingkat, tidak juga berpagar tinggi. Berbeda dengan bentuk rumah mewah yang ada di sekitarnya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2013/05/22/337/810747/istana-cendana-itu-kini-usang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2013/05/22/337/810747/istana-cendana-itu-kini-usang"/><item><title>&quot;Istana&quot; Cendana Itu Kini Usang</title><link>https://news.okezone.com/read/2013/05/22/337/810747/istana-cendana-itu-kini-usang</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2013/05/22/337/810747/istana-cendana-itu-kini-usang</guid><pubDate>Rabu 22 Mei 2013 11:28 WIB</pubDate><dc:creator>Isnaini</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/05/22/337/810747/fbyPJeMeRH.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Rumah Soeharto di Jalan Cendana (foto: Isnaini)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/05/22/337/810747/fbyPJeMeRH.jpg</image><title>Rumah Soeharto di Jalan Cendana (foto: Isnaini)</title></images><description>JAKARTA - Teduh, sepi, dan tenang. Begitu suasana rumah mantan penguasa Orde Baru, Soeharto. Bangunannya tidak bertingkat, tidak juga berpagar tinggi. Berbeda dengan bentuk rumah mewah yang ada di sekitarnya. Rumah dengan dengan arsitektur lama itu berada di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat. Konon, nama Cendana untuk jalan di depan rumahnya itu diberikan sendiri oleh Soeharto karena dia sangat menyukai pohon Cendana yang memiliki aroma khas dan dapat membuat orang mencium aroma itu terpaku.Kesan militer begitu kuat di rumah itu. Kesan itu muncul lantaran rumah tersebut menggunakan kombinasi warna hijau, yang juga warna khas militer. Di halaman depan rumah itu berdiri kokoh sebuah pos penjagaan yang terbuat dari papan kayu dengan cat berwarna abu-abu. Layaknya sebuah markas militer, pos itu hanya berukuran panjang sekira 60 centimeter (cm) dan lebar 60 cm dengan ketinggian 200 cm. Petugas yang berjaga di pos itu hanya bisa dalam posisi berdiri, karena memang difungsikan untuk pasukan jaga saat Soeharto masih menjadi orang nomor satu di negeri ini.Rumah itu merupakan saksi bisu sejarah kekuasaan Soeharto. Namun &quot;Istana&quot; itu kini tampak usang. Sejak&amp;nbsp; Soeharto wafat pada 27 Januari 2008 silam, rumah itu tak berpenghuni. Tak satu pun dari keenam putra-putrinya menempati rumah itu. Mereka memilih tinggal di kediamannya masing-masing. Hanya terlihat beberapa petugas keamanan yang masih dipekerjakan untuk menjaga rumah tersebut.&amp;nbsp; &quot;Ya kondisinya begini saja mbak, jagain rumah kosong, sepi-sepi saja di sini, keluarga juga jarang datang, cuma sesekali,&quot; kata Slamet (52), salah satu petugas keamanan saat berbincang dengan Okezone, Selasa (21/5/2013).Terlihat seorang pekerja tengah memperbaiki bagian plafon depan rumah itu. Tak dapat ditutupi, meski bangunan itu masih berdiri kokoh terdapat beberapa bagian yang sudah rusak. Internit rumah yang bercat putih terlihat terkelupas dan bernoda kuning bekas guyuran air hujan. Beberapa kayu juga terlihat keropos dimakan rayap. &quot;Banyak rayapnya, ya namanya rumah lama dan tidak ditempati. Pagarnya saja sudah rusak,&quot; cetus Slamet.Ukiran yang terbuat dari gading gajah teronggok tak terurus di pintu masuk utama rumah asri itu. Beberapa patung ukiran kayu jati pun bernasib sama. Namun, Slamet mengaku barang-barang yang berada di dalam rumah masih tertata dan tersimpan rapi. &quot;Itu dulu ada ayamnya sepasang, jago sama betina. Tapi sejak ada flu burung, ayamnya dikasih orang,&quot; cerita Slamet sambil menunjuk kandang ayam yang terbuat dari besi yang ada di samping kiri rumah. Penjagaan rumah itu tak seketat saat Soeharto masih berkuasa. Kini kendaraan bebas lalu lalang di depan rumah tersebut. Tak seperti dulu, seratus meter jarak sebelum rumah sudah ada pemeriksaan ketat.&amp;nbsp; &quot;Bajaj kan berisik ya, jadi dialihkan, tidak lewat sini. Itu dulu, sekarang kendaraan bebas,&quot; kenangnya.Kini rumah itu hampir terlupakan oleh orang-orang, namun berbagai kisah masa kekuasaan mantan orang nomor satu di Indonesia akan tetap terekam dalam bangunan tua itu.</description><content:encoded>JAKARTA - Teduh, sepi, dan tenang. Begitu suasana rumah mantan penguasa Orde Baru, Soeharto. Bangunannya tidak bertingkat, tidak juga berpagar tinggi. Berbeda dengan bentuk rumah mewah yang ada di sekitarnya. Rumah dengan dengan arsitektur lama itu berada di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat. Konon, nama Cendana untuk jalan di depan rumahnya itu diberikan sendiri oleh Soeharto karena dia sangat menyukai pohon Cendana yang memiliki aroma khas dan dapat membuat orang mencium aroma itu terpaku.Kesan militer begitu kuat di rumah itu. Kesan itu muncul lantaran rumah tersebut menggunakan kombinasi warna hijau, yang juga warna khas militer. Di halaman depan rumah itu berdiri kokoh sebuah pos penjagaan yang terbuat dari papan kayu dengan cat berwarna abu-abu. Layaknya sebuah markas militer, pos itu hanya berukuran panjang sekira 60 centimeter (cm) dan lebar 60 cm dengan ketinggian 200 cm. Petugas yang berjaga di pos itu hanya bisa dalam posisi berdiri, karena memang difungsikan untuk pasukan jaga saat Soeharto masih menjadi orang nomor satu di negeri ini.Rumah itu merupakan saksi bisu sejarah kekuasaan Soeharto. Namun &quot;Istana&quot; itu kini tampak usang. Sejak&amp;nbsp; Soeharto wafat pada 27 Januari 2008 silam, rumah itu tak berpenghuni. Tak satu pun dari keenam putra-putrinya menempati rumah itu. Mereka memilih tinggal di kediamannya masing-masing. Hanya terlihat beberapa petugas keamanan yang masih dipekerjakan untuk menjaga rumah tersebut.&amp;nbsp; &quot;Ya kondisinya begini saja mbak, jagain rumah kosong, sepi-sepi saja di sini, keluarga juga jarang datang, cuma sesekali,&quot; kata Slamet (52), salah satu petugas keamanan saat berbincang dengan Okezone, Selasa (21/5/2013).Terlihat seorang pekerja tengah memperbaiki bagian plafon depan rumah itu. Tak dapat ditutupi, meski bangunan itu masih berdiri kokoh terdapat beberapa bagian yang sudah rusak. Internit rumah yang bercat putih terlihat terkelupas dan bernoda kuning bekas guyuran air hujan. Beberapa kayu juga terlihat keropos dimakan rayap. &quot;Banyak rayapnya, ya namanya rumah lama dan tidak ditempati. Pagarnya saja sudah rusak,&quot; cetus Slamet.Ukiran yang terbuat dari gading gajah teronggok tak terurus di pintu masuk utama rumah asri itu. Beberapa patung ukiran kayu jati pun bernasib sama. Namun, Slamet mengaku barang-barang yang berada di dalam rumah masih tertata dan tersimpan rapi. &quot;Itu dulu ada ayamnya sepasang, jago sama betina. Tapi sejak ada flu burung, ayamnya dikasih orang,&quot; cerita Slamet sambil menunjuk kandang ayam yang terbuat dari besi yang ada di samping kiri rumah. Penjagaan rumah itu tak seketat saat Soeharto masih berkuasa. Kini kendaraan bebas lalu lalang di depan rumah tersebut. Tak seperti dulu, seratus meter jarak sebelum rumah sudah ada pemeriksaan ketat.&amp;nbsp; &quot;Bajaj kan berisik ya, jadi dialihkan, tidak lewat sini. Itu dulu, sekarang kendaraan bebas,&quot; kenangnya.Kini rumah itu hampir terlupakan oleh orang-orang, namun berbagai kisah masa kekuasaan mantan orang nomor satu di Indonesia akan tetap terekam dalam bangunan tua itu.</content:encoded></item></channel></rss>
