<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rokok Kebutuhan Kedua Setelah Beras di Aceh</title><description>Pemandangan ini jelas terlihat di warung-warung internet dan rental Play  Station (PS) yang sehari-hari banyak dimanfaatkan remaja bermain games,  di luar waktu sekolah di Banda Aceh.</description><link>https://news.okezone.com/read/2013/05/31/340/815510/rokok-kebutuhan-kedua-setelah-beras-di-aceh</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2013/05/31/340/815510/rokok-kebutuhan-kedua-setelah-beras-di-aceh"/><item><title>Rokok Kebutuhan Kedua Setelah Beras di Aceh</title><link>https://news.okezone.com/read/2013/05/31/340/815510/rokok-kebutuhan-kedua-setelah-beras-di-aceh</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2013/05/31/340/815510/rokok-kebutuhan-kedua-setelah-beras-di-aceh</guid><pubDate>Jum'at 31 Mei 2013 12:23 WIB</pubDate><dc:creator>Salman Mardira</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/05/31/340/815510/c8QvCYTC3R.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/05/31/340/815510/c8QvCYTC3R.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>ACEH - Merokok  sudah merambah semua lini. Bukan saja perilaku orang dewasa, siswa SMA juga  mulai akrab dengan rokok. Pemandangan ini jelas terlihat di warung-warung  internet dan rental PlayStation (PS) yang sehari-hari banyak dimanfaatkan remaja  bermain games, di luar waktu sekolah, di Banda  Aceh.&amp;nbsp;Agus, seorang siswa  sebuah SMA di Banda Aceh, mengaku, merokok bisa membuat terlihat lebih gagah dan  gaul. Meski belum diizinkan orang tua, dia tetap merokok secara sembunyi ketika  berkumpul dengan teman-temannya. &amp;ldquo;Bencong saja merokok, masak kita nggak,&amp;rdquo;  celotehnya sambil tertawa saat ditemui Okezone, belum lama  ini.Angka perokok di  provinsi Serambi Mekkah itu memang tinggi, dengan mayoritas pelakunya laki-laki.  Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan RI, pada 2010 perokok  aktif di Provinsi Aceh mencapai 37,1 persen, berada di atas rata-rata nasional  yang hanya 34,7 persen. Rata-rata mereka mengisap 10 hingga 30 batang rokok per  hari.Kepala Dinas  Kesehatan Banda Aceh, Media Yulizar, mengatakan, angka itu meningkat tajam  dibanding data riset 2007 yang rata-rata menghabiskan 19 batang rokok per hari.  &amp;ldquo;Delapan dari 10 laki-laki di Aceh adalah perokok,&amp;rdquo;  katanya.Secara global,  Indonesia memang menduduki peringkat empat sebagai negara dengan konsumsi rokok  terbesar di dunia, setelah China, Amerika Serikat, dan Rusia. Tobacco Atlas pada  tahun lalu merilis, masyarakat Indonesia menghisap hingga 260,8 miliar batang  rokok pada 2009, meningkat tajam dari 2001 yang hanya 182 miliar  batang.Konsultan Kesehatan  Anak di RSU Zainal Abidin Banda Aceh yang aktif mengampanyekan bahaya rokok,  Teuku Muhammad Thaib, mengatakan, bayi atau anak yang orang tuanya merokok  sangat rentan terkena penyakit. Bukan hanya akibat terkena asap rokok secara  langsung, residu beracun dari asap yang tertempel di baju orang tuanya juga  bermasalah bagi kesehatan si anak.&amp;ldquo;Biasanya kita para  orang tua habis pulang entah dari mana, langsung menggendong anak. Kita tidak  sadar kalau baju kadang sudah tertempel residu beracun yang bisa terhirup anak  kita. Itu sangat bahaya bagi kesehatan si anak,&amp;rdquo; jelas  Thaib.Tak ada satu pun  organ dalam tubuh yang tak terpengaruh asap rokok. Dalam satu batang rokok  setidaknya mengandung 4.000 senyawa kimia, 40 di antaranya termasuk racun  (toksin) dan zat yang bisa menyebabkan kanker (karsinogenik). Zat itu bisa  menyebabkan kanker paru-paru, di mana asap rokok bisa masuk secara langsung ke  organ vital pernapasan manusia dan merangsang sel di paru-paru hingga  rusak.&amp;ldquo;Saya tidak memiliki  persentasenya, tapi stroke, penyakit jantung, hipertensi, diabetes itu sangat  tinggi di Aceh. Salah satu penyebabnya adalah rokok,&amp;rdquo; sebutnya.&amp;nbsp; Kematian akibat  merokok di Indonesia, kini menempati urutan ketiga terbesar di dunia, setelah  China dan India, dengan rata-rata mencapai 239 ribu jiwa per tahun. Angka ini  diyakini mengalahkan kematian akibat persalinan yang kini menjadi perhatian  dunia international.&amp;nbsp; Bukan hanya  Indonesia, kebiasaan buruk merokok juga diprediksi menjadi ancaman kesehatan  bagi masyarakat secara global. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, rokok  akan membunuh lebih dari 6,4 juta orang setiap tahun mulai 2015 atau berperan 10  persen kematian di seluruh dunia. Jumlah ini bahkan bisa mengungguli kematian  akibat virus Human Immunodeficiency Virus (HIV), penyebab  AIDS.Di Aceh, merokok  bukan hanya berdampak pada kesehatan, tapi juga berpengaruh buruk terhadap  sosial ekonomi masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, rokok ikut  menyumbang andil besar terhadap kemiskinan. Pendapatan per kapita setiap bulan  masyarakat Aceh pada 2012 sebesar Rp320 ribu.&amp;ldquo;Untuk masyarakat di  perkotaan 12,99 persen dari pendapatan itu dikeluarkan untuk rokok setiap bulan,  sedangkan bagi masyarakat yang hidup di perdesaan 11,39 persen saja,&amp;rdquo; kata  Ramlan, Kepala Bidang Satistik Sosial BPS Aceh.Menurutnya,  pengeluaran untuk rokok itu merupakan terbesar kedua setelah beras. &amp;ldquo;Kebutuhan  penduduk miskin pertama adalah beras dengan pengeluaran setiap bulan sekira  32,16 persen untuk yang hidup di perkotaan dan 40,74 persen bagi warga  perdesaan. Rokok kretek filter berada di peringkat kedua,&amp;rdquo; ujar  Ramlan.Sebenarnya rokok  bukanlah bahan makanan, namun BPS terpaksa memasukkan komoditas itu ke dalam  survei persentase komoditas kebutuhan dasar makanan, karena besarnya pengeluaran  masyarakat terhadap rokok. &amp;ldquo;Bahkan pengeluaran untuk rokok ini jauh melampaui  pengeluaran untuk membeli daging yang hanya 0,61 persen,&amp;rdquo; tukas  Ramlan.Menurutnya, ini fakta  yang mengkhawatirkan, karena rokok bukanlah komoditas yang mengandung kalori  bagi masyarakat, tapi kini seakan dijadikan kebutuhan yang harus ada setiap  hari.&amp;ldquo;Malah rokok itu bisa  memengaruhi kesehatan. Omong kosong sekarang kalau pajak rokok dibilang  menyumbang pajak terbesar, karena sebenarnya pengeluaran untuk pengobatan bagi  penyakit yang diakibatkan oleh rokok itu jauh lebih besar,&amp;rdquo;  sebutnya.</description><content:encoded>ACEH - Merokok  sudah merambah semua lini. Bukan saja perilaku orang dewasa, siswa SMA juga  mulai akrab dengan rokok. Pemandangan ini jelas terlihat di warung-warung  internet dan rental PlayStation (PS) yang sehari-hari banyak dimanfaatkan remaja  bermain games, di luar waktu sekolah, di Banda  Aceh.&amp;nbsp;Agus, seorang siswa  sebuah SMA di Banda Aceh, mengaku, merokok bisa membuat terlihat lebih gagah dan  gaul. Meski belum diizinkan orang tua, dia tetap merokok secara sembunyi ketika  berkumpul dengan teman-temannya. &amp;ldquo;Bencong saja merokok, masak kita nggak,&amp;rdquo;  celotehnya sambil tertawa saat ditemui Okezone, belum lama  ini.Angka perokok di  provinsi Serambi Mekkah itu memang tinggi, dengan mayoritas pelakunya laki-laki.  Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan RI, pada 2010 perokok  aktif di Provinsi Aceh mencapai 37,1 persen, berada di atas rata-rata nasional  yang hanya 34,7 persen. Rata-rata mereka mengisap 10 hingga 30 batang rokok per  hari.Kepala Dinas  Kesehatan Banda Aceh, Media Yulizar, mengatakan, angka itu meningkat tajam  dibanding data riset 2007 yang rata-rata menghabiskan 19 batang rokok per hari.  &amp;ldquo;Delapan dari 10 laki-laki di Aceh adalah perokok,&amp;rdquo;  katanya.Secara global,  Indonesia memang menduduki peringkat empat sebagai negara dengan konsumsi rokok  terbesar di dunia, setelah China, Amerika Serikat, dan Rusia. Tobacco Atlas pada  tahun lalu merilis, masyarakat Indonesia menghisap hingga 260,8 miliar batang  rokok pada 2009, meningkat tajam dari 2001 yang hanya 182 miliar  batang.Konsultan Kesehatan  Anak di RSU Zainal Abidin Banda Aceh yang aktif mengampanyekan bahaya rokok,  Teuku Muhammad Thaib, mengatakan, bayi atau anak yang orang tuanya merokok  sangat rentan terkena penyakit. Bukan hanya akibat terkena asap rokok secara  langsung, residu beracun dari asap yang tertempel di baju orang tuanya juga  bermasalah bagi kesehatan si anak.&amp;ldquo;Biasanya kita para  orang tua habis pulang entah dari mana, langsung menggendong anak. Kita tidak  sadar kalau baju kadang sudah tertempel residu beracun yang bisa terhirup anak  kita. Itu sangat bahaya bagi kesehatan si anak,&amp;rdquo; jelas  Thaib.Tak ada satu pun  organ dalam tubuh yang tak terpengaruh asap rokok. Dalam satu batang rokok  setidaknya mengandung 4.000 senyawa kimia, 40 di antaranya termasuk racun  (toksin) dan zat yang bisa menyebabkan kanker (karsinogenik). Zat itu bisa  menyebabkan kanker paru-paru, di mana asap rokok bisa masuk secara langsung ke  organ vital pernapasan manusia dan merangsang sel di paru-paru hingga  rusak.&amp;ldquo;Saya tidak memiliki  persentasenya, tapi stroke, penyakit jantung, hipertensi, diabetes itu sangat  tinggi di Aceh. Salah satu penyebabnya adalah rokok,&amp;rdquo; sebutnya.&amp;nbsp; Kematian akibat  merokok di Indonesia, kini menempati urutan ketiga terbesar di dunia, setelah  China dan India, dengan rata-rata mencapai 239 ribu jiwa per tahun. Angka ini  diyakini mengalahkan kematian akibat persalinan yang kini menjadi perhatian  dunia international.&amp;nbsp; Bukan hanya  Indonesia, kebiasaan buruk merokok juga diprediksi menjadi ancaman kesehatan  bagi masyarakat secara global. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, rokok  akan membunuh lebih dari 6,4 juta orang setiap tahun mulai 2015 atau berperan 10  persen kematian di seluruh dunia. Jumlah ini bahkan bisa mengungguli kematian  akibat virus Human Immunodeficiency Virus (HIV), penyebab  AIDS.Di Aceh, merokok  bukan hanya berdampak pada kesehatan, tapi juga berpengaruh buruk terhadap  sosial ekonomi masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, rokok ikut  menyumbang andil besar terhadap kemiskinan. Pendapatan per kapita setiap bulan  masyarakat Aceh pada 2012 sebesar Rp320 ribu.&amp;ldquo;Untuk masyarakat di  perkotaan 12,99 persen dari pendapatan itu dikeluarkan untuk rokok setiap bulan,  sedangkan bagi masyarakat yang hidup di perdesaan 11,39 persen saja,&amp;rdquo; kata  Ramlan, Kepala Bidang Satistik Sosial BPS Aceh.Menurutnya,  pengeluaran untuk rokok itu merupakan terbesar kedua setelah beras. &amp;ldquo;Kebutuhan  penduduk miskin pertama adalah beras dengan pengeluaran setiap bulan sekira  32,16 persen untuk yang hidup di perkotaan dan 40,74 persen bagi warga  perdesaan. Rokok kretek filter berada di peringkat kedua,&amp;rdquo; ujar  Ramlan.Sebenarnya rokok  bukanlah bahan makanan, namun BPS terpaksa memasukkan komoditas itu ke dalam  survei persentase komoditas kebutuhan dasar makanan, karena besarnya pengeluaran  masyarakat terhadap rokok. &amp;ldquo;Bahkan pengeluaran untuk rokok ini jauh melampaui  pengeluaran untuk membeli daging yang hanya 0,61 persen,&amp;rdquo; tukas  Ramlan.Menurutnya, ini fakta  yang mengkhawatirkan, karena rokok bukanlah komoditas yang mengandung kalori  bagi masyarakat, tapi kini seakan dijadikan kebutuhan yang harus ada setiap  hari.&amp;ldquo;Malah rokok itu bisa  memengaruhi kesehatan. Omong kosong sekarang kalau pajak rokok dibilang  menyumbang pajak terbesar, karena sebenarnya pengeluaran untuk pengobatan bagi  penyakit yang diakibatkan oleh rokok itu jauh lebih besar,&amp;rdquo;  sebutnya.</content:encoded></item></channel></rss>
