<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>&quot;Mungkin SBY Lagi Tidur&quot;</title><description>Rakyat kecil mulai menjerit jelang  kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.</description><link>https://news.okezone.com/read/2013/06/20/339/824765/mungkin-sby-lagi-tidur</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2013/06/20/339/824765/mungkin-sby-lagi-tidur"/><item><title>&quot;Mungkin SBY Lagi Tidur&quot;</title><link>https://news.okezone.com/read/2013/06/20/339/824765/mungkin-sby-lagi-tidur</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2013/06/20/339/824765/mungkin-sby-lagi-tidur</guid><pubDate>Kamis 20 Juni 2013 11:05 WIB</pubDate><dc:creator>Tri Kurniawan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/06/20/339/824765/VKYzPnRU1b.jpg" expression="full" type="image/jpeg">SBY dan keluarga saat menjenguk cucunya, Airlangga Satriadhi Yudhoyono di RSPI (foto: Rumgapres)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/06/20/339/824765/VKYzPnRU1b.jpg</image><title>SBY dan keluarga saat menjenguk cucunya, Airlangga Satriadhi Yudhoyono di RSPI (foto: Rumgapres)</title></images><description>JAKARTA - Rakyat kecil mulai menjerit jelang  kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Betapa  tidak, saat ini, harga bahan pokok sudah melambung tinggi. Rakyat hanya bisa  pasrah menerima kenyataan pahit jelang Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri  itu.
&amp;nbsp;
&quot;Mau gimana  lagi, mas. Kita hanya orang kecil, enggak bisa berbuat apa-apa,&quot; kata pedagang  bakso keliling di wilayah Jalan Aselih, Cipedak, Ciganjur, Jakarta Selatan,  kepada Okezone, baru-baru ini.
&amp;nbsp;
Namanya sebut  saja Suyono. Hampir saban malam, dia menjajakan dagangan dengan berkeliling  kampung. Gerobak bakso dipikulnya sejak sekira pukul 17.00 WIB. Dia akan kembali  ke rumah jika dagangannya sudah habis.
&amp;nbsp;
Racikan bakso  Suyono terbilang fantastis. Dia menjual makanan yang terbuat dari daging sapi  itu seharga Rp5 ribu per mangkok. Harga murah, rasa enak, maka tak heran jika  pria berambut keriting tersebut selalu dinanti warga  sekitar.
&amp;nbsp;
Menurut  Suyono, keuntungan yang diraup dari hasil berjualan bakso cukup untuk membiayai  kebutuhan anak dan istrinya di Tegal, Jawa Tengah. 
&amp;nbsp;
Saat ini,  lanjutnya, dari hasil berjualan bakso masih bisa untuk makan sehari-hari dan  biaya sekolah anaknya. Namun, Suyono tak bisa memprediksi selanjutnya. Karena  seiring kenaikan harga BBM, harga bahan baku bakso juga akan  naik.
&amp;nbsp;
&quot;Daging saja  sudah lama harganya enggak turun-turun. Eh, sekarang BBM malah mau naik  katanya ya. Mboh iki yo opo (enggak tahu ini bagaimana). Sing penting pelanggan enggak lari, mas,&quot; ungkapnya dengan logat khas  Tegal.
&amp;nbsp;
Keluh kesah  namun hanya bisa pasrah juga datang dari pedagang soto mi di belakang Hotel Four  Season, Jakarta Selatan. Menurut pria asal Bogor, Jawa Barat, itu sekarang bahan  pokok untuk membuat soto mi hampir semua naik. 
&amp;nbsp;
&quot;Cabe rawit  sekarang harganya Rp60 ribu per kilo, kol satu kilo Rp9 ribu. Pokoknya semuanya  naik. Mana ini mau puasa lagi,&quot; terangnya.
&amp;nbsp;
Dia mengaku  tak tahu apa-apa penyebab kenaikan harga BBM. Hal yang dia rasakan hanya  dampaknya. &quot;Mungkin SBY (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) lagi tidur kali,&quot;  candanya, saat ditanya Okezone tentang kebijakan pemerintah  itu.
&amp;nbsp;
Obrolan tidak  berhenti sampai di situ. Menurutnya, yang paling penting saat ini harus bisa  mempertahankan pelanggan agar tidak kabur. Dia mengaku tidak bisa menaikkan  harga per mangkok soto mi plus nasi putih yang biasa dijual seharga Rp13  ribu.
&amp;nbsp;
&quot;Kalau satu  mangkok saya naikin harganya, pasti pada kaget. Mau enggak mau, untung saya  potong buat nambain modal. Yang tadinya saya per mangkok untuk Rp100, sekarang  jadi Rp50, karena yang Rp50 kan sudah buat nambain modal,&quot;  ungkapnya.
&amp;nbsp;
Soal bantuan  dari pemerintah yang diberi nama Bantuan Langung Sementara Masyarakat (BLSM),  dia tak yakin bisa ikut menikmatinya. Dulu ketika pemerintah memberlakukan  Bantuan Langsung Tunai (BLT), kata dia, juga banyak masyarakat kecil yang tidak  menerima.
&amp;nbsp;
&quot;Padahal BBM  naik, kita juga kena dampaknya. Dulu ada BLT itu, saya juga enggak pernah  dapat,&quot; sesalnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Rakyat kecil mulai menjerit jelang  kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Betapa  tidak, saat ini, harga bahan pokok sudah melambung tinggi. Rakyat hanya bisa  pasrah menerima kenyataan pahit jelang Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri  itu.
&amp;nbsp;
&quot;Mau gimana  lagi, mas. Kita hanya orang kecil, enggak bisa berbuat apa-apa,&quot; kata pedagang  bakso keliling di wilayah Jalan Aselih, Cipedak, Ciganjur, Jakarta Selatan,  kepada Okezone, baru-baru ini.
&amp;nbsp;
Namanya sebut  saja Suyono. Hampir saban malam, dia menjajakan dagangan dengan berkeliling  kampung. Gerobak bakso dipikulnya sejak sekira pukul 17.00 WIB. Dia akan kembali  ke rumah jika dagangannya sudah habis.
&amp;nbsp;
Racikan bakso  Suyono terbilang fantastis. Dia menjual makanan yang terbuat dari daging sapi  itu seharga Rp5 ribu per mangkok. Harga murah, rasa enak, maka tak heran jika  pria berambut keriting tersebut selalu dinanti warga  sekitar.
&amp;nbsp;
Menurut  Suyono, keuntungan yang diraup dari hasil berjualan bakso cukup untuk membiayai  kebutuhan anak dan istrinya di Tegal, Jawa Tengah. 
&amp;nbsp;
Saat ini,  lanjutnya, dari hasil berjualan bakso masih bisa untuk makan sehari-hari dan  biaya sekolah anaknya. Namun, Suyono tak bisa memprediksi selanjutnya. Karena  seiring kenaikan harga BBM, harga bahan baku bakso juga akan  naik.
&amp;nbsp;
&quot;Daging saja  sudah lama harganya enggak turun-turun. Eh, sekarang BBM malah mau naik  katanya ya. Mboh iki yo opo (enggak tahu ini bagaimana). Sing penting pelanggan enggak lari, mas,&quot; ungkapnya dengan logat khas  Tegal.
&amp;nbsp;
Keluh kesah  namun hanya bisa pasrah juga datang dari pedagang soto mi di belakang Hotel Four  Season, Jakarta Selatan. Menurut pria asal Bogor, Jawa Barat, itu sekarang bahan  pokok untuk membuat soto mi hampir semua naik. 
&amp;nbsp;
&quot;Cabe rawit  sekarang harganya Rp60 ribu per kilo, kol satu kilo Rp9 ribu. Pokoknya semuanya  naik. Mana ini mau puasa lagi,&quot; terangnya.
&amp;nbsp;
Dia mengaku  tak tahu apa-apa penyebab kenaikan harga BBM. Hal yang dia rasakan hanya  dampaknya. &quot;Mungkin SBY (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) lagi tidur kali,&quot;  candanya, saat ditanya Okezone tentang kebijakan pemerintah  itu.
&amp;nbsp;
Obrolan tidak  berhenti sampai di situ. Menurutnya, yang paling penting saat ini harus bisa  mempertahankan pelanggan agar tidak kabur. Dia mengaku tidak bisa menaikkan  harga per mangkok soto mi plus nasi putih yang biasa dijual seharga Rp13  ribu.
&amp;nbsp;
&quot;Kalau satu  mangkok saya naikin harganya, pasti pada kaget. Mau enggak mau, untung saya  potong buat nambain modal. Yang tadinya saya per mangkok untuk Rp100, sekarang  jadi Rp50, karena yang Rp50 kan sudah buat nambain modal,&quot;  ungkapnya.
&amp;nbsp;
Soal bantuan  dari pemerintah yang diberi nama Bantuan Langung Sementara Masyarakat (BLSM),  dia tak yakin bisa ikut menikmatinya. Dulu ketika pemerintah memberlakukan  Bantuan Langsung Tunai (BLT), kata dia, juga banyak masyarakat kecil yang tidak  menerima.
&amp;nbsp;
&quot;Padahal BBM  naik, kita juga kena dampaknya. Dulu ada BLT itu, saya juga enggak pernah  dapat,&quot; sesalnya.</content:encoded></item></channel></rss>
