<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gerobak Bakpao di Jalur Cepat Rasuna Said</title><description>RATUSAN kendaraan berbaris rapi sepanjang jalur cepat Jalan  Hajjah Rangkayo  Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat sore  menjelang petang. Beberapa polisi terlihat sibuk mengatur arus lalu  lintas yang padat, merayap, dan sesekali tersendat, terutama di putaran u-turn atau akses dari lajur lambat ke lajur cepat.</description><link>https://news.okezone.com/read/2013/06/22/500/825947/gerobak-bakpao-di-jalur-cepat-rasuna-said</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2013/06/22/500/825947/gerobak-bakpao-di-jalur-cepat-rasuna-said"/><item><title>Gerobak Bakpao di Jalur Cepat Rasuna Said</title><link>https://news.okezone.com/read/2013/06/22/500/825947/gerobak-bakpao-di-jalur-cepat-rasuna-said</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2013/06/22/500/825947/gerobak-bakpao-di-jalur-cepat-rasuna-said</guid><pubDate>Sabtu 22 Juni 2013 15:23 WIB</pubDate><dc:creator>Fiddy Anggriawan </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/06/22/500/825947/h0op17SBot.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Istimewa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/06/22/500/825947/h0op17SBot.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Istimewa)</title></images><description>RATUSAN kendaraan berbaris rapi sepanjang jalur cepat Jalan Hajjah Rangkayo  Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat sore menjelang petang. Beberapa polisi terlihat sibuk mengatur arus lalu lintas yang padat, merayap, dan sesekali tersendat, terutama di putaran u-turn atau akses dari lajur lambat ke lajur cepat.Jalan ini memang terkategori sibuk pada jam berangkat dan pulang bekerja, selain Jalan Husni Thamrin dan Sudirman. Pagi hari mengular kendaraan dari arah Mampang menuju Menteng dan sebaliknya pada sore hari.Terlebih, Jumat menjelang akhir pekan. Pemakai jalan, terutama roda empat, seperti berlomba-lomba pulang lebih cepat. Sampai-sampai dua lajur jalan yang terbilang lebar ini sesak dipenuhi kendaraan.Kendaraan roda empat tentunya. Sebab jalur cepat hanya diperuntukkan bagi kendaraan beroda empat atau lebih. Terkecuali, gerobak putih yang sering terselip di antara barisan kendaraan. Ya. Dia adalah penjaja Bakpau dengan gerobak yang memanfaatkan macet untuk mengais rejeki.&quot;Dua Pak yang isi daging,&quot; teriak seorang pengendara mobil.Pria sepertiga abad yang mengenakan topi hitam ini pun langsung membungkus pesanan pengemudi Avanza itu lalu berlari kecil mengantarkan bungkusan. Tak lama berselang pengendara mobil mengeluarkan uang Rp10 ribu, lalu dimasukkan ke tas pinggang kusamnya. &quot;Alhamdulillah,&quot; gumamnya.Meski dikepung ratusan kendaraan, Hadi (34) tak lantas menjadi ciut nyali untuk menjajakan dagangannya.&amp;nbsp; Bahkan kemacetan dianggapnya sebagai berkah. Hadi mengaku telah berjualan Bakpao sejak 15 tahun silam. Dia tidak pernah kehilangan semangat untuk menjajakan bakpao aneka rasa, yakni cokelat, daging dan kacang ijo. &quot;Mulainya jam setengah lima sore, kalau lancar sampai jam delapan lah,&quot; cetus Hadi sambil memasukan dua bakpao daging ke kantong plastik. Pria asal Banten itu sadar berjualan di jalur cepat  sangat berisiko. Namun hal itu terpaksa dilakukan untuk menghidupi isteri dan empat orang anaknya.Suami dari Hartati (27) ini menceritakan, setiap hari rata-rata dia mampu mengantongi keuntungan bersih Rp50 ribu per hari. Pasalnya, bakpao yang dijualnya bukan buatan sendiri, melainkan harus membeli ke agen dengan modal Rp3.000 per buah. Sedangkan Hadi menjual bakpao Rp5.000 per buah. &quot;Sehari bisa dapet Rp50 ribu- 60 ribu, kadang ada pembeli yang memberikan kembalian lebih, ya Alhamdulillah,&quot; kisahnya. Kumandang Adzan Magrib bergema. Hadi terus menbolak-balikan bakpao yang sedang dikukus dalam panci. Sesekali-kali dia berteriak menawarkan barang dagangannya.&quot;Bakpao..bakpao silakan masih panas,&quot; teriaknya dengan berharap ada yang membeli. Berjualan di tengah jalan, diakui Hadi, memang penuh tantangan. Sebab dia harus 'kucing-kucingan' dengan petugas Satuan Polisi Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang kerap menertibkan barang dagangannya. &quot;Trantib sering razia terus dikandangin nanti minta tebus,&quot; ingatnya. Ketika ditanya, apakah tertarik dengan program Gubernur Joko Widodo (Jokowi) yang berencana membangun pasar khusus pedagang kaki lima (PKL)? Pria berperawakan tambun ini terlihat tidak antusias. Menurutnya, jualan bakpao tidak bisa dilakukan di pasar. &quot;Itu mah urusan yang di pasar-pasar, kalau kita kan enggak. Kalau bakpao kayak gini kan enggak susah gesernya, di pasar kan enggak laku,&quot; keluhnya. Ketimbang pindah ke pasar, dia lebih berharap agar petugas ketertiban seperti Satpol PP bisa lebih ramah, jika memang ditugaskan atasan untuk menertibkan dirinya yang sedang berjualan. &quot;Ya kita menghargai kalau ada tamu seperti kalau disuruh sama pak polisi, kalau disuruh minggir dulu bang, ya kita minggir,&quot; harapnya. Bicara soal cita-cita, Hadi mengaku sudah mengubur dalam-dalam mimpinya sejak lama. Kini dia hanya bercita-cita agar bisa menghasilkan banyak uang yang bermanfaat untuk keluarganya. Sama dengan suami lainnya, Hadi pun sering mendapat keluhan dari sang isteri kalau dagangannya cuma laku sedikit. Tapi, dia bersyukur isterinya bisa mengerti dan memahami risiko berdagang di jalan.&quot;Beruntung tinggal sama mertua. Maunya sih tinggal sediri, tapi mertua nggak mau ditinggal anaknya,&quot; tuntas pria bercelana pendek itu. Mungkin hanya di Jakarta yang ada pedagang dengan gerobak berjualan di jalur cepat. Padahal meski dalam kondisi mecet, tetap saja hal ini berbahaya. (ydh)</description><content:encoded>RATUSAN kendaraan berbaris rapi sepanjang jalur cepat Jalan Hajjah Rangkayo  Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat sore menjelang petang. Beberapa polisi terlihat sibuk mengatur arus lalu lintas yang padat, merayap, dan sesekali tersendat, terutama di putaran u-turn atau akses dari lajur lambat ke lajur cepat.Jalan ini memang terkategori sibuk pada jam berangkat dan pulang bekerja, selain Jalan Husni Thamrin dan Sudirman. Pagi hari mengular kendaraan dari arah Mampang menuju Menteng dan sebaliknya pada sore hari.Terlebih, Jumat menjelang akhir pekan. Pemakai jalan, terutama roda empat, seperti berlomba-lomba pulang lebih cepat. Sampai-sampai dua lajur jalan yang terbilang lebar ini sesak dipenuhi kendaraan.Kendaraan roda empat tentunya. Sebab jalur cepat hanya diperuntukkan bagi kendaraan beroda empat atau lebih. Terkecuali, gerobak putih yang sering terselip di antara barisan kendaraan. Ya. Dia adalah penjaja Bakpau dengan gerobak yang memanfaatkan macet untuk mengais rejeki.&quot;Dua Pak yang isi daging,&quot; teriak seorang pengendara mobil.Pria sepertiga abad yang mengenakan topi hitam ini pun langsung membungkus pesanan pengemudi Avanza itu lalu berlari kecil mengantarkan bungkusan. Tak lama berselang pengendara mobil mengeluarkan uang Rp10 ribu, lalu dimasukkan ke tas pinggang kusamnya. &quot;Alhamdulillah,&quot; gumamnya.Meski dikepung ratusan kendaraan, Hadi (34) tak lantas menjadi ciut nyali untuk menjajakan dagangannya.&amp;nbsp; Bahkan kemacetan dianggapnya sebagai berkah. Hadi mengaku telah berjualan Bakpao sejak 15 tahun silam. Dia tidak pernah kehilangan semangat untuk menjajakan bakpao aneka rasa, yakni cokelat, daging dan kacang ijo. &quot;Mulainya jam setengah lima sore, kalau lancar sampai jam delapan lah,&quot; cetus Hadi sambil memasukan dua bakpao daging ke kantong plastik. Pria asal Banten itu sadar berjualan di jalur cepat  sangat berisiko. Namun hal itu terpaksa dilakukan untuk menghidupi isteri dan empat orang anaknya.Suami dari Hartati (27) ini menceritakan, setiap hari rata-rata dia mampu mengantongi keuntungan bersih Rp50 ribu per hari. Pasalnya, bakpao yang dijualnya bukan buatan sendiri, melainkan harus membeli ke agen dengan modal Rp3.000 per buah. Sedangkan Hadi menjual bakpao Rp5.000 per buah. &quot;Sehari bisa dapet Rp50 ribu- 60 ribu, kadang ada pembeli yang memberikan kembalian lebih, ya Alhamdulillah,&quot; kisahnya. Kumandang Adzan Magrib bergema. Hadi terus menbolak-balikan bakpao yang sedang dikukus dalam panci. Sesekali-kali dia berteriak menawarkan barang dagangannya.&quot;Bakpao..bakpao silakan masih panas,&quot; teriaknya dengan berharap ada yang membeli. Berjualan di tengah jalan, diakui Hadi, memang penuh tantangan. Sebab dia harus 'kucing-kucingan' dengan petugas Satuan Polisi Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang kerap menertibkan barang dagangannya. &quot;Trantib sering razia terus dikandangin nanti minta tebus,&quot; ingatnya. Ketika ditanya, apakah tertarik dengan program Gubernur Joko Widodo (Jokowi) yang berencana membangun pasar khusus pedagang kaki lima (PKL)? Pria berperawakan tambun ini terlihat tidak antusias. Menurutnya, jualan bakpao tidak bisa dilakukan di pasar. &quot;Itu mah urusan yang di pasar-pasar, kalau kita kan enggak. Kalau bakpao kayak gini kan enggak susah gesernya, di pasar kan enggak laku,&quot; keluhnya. Ketimbang pindah ke pasar, dia lebih berharap agar petugas ketertiban seperti Satpol PP bisa lebih ramah, jika memang ditugaskan atasan untuk menertibkan dirinya yang sedang berjualan. &quot;Ya kita menghargai kalau ada tamu seperti kalau disuruh sama pak polisi, kalau disuruh minggir dulu bang, ya kita minggir,&quot; harapnya. Bicara soal cita-cita, Hadi mengaku sudah mengubur dalam-dalam mimpinya sejak lama. Kini dia hanya bercita-cita agar bisa menghasilkan banyak uang yang bermanfaat untuk keluarganya. Sama dengan suami lainnya, Hadi pun sering mendapat keluhan dari sang isteri kalau dagangannya cuma laku sedikit. Tapi, dia bersyukur isterinya bisa mengerti dan memahami risiko berdagang di jalan.&quot;Beruntung tinggal sama mertua. Maunya sih tinggal sediri, tapi mertua nggak mau ditinggal anaknya,&quot; tuntas pria bercelana pendek itu. Mungkin hanya di Jakarta yang ada pedagang dengan gerobak berjualan di jalur cepat. Padahal meski dalam kondisi mecet, tetap saja hal ini berbahaya. (ydh)</content:encoded></item></channel></rss>
