<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Myanmar Kesal Biksu Penebar Teror Jadi Sampul Majalah Time</title><description>Myanmar bereaksi keras atas artikel Majalah Time yang menampilkan  artikel mengenai biksu radikal setempat yang dituduh memicu terjadi  kekerasan Anti-Muslim.</description><link>https://news.okezone.com/read/2013/06/25/411/827375/myanmar-kesal-biksu-penebar-teror-jadi-sampul-majalah-time</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2013/06/25/411/827375/myanmar-kesal-biksu-penebar-teror-jadi-sampul-majalah-time"/><item><title>Myanmar Kesal Biksu Penebar Teror Jadi Sampul Majalah Time</title><link>https://news.okezone.com/read/2013/06/25/411/827375/myanmar-kesal-biksu-penebar-teror-jadi-sampul-majalah-time</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2013/06/25/411/827375/myanmar-kesal-biksu-penebar-teror-jadi-sampul-majalah-time</guid><pubDate>Selasa 25 Juni 2013 15:53 WIB</pubDate><dc:creator>Fajar Nugraha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/06/25/411/827375/EWzpQo33PU.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sampul majalah Time (Foto: AFP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/06/25/411/827375/EWzpQo33PU.jpg</image><title>Sampul majalah Time (Foto: AFP)</title></images><description>YANGON - Myanmar bereaksi keras atas artikel Majalah Time yang menampilkan artikel mengenai biksu radikal setempat yang dituduh memicu terjadi kekerasan Anti-Muslim. Majalah Time edisi Juli itu memaparkan judul &quot;The Face of Buddhist Terror&quot; atau dalam bahasa Indonesia berarti &quot;Wajah Teroris&quot;. Foto yang digunakan oleh Time adalah Biksu Wirathu yang dikenal dengan seruan-seruan anti-Muslim.&quot;Laporan dari (Majalah) Time menciptakan kesalahapahaman atas Budha yang sudah tumbuh sejak ribuan tahun dan menjadi agama sebagian besar dari warga kami,&quot; ujar pernyataan website Kepresidenan Myanmar, seperti dikutip The Nation, Selasa (25/6/2013).&quot;Pemerintah saat ini berupaya keras untuk membangun dialog dengan pemimpin agama, partai politik, media dan rakyat untuk mengatasi konflik yang tidak diinginkan,&quot; lanjutnya.Menurut pihak Kepresidenan Myanmar, masalah agama seharusnya bisa diperlakukan secara terhormat oleh pihak media. Alhasil, sampul yang dimuat oleh Time memicu kecaman dari banyak pihak di Myanmar.Sebuah petisi online disebar selama akhir pekan lalu untuk mengecam Time. Hingga Senin 24 Juni, sekira 40 ribu nama sudah menandatangani petisi tersebut. &quot;Penggunaan kata &quot;Buddhist&quot; dan &quot;Terror&quot; telah membuat kecewa seluruh umat Budha yang dikenal sebagai cinta damai dan bukan teroris,&quot; pesan dari petisi tersebut.Tahun lalu, kerusuhan komunal terjadi di wilayah Rakhine, Myanmar. Sebagian besar etnis Muslim Myanmar menjadi korban dalam kerusuhan yang menewaskan lebih dari 100 jiwa tersebut.Wirathu selama ini menjadi sosok perlawanan warga Myanmar terhadap warga Muslim Myanmar yang menjadi minoritas di negara itu. Dirinya mendesak diterapkan aturan mengeenai pembatasan pernikahan antara perempuan dan laki-laki Budha dengan calon yang bukan seagama.</description><content:encoded>YANGON - Myanmar bereaksi keras atas artikel Majalah Time yang menampilkan artikel mengenai biksu radikal setempat yang dituduh memicu terjadi kekerasan Anti-Muslim. Majalah Time edisi Juli itu memaparkan judul &quot;The Face of Buddhist Terror&quot; atau dalam bahasa Indonesia berarti &quot;Wajah Teroris&quot;. Foto yang digunakan oleh Time adalah Biksu Wirathu yang dikenal dengan seruan-seruan anti-Muslim.&quot;Laporan dari (Majalah) Time menciptakan kesalahapahaman atas Budha yang sudah tumbuh sejak ribuan tahun dan menjadi agama sebagian besar dari warga kami,&quot; ujar pernyataan website Kepresidenan Myanmar, seperti dikutip The Nation, Selasa (25/6/2013).&quot;Pemerintah saat ini berupaya keras untuk membangun dialog dengan pemimpin agama, partai politik, media dan rakyat untuk mengatasi konflik yang tidak diinginkan,&quot; lanjutnya.Menurut pihak Kepresidenan Myanmar, masalah agama seharusnya bisa diperlakukan secara terhormat oleh pihak media. Alhasil, sampul yang dimuat oleh Time memicu kecaman dari banyak pihak di Myanmar.Sebuah petisi online disebar selama akhir pekan lalu untuk mengecam Time. Hingga Senin 24 Juni, sekira 40 ribu nama sudah menandatangani petisi tersebut. &quot;Penggunaan kata &quot;Buddhist&quot; dan &quot;Terror&quot; telah membuat kecewa seluruh umat Budha yang dikenal sebagai cinta damai dan bukan teroris,&quot; pesan dari petisi tersebut.Tahun lalu, kerusuhan komunal terjadi di wilayah Rakhine, Myanmar. Sebagian besar etnis Muslim Myanmar menjadi korban dalam kerusuhan yang menewaskan lebih dari 100 jiwa tersebut.Wirathu selama ini menjadi sosok perlawanan warga Myanmar terhadap warga Muslim Myanmar yang menjadi minoritas di negara itu. Dirinya mendesak diterapkan aturan mengeenai pembatasan pernikahan antara perempuan dan laki-laki Budha dengan calon yang bukan seagama.</content:encoded></item></channel></rss>
