<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Nyaris Terusir dari KRL Gara-Gara Burung</title><description>Cerita bermula saat sang penumpang yang baru turun dari KRL jurusan  Depok-Tanah Abang transit dan berpindah dari jalur 5 menuju jalur 4.</description><link>https://news.okezone.com/read/2013/09/01/500/858954/nyaris-terusir-dari-krl-gara-gara-burung</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2013/09/01/500/858954/nyaris-terusir-dari-krl-gara-gara-burung"/><item><title>Nyaris Terusir dari KRL Gara-Gara Burung</title><link>https://news.okezone.com/read/2013/09/01/500/858954/nyaris-terusir-dari-krl-gara-gara-burung</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2013/09/01/500/858954/nyaris-terusir-dari-krl-gara-gara-burung</guid><pubDate>Minggu 01 September 2013 15:37 WIB</pubDate><dc:creator>Muhammad Saifullah </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/09/01/500/858954/HmYPei8EPf.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/09/01/500/858954/HmYPei8EPf.jpg</image><title>Ilustrasi (Dok Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Gara-gara seekor burung, seorang penumpang KRL nyaris terusir dari Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan. Cerita bermula saat sang penumpang yang baru turun dari KRL jurusan Depok-Tanah Abang transit dan berpindah dari jalur 5 menuju jalur 4.
&amp;nbsp;
Saat menunggu KRL jurusan Bekasi di tempat duduk di peron, dia di tegur salah seorang petugas bernama Rico Pradesta. Sang petugas mengingatkan bahwa ada larangan membawa hewan di dalam KRL. &amp;ldquo;Aturannya begitu pak, dilarang bawa hewan apa pun. Sepeda pun sekarang sudah dilarang naik KRL,&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;nbsp;
Sikap tidak mau mengalah sang penumpang, memunculkan perdebatan di antara keduanya. Tak ayal situasi ini memancing perhatian penumpang lainnya. &amp;ldquo;Saya sudah lama gak naik kereta. Toh kalau dilarang kenapa pas saya naik dari Stasiun Depok Lama diperbolehkan,&amp;rdquo; jawab pria berusia 35-an tahun yang memakai topi tersebut.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Tetap saja gak bisa pak, aturannya begitu. Bapak silakan menukarkan tiketnya dan menggunakan angkutan lain. Daripada nanti di atas kereta didenda Rp50 ribu,&amp;rdquo; balas sang petugas tidak kalah sengitnya.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Gak papa dech, biar didenda saja. Sudah terlanjur beli tiket dan tujuan saya jauh, Bekasi.&amp;rdquo;
&amp;nbsp;
Perdebatan akhirnya mereda setelah Rico memanggil rekannya, Muhammad S. Petugas yang kedua ini lantas meminta sang penumpang menunjukkan tiket dan struk pembelian. &amp;ldquo;Besok gak boleh lagi ya,&amp;rdquo; singkat Muhammad sambil mengembalikan kembali tiket yang sudah diperiksa.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Iya, maaf pak,&amp;rdquo; jawab sang penumpang yang tetap memegangi sangkar berisi seekor burung Lovebird tersebut.
&amp;nbsp;
Kepada Okezone, sang penumpang yang tidak bersedia menyebutkan namanya tersebut mengaku benar-benar tak tahu ada aturan dilarang membawa burung. Setahu dia, larangan berlaku untuk membawa hewan berukuran besar.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Kalau anjing saya tahu memang dilarang naik KRL. Tahu begitu, tadi saya tidak membawa sangkar. Tinggal dimasukin kotak saja, kan burung Lovebird tidak gampang stres,&amp;rdquo; ungkapnya.
&amp;nbsp;
Tak lama berselang, KRL jurusan Bekasi pun masuk di jalur 4. Sang penumpang tersebut lantas berpamitan karena harus segera masuk ke dalam kereta sambil menenteng sangkar berisi burung kesayangan.
&amp;nbsp;
Cerita dari kereta tak hanya berkutat soal burung. Di Stasiun Pasar Minggu Okezone sempat melihat salah seorang petugas berupaya menyuap petugas dengan duit Rp2.000 agar diperbolehkan melewati gate masuk. Modus sang calon penumpang dengan cara melakukan tapping kartu single trip. Namun, karena saldo belum terisi maka dia gate tidak terbuka. Tak banyak perbincangan yang dipertontonkan, sang calon penumpang langsung menyodorkan uang Rp2.000 kepada petugas yang berjaga di-gate. &amp;ldquo;Dua ribu aje ya bang, nitip,&amp;rdquo; ujarnya.&amp;nbsp; &amp;ldquo;Maaf bang, beli tiketnya di sana,&amp;rdquo; jawab sang petugas sambil menunjukkan antrean panjang di depan loket.
&amp;nbsp;
Keluhan dari penumpang KRL juga terus berdatangan, meski pihak operator mengklaim pelayanan sudah semakin membaik. Seperti yang diutarakan Indah Wulandari yang sering menggunakan jasa bus Damri dari Bandara Soekarno-Hatta dan berniat melanjutkan perjalanan menggunakan KRL dari Stasiun Pasar Minggu.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Sopir busnya pasti nurunin penumpang di dekat pintu stasiun yang lama. Kan lumayan jalannya kalau sekarang setelah pintu yang lama ditutup. Moda transportasi umum memang begitu, hampir gak ada yang terintegrasi,&amp;rdquo; keluhnya.
&amp;nbsp;
Lontaran serupa juga digunakan pengguna KRL lainnya. Kali ini soal fasilitas pendukung di Stasiun Gondangdia. Setelah lapak para pedagang ditertibkan, akses pejalan kaki juga ditutup menggunakan seng. Alhasil para penumpang harus berjalan menyusuri pinggiran jalan sepanjang di depan Pasar Boplo dan bertarung dengan pengguna motor, mobil, dan angkutan umum. Sialnya lagi, di ujung jalan, pasti terdapat tumpukan sampah dengan bau menyengat. &amp;ldquo;Bau banget,&amp;rdquo; singkat salah seorang penumpang KRL, Stefanus Ugho Hindarto.
&amp;nbsp;
Situasi tidak nyaman juga terjadi di sepanjang jalan sisi timur yang seharusnya satu arah menuju Masjid Cut Meutia. Di sana, para pejalan kaki harus bersabar karena sering di klakson tukang ojek dan pengguna motor yang melawan arah. Sementara trotoar yang sedinya diperuntukkan bagi pejalan kaki, sudah dipenuhi pedagang kaki lima yang kembali bercokol pasca ditertibkan.</description><content:encoded>JAKARTA - Gara-gara seekor burung, seorang penumpang KRL nyaris terusir dari Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan. Cerita bermula saat sang penumpang yang baru turun dari KRL jurusan Depok-Tanah Abang transit dan berpindah dari jalur 5 menuju jalur 4.
&amp;nbsp;
Saat menunggu KRL jurusan Bekasi di tempat duduk di peron, dia di tegur salah seorang petugas bernama Rico Pradesta. Sang petugas mengingatkan bahwa ada larangan membawa hewan di dalam KRL. &amp;ldquo;Aturannya begitu pak, dilarang bawa hewan apa pun. Sepeda pun sekarang sudah dilarang naik KRL,&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;nbsp;
Sikap tidak mau mengalah sang penumpang, memunculkan perdebatan di antara keduanya. Tak ayal situasi ini memancing perhatian penumpang lainnya. &amp;ldquo;Saya sudah lama gak naik kereta. Toh kalau dilarang kenapa pas saya naik dari Stasiun Depok Lama diperbolehkan,&amp;rdquo; jawab pria berusia 35-an tahun yang memakai topi tersebut.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Tetap saja gak bisa pak, aturannya begitu. Bapak silakan menukarkan tiketnya dan menggunakan angkutan lain. Daripada nanti di atas kereta didenda Rp50 ribu,&amp;rdquo; balas sang petugas tidak kalah sengitnya.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Gak papa dech, biar didenda saja. Sudah terlanjur beli tiket dan tujuan saya jauh, Bekasi.&amp;rdquo;
&amp;nbsp;
Perdebatan akhirnya mereda setelah Rico memanggil rekannya, Muhammad S. Petugas yang kedua ini lantas meminta sang penumpang menunjukkan tiket dan struk pembelian. &amp;ldquo;Besok gak boleh lagi ya,&amp;rdquo; singkat Muhammad sambil mengembalikan kembali tiket yang sudah diperiksa.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Iya, maaf pak,&amp;rdquo; jawab sang penumpang yang tetap memegangi sangkar berisi seekor burung Lovebird tersebut.
&amp;nbsp;
Kepada Okezone, sang penumpang yang tidak bersedia menyebutkan namanya tersebut mengaku benar-benar tak tahu ada aturan dilarang membawa burung. Setahu dia, larangan berlaku untuk membawa hewan berukuran besar.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Kalau anjing saya tahu memang dilarang naik KRL. Tahu begitu, tadi saya tidak membawa sangkar. Tinggal dimasukin kotak saja, kan burung Lovebird tidak gampang stres,&amp;rdquo; ungkapnya.
&amp;nbsp;
Tak lama berselang, KRL jurusan Bekasi pun masuk di jalur 4. Sang penumpang tersebut lantas berpamitan karena harus segera masuk ke dalam kereta sambil menenteng sangkar berisi burung kesayangan.
&amp;nbsp;
Cerita dari kereta tak hanya berkutat soal burung. Di Stasiun Pasar Minggu Okezone sempat melihat salah seorang petugas berupaya menyuap petugas dengan duit Rp2.000 agar diperbolehkan melewati gate masuk. Modus sang calon penumpang dengan cara melakukan tapping kartu single trip. Namun, karena saldo belum terisi maka dia gate tidak terbuka. Tak banyak perbincangan yang dipertontonkan, sang calon penumpang langsung menyodorkan uang Rp2.000 kepada petugas yang berjaga di-gate. &amp;ldquo;Dua ribu aje ya bang, nitip,&amp;rdquo; ujarnya.&amp;nbsp; &amp;ldquo;Maaf bang, beli tiketnya di sana,&amp;rdquo; jawab sang petugas sambil menunjukkan antrean panjang di depan loket.
&amp;nbsp;
Keluhan dari penumpang KRL juga terus berdatangan, meski pihak operator mengklaim pelayanan sudah semakin membaik. Seperti yang diutarakan Indah Wulandari yang sering menggunakan jasa bus Damri dari Bandara Soekarno-Hatta dan berniat melanjutkan perjalanan menggunakan KRL dari Stasiun Pasar Minggu.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Sopir busnya pasti nurunin penumpang di dekat pintu stasiun yang lama. Kan lumayan jalannya kalau sekarang setelah pintu yang lama ditutup. Moda transportasi umum memang begitu, hampir gak ada yang terintegrasi,&amp;rdquo; keluhnya.
&amp;nbsp;
Lontaran serupa juga digunakan pengguna KRL lainnya. Kali ini soal fasilitas pendukung di Stasiun Gondangdia. Setelah lapak para pedagang ditertibkan, akses pejalan kaki juga ditutup menggunakan seng. Alhasil para penumpang harus berjalan menyusuri pinggiran jalan sepanjang di depan Pasar Boplo dan bertarung dengan pengguna motor, mobil, dan angkutan umum. Sialnya lagi, di ujung jalan, pasti terdapat tumpukan sampah dengan bau menyengat. &amp;ldquo;Bau banget,&amp;rdquo; singkat salah seorang penumpang KRL, Stefanus Ugho Hindarto.
&amp;nbsp;
Situasi tidak nyaman juga terjadi di sepanjang jalan sisi timur yang seharusnya satu arah menuju Masjid Cut Meutia. Di sana, para pejalan kaki harus bersabar karena sering di klakson tukang ojek dan pengguna motor yang melawan arah. Sementara trotoar yang sedinya diperuntukkan bagi pejalan kaki, sudah dipenuhi pedagang kaki lima yang kembali bercokol pasca ditertibkan.</content:encoded></item></channel></rss>
