<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ada Ratusan Titik Rawan Kebakaran di Gunung Lawu</title><description>Berbagai upaya pun dilakukan agar tidak terjadi kebakaran hutan seperti  2012 lalu. Dari total 10.000 hektare lahan, sekira 280 hektare di  antaranya mengalami kebakaran.</description><link>https://news.okezone.com/read/2013/09/09/511/863165/ada-ratusan-titik-rawan-kebakaran-di-gunung-lawu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2013/09/09/511/863165/ada-ratusan-titik-rawan-kebakaran-di-gunung-lawu"/><item><title>Ada Ratusan Titik Rawan Kebakaran di Gunung Lawu</title><link>https://news.okezone.com/read/2013/09/09/511/863165/ada-ratusan-titik-rawan-kebakaran-di-gunung-lawu</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2013/09/09/511/863165/ada-ratusan-titik-rawan-kebakaran-di-gunung-lawu</guid><pubDate>Senin 09 September 2013 17:03 WIB</pubDate><dc:creator>Bramantyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/09/09/511/863165/jLG5wXpHHK.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/09/09/511/863165/jLG5wXpHHK.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>SOLO - Perum Perhutani mendeteksi adanya ratusan titik rawan kebakaran di area hutan lindung Gunung Lawu, sepanjang musim kemarau tahun ini. Berbagai upaya pun dilakukan agar tidak terjadi kebakaran hutan seperti 2012 lalu. Dari total 10.000 hektare lahan, sekira 280 hektare di antaranya mengalami kebakaran.&amp;nbsp;Perum Perhutani KPH Surakarta sudah mendata enam Resort Pemangkuan Hutan (RPH) yang berpotensi. RPH tersebut yakni Nglerak, Banjarsari, Blumbang, Tlogo Dringo, Tambak dan Gunung Bromo. Pemantauan pun terus dilakukan.&quot;Sebab itulah harus dipantau terus untuk mengantisipasi kebakaran hutan,&quot; ujar Joni Andarhadi, Wakil Administrator Perum Perhutani KPH Surakarta kepada wartawan di ruang kerjanya, Senin (9/9/2013).Wilayah Lawu sebalah utara memiliki daerah terluas yang berpotensi terjadi kebakaran, yakni 20 petak dengan total luas lahan&amp;nbsp; mencapai 4.828,5 hektare. Sedangkan di wilayah selatan, daerah rawan terbakar ada di&amp;nbsp; Watu Kumpul (15 petak), Kuryo (18 titik) dan Plolor (17 petak).&quot;Ketika lahan yang&amp;nbsp; terbakar dulu, Perhutani sempat rugi sekitar Rp301 juta. Nominal itu dihitung dari kerusakan ekosistem sekitarnya,&quot; ungkap Joni.Sementara itu, Humas Perum Perhutani KPH Surakarta, Kusdaryono, mengaku, pihaknya telah memasang Citra Satelit yang terkoneksi dengan jaringan internet, untuk melacak dan mendeteksi bila adanya api. Alat tersebut sudah di pasang akhir tahun lalu di area hutan lindung.Kendati telah melakukan antisipasi, pihaknya tetap berharap tidak terjadi kebakaran hutan menyusul curah hujan lumayan tinggi dengan jangka waktu panjang sampai bulan Juli. &quot;Diharapkan bisa meminimalisir kebakaran hutan,&quot; ujarnya.</description><content:encoded>SOLO - Perum Perhutani mendeteksi adanya ratusan titik rawan kebakaran di area hutan lindung Gunung Lawu, sepanjang musim kemarau tahun ini. Berbagai upaya pun dilakukan agar tidak terjadi kebakaran hutan seperti 2012 lalu. Dari total 10.000 hektare lahan, sekira 280 hektare di antaranya mengalami kebakaran.&amp;nbsp;Perum Perhutani KPH Surakarta sudah mendata enam Resort Pemangkuan Hutan (RPH) yang berpotensi. RPH tersebut yakni Nglerak, Banjarsari, Blumbang, Tlogo Dringo, Tambak dan Gunung Bromo. Pemantauan pun terus dilakukan.&quot;Sebab itulah harus dipantau terus untuk mengantisipasi kebakaran hutan,&quot; ujar Joni Andarhadi, Wakil Administrator Perum Perhutani KPH Surakarta kepada wartawan di ruang kerjanya, Senin (9/9/2013).Wilayah Lawu sebalah utara memiliki daerah terluas yang berpotensi terjadi kebakaran, yakni 20 petak dengan total luas lahan&amp;nbsp; mencapai 4.828,5 hektare. Sedangkan di wilayah selatan, daerah rawan terbakar ada di&amp;nbsp; Watu Kumpul (15 petak), Kuryo (18 titik) dan Plolor (17 petak).&quot;Ketika lahan yang&amp;nbsp; terbakar dulu, Perhutani sempat rugi sekitar Rp301 juta. Nominal itu dihitung dari kerusakan ekosistem sekitarnya,&quot; ungkap Joni.Sementara itu, Humas Perum Perhutani KPH Surakarta, Kusdaryono, mengaku, pihaknya telah memasang Citra Satelit yang terkoneksi dengan jaringan internet, untuk melacak dan mendeteksi bila adanya api. Alat tersebut sudah di pasang akhir tahun lalu di area hutan lindung.Kendati telah melakukan antisipasi, pihaknya tetap berharap tidak terjadi kebakaran hutan menyusul curah hujan lumayan tinggi dengan jangka waktu panjang sampai bulan Juli. &quot;Diharapkan bisa meminimalisir kebakaran hutan,&quot; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
