<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pengamat: Ruhut &quot;Radio Rusak&quot; Demokrat</title><description>Gaya bicara dan teknik penyampaian komunikasi Ruhut Sitompul yang kerap  menjadi Juru Bicara Partai Demokrat, mendapat &quot;serangan&quot; dari Mantan  Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum.
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2013/11/11/339/894812/pengamat-ruhut-radio-rusak-demokrat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2013/11/11/339/894812/pengamat-ruhut-radio-rusak-demokrat"/><item><title>Pengamat: Ruhut &quot;Radio Rusak&quot; Demokrat</title><link>https://news.okezone.com/read/2013/11/11/339/894812/pengamat-ruhut-radio-rusak-demokrat</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2013/11/11/339/894812/pengamat-ruhut-radio-rusak-demokrat</guid><pubDate>Senin 11 November 2013 08:06 WIB</pubDate><dc:creator>Misbahol Munir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/11/11/339/894812/7Pj1Q7c9s5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ruhut Poltak Sitompul (Foto: Dok. Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/11/11/339/894812/7Pj1Q7c9s5.jpg</image><title>Ruhut Poltak Sitompul (Foto: Dok. Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Gaya bicara dan teknik penyampaian komunikasi Ruhut Sitompul yang kerap menjadi Juru Bicara Partai Demokrat, mendapat &quot;serangan&quot; dari Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
Anas menyebut, Ruhut yang terkesan ceplas-ceplos dalam berbicara bahkan kerap asal bunyi alias &quot;asbun&quot; dianggap Anas yang kini menggawangi Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) bisa merusak citra Partai Demokrat. Hampir disetiap kesempatan, Ruhut selalu mendiskreditkan Anas dan selalu menyampaikan puja-puji untuk Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
&amp;nbsp;
Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Ari Junaedi pun mengakui titik lemah strategi komunikasi di Demokrat memang terletak pada faktor Ruhut Sitompul. Persepsi masyarakat yang mendengarkan ucapan Ruhut yang kerap menjilat SBY identik dengan gaya Menteri Penerangan di era Soeharto, Harmoko. Semasa di Golkar dulu pun, Ruhut juga kerap menyangjung Akbar Tandjung dan takkala masih bergabung di organisasi Pemuda Pancasila, Ruhut juga selalu menghamba kepada Yorrys Raweyai dan Yapto Suryosumarno.
&amp;nbsp;
&quot;Herannya cara-cara berkomunikasi Ruhut yang kerap blunder dan tidak menguasai masalah, masih saja diberi ruang oleh Demokrat. Akibatnya persepsi masyarakat mengidentikkan gaya Ruhut yang berbeda dengan kesantunan SBY sangat bertolak belakang,&quot; kata Ari Juanedi kepada Okezone, Senin (11/11/2013).
&amp;nbsp;
Bahkan, kata dia, tegoran-tegorang yang disampaikan pendiri partai pun tidak digubris Ruhut. &quot;TB Silalahi disebut orang tua yang tidak tahu masalah, Nurhayati Asegaf dibilang mak lampir  maka Ruhut dikesankan memang sengaja dibiarkan berbicara untuk dan atas nama partai. Demokrat akan rugi jika tetap memperbolehkan Ruhut berbicara atas nama institusi partai,&quot; kata dia.
&amp;nbsp;
Pengajar di berbagai program pascasarjana ini berpendapat, masih banyak institusi kita termasuk partai-partai politik menunjuk atau tetap memberi ruang para juru bicara yang &quot;membabi buta&quot; membela ketua umum atau atasannya tanpa memperdulikan keterampilan berkomunikasi yang elegan dan benar.
&amp;nbsp;
&quot;Orang yang menjilat bahkan yang memuja-muji kerap dipercaya menjadi juru bicara partai. Padahal seorang spokes person partai haruslah sosok yang mengerti teknis berkomunikasi politik yang canggih. Era menjilat sudah usang di praktek komunikasi politik yang modern. Komunikasi juga membutuhkan vibrasi kebenaran dan vibrasi keteladanan. Sayangnya, itu tidak pernah dipikirkan oleh partai politik kita terlebih-lebih di Demokrat,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Gaya bicara dan teknik penyampaian komunikasi Ruhut Sitompul yang kerap menjadi Juru Bicara Partai Demokrat, mendapat &quot;serangan&quot; dari Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
Anas menyebut, Ruhut yang terkesan ceplas-ceplos dalam berbicara bahkan kerap asal bunyi alias &quot;asbun&quot; dianggap Anas yang kini menggawangi Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) bisa merusak citra Partai Demokrat. Hampir disetiap kesempatan, Ruhut selalu mendiskreditkan Anas dan selalu menyampaikan puja-puji untuk Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
&amp;nbsp;
Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Ari Junaedi pun mengakui titik lemah strategi komunikasi di Demokrat memang terletak pada faktor Ruhut Sitompul. Persepsi masyarakat yang mendengarkan ucapan Ruhut yang kerap menjilat SBY identik dengan gaya Menteri Penerangan di era Soeharto, Harmoko. Semasa di Golkar dulu pun, Ruhut juga kerap menyangjung Akbar Tandjung dan takkala masih bergabung di organisasi Pemuda Pancasila, Ruhut juga selalu menghamba kepada Yorrys Raweyai dan Yapto Suryosumarno.
&amp;nbsp;
&quot;Herannya cara-cara berkomunikasi Ruhut yang kerap blunder dan tidak menguasai masalah, masih saja diberi ruang oleh Demokrat. Akibatnya persepsi masyarakat mengidentikkan gaya Ruhut yang berbeda dengan kesantunan SBY sangat bertolak belakang,&quot; kata Ari Juanedi kepada Okezone, Senin (11/11/2013).
&amp;nbsp;
Bahkan, kata dia, tegoran-tegorang yang disampaikan pendiri partai pun tidak digubris Ruhut. &quot;TB Silalahi disebut orang tua yang tidak tahu masalah, Nurhayati Asegaf dibilang mak lampir  maka Ruhut dikesankan memang sengaja dibiarkan berbicara untuk dan atas nama partai. Demokrat akan rugi jika tetap memperbolehkan Ruhut berbicara atas nama institusi partai,&quot; kata dia.
&amp;nbsp;
Pengajar di berbagai program pascasarjana ini berpendapat, masih banyak institusi kita termasuk partai-partai politik menunjuk atau tetap memberi ruang para juru bicara yang &quot;membabi buta&quot; membela ketua umum atau atasannya tanpa memperdulikan keterampilan berkomunikasi yang elegan dan benar.
&amp;nbsp;
&quot;Orang yang menjilat bahkan yang memuja-muji kerap dipercaya menjadi juru bicara partai. Padahal seorang spokes person partai haruslah sosok yang mengerti teknis berkomunikasi politik yang canggih. Era menjilat sudah usang di praktek komunikasi politik yang modern. Komunikasi juga membutuhkan vibrasi kebenaran dan vibrasi keteladanan. Sayangnya, itu tidak pernah dipikirkan oleh partai politik kita terlebih-lebih di Demokrat,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
