<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Manfaatkan Kincir Angin untuk Olah Pertanian</title><description>Kawula muda kembali menunjukkan kreativitas mereka dalam menghasilkan  sumber energi alternatif. Sebanyak 31 karya tersebut dipamerkan pada  Kompetisi Kincir Angin Indonesia (KKAI) 2013 di Universitas Gadjah Mada  (UGM) Yogyakarta.</description><link>https://news.okezone.com/read/2013/12/02/373/906056/manfaatkan-kincir-angin-untuk-olah-pertanian</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2013/12/02/373/906056/manfaatkan-kincir-angin-untuk-olah-pertanian"/><item><title>Manfaatkan Kincir Angin untuk Olah Pertanian</title><link>https://news.okezone.com/read/2013/12/02/373/906056/manfaatkan-kincir-angin-untuk-olah-pertanian</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2013/12/02/373/906056/manfaatkan-kincir-angin-untuk-olah-pertanian</guid><pubDate>Senin 02 Desember 2013 17:51 WIB</pubDate><dc:creator>Margaret Puspitarini</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/12/02/373/906056/NdGjDBZm2n.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/12/02/373/906056/NdGjDBZm2n.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Kawula muda kembali menunjukkan kreativitas mereka dalam menghasilkan sumber energi alternatif. Sebanyak 31 karya tersebut dipamerkan pada Kompetisi Kincir Angin Indonesia (KKAI) 2013 di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Selama empat hari, kincir-kincir itu diuji kemampuannya dalam menghasilkan listrik.Desain yang ditampilkan oleh para peserta melalui kincir angin tersebut cukup beragam. Seperti yang dilakukan oleh tim Politeknik Manufaktur Astra Jakarta. Sang dosen pembimbing tim, yakni Harki Apri Yanto mengaku sengaja menampilkan kincir yang mirip radar deteksi cuaca.&quot;Model turbin kincir angin yang didesain tersebut dinamakan multiblade vertikal. Desain turbin angin ini sudah pernah dikembangkan peneliti Taiwan. Atas izin peneliti Taiwan tersebut, kami coba mengembangkannya di sini,&quot; tutur Harki, seperti disitat dari laman UGM, Senin (2/12/2013).Kincir tersebut menggunakan banyak baling-baling, sehingga bisa berputar meski dengan kecepatan angin 1,5 meter per detik. Namun begitu, untuk bisa menghasilkan energi listrik membutuhkan kecepatan angin 2,5 meter per detik. &quot;Jika anginnya berkecepatan 4-6 meter per detik bisa menghidupkan satu rumah dengan daya 500-600 watt,&quot; jelasnya.Dosen pembimbing dari tim MVAW itu mengatakan, dalam pembuatan kincir angin buatan mahasiswa diploma ini menghabiskan biaya sebesar Rp12 juta. Setelah beberapa kali dilakukan perbaikan dan dianggap optimal, kincir ini pun diikutsertakan dalam perlombaan.Rencananya, ujar Harki, kincir angin ini diaplikasikan untuk kegiatan pertanian. &quot;Kami akan sosialisasikan kincir ini untuk mengangkat air di lahan pertanian,&quot; imbuh Harki.Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UGM Suratman mengungkap, energi menjadi kebutuhan masyarakat global di masa mendatang. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di bidang energi di kalangan kaum muda merupakan salah satu faktor kunci dalam memenangkan kompetisi global.Dia menilai, agar pertumbuhan iptek di Tanah Air butuh dukungan dari berbagai pihak. &quot;Percepatan riset iptek yang lebih cepat perlu dilakukan dengan memperkuat pendanaan dan kebijakan terintegrasi antara akademisi,perguruan tinggi dan industri,&quot; kata Suratman.</description><content:encoded>JAKARTA - Kawula muda kembali menunjukkan kreativitas mereka dalam menghasilkan sumber energi alternatif. Sebanyak 31 karya tersebut dipamerkan pada Kompetisi Kincir Angin Indonesia (KKAI) 2013 di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Selama empat hari, kincir-kincir itu diuji kemampuannya dalam menghasilkan listrik.Desain yang ditampilkan oleh para peserta melalui kincir angin tersebut cukup beragam. Seperti yang dilakukan oleh tim Politeknik Manufaktur Astra Jakarta. Sang dosen pembimbing tim, yakni Harki Apri Yanto mengaku sengaja menampilkan kincir yang mirip radar deteksi cuaca.&quot;Model turbin kincir angin yang didesain tersebut dinamakan multiblade vertikal. Desain turbin angin ini sudah pernah dikembangkan peneliti Taiwan. Atas izin peneliti Taiwan tersebut, kami coba mengembangkannya di sini,&quot; tutur Harki, seperti disitat dari laman UGM, Senin (2/12/2013).Kincir tersebut menggunakan banyak baling-baling, sehingga bisa berputar meski dengan kecepatan angin 1,5 meter per detik. Namun begitu, untuk bisa menghasilkan energi listrik membutuhkan kecepatan angin 2,5 meter per detik. &quot;Jika anginnya berkecepatan 4-6 meter per detik bisa menghidupkan satu rumah dengan daya 500-600 watt,&quot; jelasnya.Dosen pembimbing dari tim MVAW itu mengatakan, dalam pembuatan kincir angin buatan mahasiswa diploma ini menghabiskan biaya sebesar Rp12 juta. Setelah beberapa kali dilakukan perbaikan dan dianggap optimal, kincir ini pun diikutsertakan dalam perlombaan.Rencananya, ujar Harki, kincir angin ini diaplikasikan untuk kegiatan pertanian. &quot;Kami akan sosialisasikan kincir ini untuk mengangkat air di lahan pertanian,&quot; imbuh Harki.Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UGM Suratman mengungkap, energi menjadi kebutuhan masyarakat global di masa mendatang. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di bidang energi di kalangan kaum muda merupakan salah satu faktor kunci dalam memenangkan kompetisi global.Dia menilai, agar pertumbuhan iptek di Tanah Air butuh dukungan dari berbagai pihak. &quot;Percepatan riset iptek yang lebih cepat perlu dilakukan dengan memperkuat pendanaan dan kebijakan terintegrasi antara akademisi,perguruan tinggi dan industri,&quot; kata Suratman.</content:encoded></item></channel></rss>
