<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gelar Pekan Kondom Nasional, Menkes Gagal Paham</title><description>Anggota Komisi IX dari Fraksi Golkar, Poempida Hidayatullah, menilai,  Pekan Kondom Nasional merupakan program yang jauh dari adat ketimuran  yang dikenal di Indonesia.
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2013/12/03/337/906421/gelar-pekan-kondom-nasional-menkes-gagal-paham</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2013/12/03/337/906421/gelar-pekan-kondom-nasional-menkes-gagal-paham"/><item><title>Gelar Pekan Kondom Nasional, Menkes Gagal Paham</title><link>https://news.okezone.com/read/2013/12/03/337/906421/gelar-pekan-kondom-nasional-menkes-gagal-paham</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2013/12/03/337/906421/gelar-pekan-kondom-nasional-menkes-gagal-paham</guid><pubDate>Selasa 03 Desember 2013 13:45 WIB</pubDate><dc:creator>Bagus Santosa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/12/03/337/906421/33kpb0xc95.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Poempida Hidayatullah (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/12/03/337/906421/33kpb0xc95.jpg</image><title>Poempida Hidayatullah (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Anggota Komisi IX dari Fraksi Golkar, Poempida Hidayatullah, menilai, Pekan Kondom Nasional merupakan program yang jauh dari adat ketimuran yang dikenal di Indonesia.
&amp;nbsp;
&quot;Kalau Kemenkes lanjut terus dengan program tersebut ya berarti memang Kemenkes sudah hilang sensitivitas adat dan gagal memahami budaya Indonesia dengan baik,&quot; kata Poempida dalam pesan singkatnya kepada wartawan, Jakarta, Selasa (3/12/2013).
&amp;nbsp;
Menurut Poempida, ada cara yang lebih baik dalam menyosialisasikan HIV/AIDS dibandingkan membagikan kondom gratis kepada masyarakat. Dia menekankan dengan
melakukan edukasi atau sosialisasi dalam konteks pencegahan AIDS/HIV yang berbasis pendidikan moral, serta menjunjung adat ketimuran yang sudah mulai pudar.
&amp;nbsp;
&quot;Kok ada nama suatu kegiatan nasional memakai kata kondom? Apa tidak ada bahasa yang lebih baik lagi dalam konteks masalah penanggulangan HIV/AIDS sekali pun,&quot; katanya.
&amp;nbsp;
Poempida menilai program tersebut hanya bersifat seremonial yang tidak memberikan makna apa-apa. &quot;Mengapa malah kondomnya yang ditekankan mengapa tidak ditekankan seperti misalnya Pekan Generasi Bebas HIV/AIDS?&quot; tanya Poempida.
&amp;nbsp;
Poempida mencium program tersebut merupakan program pesanan dari perusahaan kondom yang ada di Indonesia, pasalnya perusahaan tersebut mensponsori program tersebut.
&amp;nbsp;
&quot;Pertanyaannya apakah kondom memang satu-satunya cara atau obat untuk memberantas HIV/AIDS? Jadi sangat tidak kontekstual dan terkesan penuh dengan pesan sponsor pabrik kondom,&quot; tegasnya.
&amp;nbsp;
Lebih jauh, Poempida mengatakan pihaknya akan minta keterangan Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi untuk pertanggungjawaban program ini. Pertanggungjawaban ini, sambungnya, lebih menitikberatkan soal dana yang digunakan dalam program tersebut.
&amp;nbsp;
&quot;Ini kan menyangkut dana yang dipakai juga,&quot; tegasnya.
&amp;nbsp;</description><content:encoded>JAKARTA - Anggota Komisi IX dari Fraksi Golkar, Poempida Hidayatullah, menilai, Pekan Kondom Nasional merupakan program yang jauh dari adat ketimuran yang dikenal di Indonesia.
&amp;nbsp;
&quot;Kalau Kemenkes lanjut terus dengan program tersebut ya berarti memang Kemenkes sudah hilang sensitivitas adat dan gagal memahami budaya Indonesia dengan baik,&quot; kata Poempida dalam pesan singkatnya kepada wartawan, Jakarta, Selasa (3/12/2013).
&amp;nbsp;
Menurut Poempida, ada cara yang lebih baik dalam menyosialisasikan HIV/AIDS dibandingkan membagikan kondom gratis kepada masyarakat. Dia menekankan dengan
melakukan edukasi atau sosialisasi dalam konteks pencegahan AIDS/HIV yang berbasis pendidikan moral, serta menjunjung adat ketimuran yang sudah mulai pudar.
&amp;nbsp;
&quot;Kok ada nama suatu kegiatan nasional memakai kata kondom? Apa tidak ada bahasa yang lebih baik lagi dalam konteks masalah penanggulangan HIV/AIDS sekali pun,&quot; katanya.
&amp;nbsp;
Poempida menilai program tersebut hanya bersifat seremonial yang tidak memberikan makna apa-apa. &quot;Mengapa malah kondomnya yang ditekankan mengapa tidak ditekankan seperti misalnya Pekan Generasi Bebas HIV/AIDS?&quot; tanya Poempida.
&amp;nbsp;
Poempida mencium program tersebut merupakan program pesanan dari perusahaan kondom yang ada di Indonesia, pasalnya perusahaan tersebut mensponsori program tersebut.
&amp;nbsp;
&quot;Pertanyaannya apakah kondom memang satu-satunya cara atau obat untuk memberantas HIV/AIDS? Jadi sangat tidak kontekstual dan terkesan penuh dengan pesan sponsor pabrik kondom,&quot; tegasnya.
&amp;nbsp;
Lebih jauh, Poempida mengatakan pihaknya akan minta keterangan Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi untuk pertanggungjawaban program ini. Pertanggungjawaban ini, sambungnya, lebih menitikberatkan soal dana yang digunakan dalam program tersebut.
&amp;nbsp;
&quot;Ini kan menyangkut dana yang dipakai juga,&quot; tegasnya.
&amp;nbsp;</content:encoded></item></channel></rss>
